Monday, April 29, 2019

9. TERBAWA ARUS PENYIMPANGAN


     Tak selamanya teman memberikan nasihat-nasihat yang baik. Namun ada pula teman yang berperangai buruk, yang dapat menyebabkan kita melanggar nilai-nilai dan norma-norma. 
Bahkan ada sya’ir dari bahasa Persia tentang memilih pertemanan.yang  artinya “Teman yang jahat itu lebih berbahya daripada ular berbisa. Karena teman yang yang jahat itu akan menjerumuskan Anda ke dalam neraka Jahim. Oleh karena itu, bertemanlah dengan orang-orang yang baik, karena ia dapat menyebabkan Anda masuk ke Surga.”.
Dan ada pepatah Suku Sunda,”Sabadung-badungna santri, moal nepikeun sabadungna nu teu nyantri”. Yang artinya senakal-nakalnya santri, tidak senakal orang yang tidak menyantri atau mengaji.    Kelakukan santri yang buruk biasanya mereka banyak makan, banyak ngobrol ngaler-ngidul, banyak tidur, mengghasab sandal temannya, dan juga merokok. Berbeda yang nakalnya dengan orang yang bukan santri, misalnya membunuh, berjudi, berzinah, mabuk-mabukkan, narkoba, tawuran dan sebagainya.
Sejak awal penulis di pesantren, penulis sangat rajin mengaji dan sekolah, tak pernah bolos, dan selalu menurut kepada guru-gurunya. Setiap subuh pagi selalu membangunkan teman-temannya yang masih tertidur pulas. Juga tak pernah ketinggalan piket bersama membersihkan halaman pesantren dan rumah guru. Hingga akhirnya pada tahun 2011 penulis diberi penghargaan oleh pesantren sebagai santri teladan putra dan satu-satunya santri putra yang mendapatkan tashih tahfidz Juz Amma.
Lima bulan kira-kira setelah itu, ada beberapa teman penulis yang mengajak bermain sepak bola, hingga akhirnya penulis menerima ajakan mereka. Seiring berjalannya waktu, penulis akrab dengan mereka. Tapi hal yang tidak disukai oleh penulis terhadap mereka adalah kebiasaan mereka yang suka merokok. Penulis pun sering ditawari rokok tersebut oleh teman-teman, tapi penulis selalu menolaknya. Entah syetan dari mana, hingga akhirnya penulis pun menerima satu batang rokok itu dan menghisapnya. Akhirnya penulis mulai ketagihan yang semula hanya gratis yang diberikan oleh teman-temannya kini penulis harus membeli dengan uangnya sendiri. Tapi penulis tidak berani membeli rokok dengan uang yang diberikan orang tua untuk bekal kebutuhan makanan selama satu bulan. Namun meskipun demikian, penulis selalu mendapatkan rokok satu bungkus perminggunya dari warga sekitar. Karena penulis selalu di undang warga sebagai pemimpin dalam acara yasinan setiap malam jumat dari rumah ke rumah. Tak hanya itu, penulis juga mendapatkan uang saku dan makanan yang cukup banyak untuk dibagikan kepada teman-teman di kobong (Kamar tidur santri).
Menjelang pendaftaran MAN di buka pada tahun 2013, dan setelah dinyatakan lulus dari MTS, penulis berniat untuk mendaftar ke MAN. Akan tetapi yang membuat bingung penulis, yaitu jika seandainya penulis melanjutkan sekolah MAN sambil mondok, maka akan mengeluarkan biaya yang cukup besar. Akhirnya penulis memutuskan untuk melanjutkan sekolah di MAN dan memutuskan berhenti mondok.
Lima tahun penulis mondok di ponpes tersebut, kebiasaan buruk merokok yang baru satu tahun yang dilakukannya belum juga berhenti. Hingga akhirnya penulis mulai bermukim di rumah dan pulang pergi ke MAN pun dari rumah, meskipun demikian penulis masih tetap merokok. Tapi penulis tak pernah meminta uang sepersen pun kepada orang tua untuk membeli rokok. Karna warga sekitar di desa, khususnya di blok penulis. Mereka antusias ketika ada acara tahlilan, selamatan, khitanan dan pernikahan. Penulis selalu di undang dan ditunjuk sebagai pemimpin yang memandu acara tersebut. Dan ketika hendak pulang ke rumah, tuan rumah suka memberi rokok beberapa bungkus, uang, dan makanan.

No comments:

Post a Comment

Keluarga Bahagia Rezeki Lancar

  Siapa yang tidak menginginkan keluarganya bahagia, pasti semua orang di dunia ini menginginkan dan mendamba-dambakan momen itu. Sebab dida...