Tak selamanya teman memberikan nasihat-nasihat yang baik. Namun ada pula teman yang berperangai buruk,
yang dapat menyebabkan kita melanggar nilai-nilai dan norma-norma.
Bahkan ada sya’ir dari bahasa
Persia tentang memilih pertemanan.yang artinya “Teman yang jahat itu lebih
berbahya daripada ular berbisa. Karena teman yang yang jahat itu akan
menjerumuskan Anda ke dalam neraka Jahim. Oleh karena itu, bertemanlah dengan
orang-orang yang baik, karena ia dapat menyebabkan Anda masuk ke Surga.”.
Dan ada pepatah Suku Sunda,”Sabadung-badungna
santri, moal nepikeun sabadungna nu teu nyantri”. Yang artinya
senakal-nakalnya santri, tidak senakal orang yang tidak menyantri atau
mengaji. Kelakukan santri yang buruk
biasanya mereka banyak makan, banyak ngobrol ngaler-ngidul, banyak tidur,
mengghasab sandal temannya, dan juga merokok. Berbeda yang nakalnya dengan
orang yang bukan santri, misalnya membunuh, berjudi, berzinah, mabuk-mabukkan,
narkoba, tawuran dan sebagainya.
Sejak awal penulis di
pesantren, penulis sangat rajin mengaji dan sekolah, tak pernah bolos, dan
selalu menurut kepada guru-gurunya. Setiap subuh pagi selalu membangunkan
teman-temannya yang masih tertidur pulas. Juga tak pernah ketinggalan piket
bersama membersihkan halaman pesantren dan rumah guru. Hingga akhirnya pada
tahun 2011 penulis diberi penghargaan oleh pesantren sebagai santri teladan
putra dan satu-satunya santri putra yang mendapatkan tashih tahfidz Juz Amma.
Lima bulan kira-kira setelah
itu, ada beberapa teman penulis yang mengajak bermain sepak bola, hingga
akhirnya penulis menerima ajakan mereka. Seiring berjalannya waktu, penulis
akrab dengan mereka. Tapi hal yang tidak disukai oleh penulis terhadap mereka
adalah kebiasaan mereka yang suka merokok. Penulis pun sering ditawari rokok
tersebut oleh teman-teman, tapi penulis selalu menolaknya. Entah syetan dari
mana, hingga akhirnya penulis pun menerima satu batang rokok itu dan
menghisapnya. Akhirnya penulis mulai ketagihan yang semula hanya gratis yang
diberikan oleh teman-temannya kini penulis harus membeli dengan uangnya
sendiri. Tapi penulis tidak berani membeli rokok dengan uang yang diberikan
orang tua untuk bekal kebutuhan makanan selama satu bulan. Namun meskipun
demikian, penulis selalu mendapatkan rokok satu bungkus perminggunya dari warga
sekitar. Karena penulis selalu di undang warga sebagai pemimpin dalam acara
yasinan setiap malam jumat dari rumah ke rumah. Tak hanya itu, penulis juga
mendapatkan uang saku dan makanan yang cukup banyak untuk dibagikan kepada
teman-teman di kobong (Kamar tidur santri).
Menjelang pendaftaran MAN di
buka pada tahun 2013, dan setelah dinyatakan lulus dari MTS, penulis berniat
untuk mendaftar ke MAN. Akan tetapi yang membuat bingung penulis, yaitu jika
seandainya penulis melanjutkan sekolah MAN sambil mondok, maka akan
mengeluarkan biaya yang cukup besar. Akhirnya penulis memutuskan untuk
melanjutkan sekolah di MAN dan memutuskan berhenti mondok.
Lima tahun penulis mondok di
ponpes tersebut, kebiasaan buruk merokok yang baru satu tahun yang dilakukannya
belum juga berhenti. Hingga akhirnya penulis mulai bermukim di rumah dan pulang
pergi ke MAN pun dari rumah, meskipun demikian penulis masih tetap merokok.
Tapi penulis tak pernah meminta uang sepersen pun kepada orang tua untuk
membeli rokok. Karna warga sekitar di desa, khususnya di blok penulis. Mereka
antusias ketika ada acara tahlilan, selamatan, khitanan dan pernikahan. Penulis
selalu di undang dan ditunjuk sebagai pemimpin yang memandu acara tersebut. Dan
ketika hendak pulang ke rumah, tuan rumah suka memberi rokok beberapa bungkus,
uang, dan makanan.
No comments:
Post a Comment