Hamparan manusia memenuhi jalanan raya di
sekitar monas hingga istana Negara bak segerombolan semut yang amat banyak
sedang berkumpul menemukan sebuah makanan yang besar dan banyak. Hebohnya surat
al Maidah ayat 52 yang di lecehkan oleh Guberbur DKI, Basuki Cahya Purnama (Ahok)
yang pada saat berpidato di kepulaun seribu yang diapload di media sosial
membuat gempar pecah amarah barisan kaum Muslimin seantero Nusantara. Dari para
kiyai, para ustadz, tokoh masyarakat, ormas-ormas Islam, dan mahasiswa pun ikut
menuntut agar Ahok diproses dengan hukum karena telah mencemar nama baik kitab
Umat Islam.
Saat itu penulis bergerak di
bawah organisasi PUI (Persatuan Umat Islam) yang di komandoi oleh Dr. Engkos
Kosasih, seorang dekan Fakultas Ushuluddin juga di Universitas UIN Sunan Gunung
Djati Bandung. kala itu penulis masih semester 1 dan berangkat bersama anggota
PUI yang lainnya, dan bersama organisasi KAMMI. Kami semua berangkat dari
markas pusat PUI di Jawa Barat, tepatnya di Ujung Berung-Bandung. Ada 8 bus yang
di berangkatkan menuju Jakarta untuk Aksi Bela Islam. Saat itu dipimpin oleh
Kang Iman Budiman, seorang pemimpin di bagian kepengurusan Pemuda PUI Jawa
Barat.
Setelah sampai di Jakarta,
kami memasang strategi bagimana agar aksi bela islam 411 ini berjalan dengan
lancar tanpa adanya kekerasan dengan aparatur jajaran kepolisian dan TNI. Pertemuan kami di Jakarta, bukan hanya saja
dari ormas-ormas islam jabar saja, tetapi ormas-ormas dari pelosok Nusantara
pun hadir demi menegakkan hukum, bahwa penista agama harus di proses secara
hukum. Gema suara bergerumuh takbir dan banyak yang orator di depan istana
Negara. Dari PUI menciptakan yel-yel dengan nada lagu cikcak di dinding. “Tangkap,tangkap, tangkap si Ahook, tangkap
si ahok sekarang juga..”. Selain
itu ternyata ada beberapa puluh orang yang memprovokasi dari kalangan
oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Mereka menginjak-injak taman istana
Negara. Hingga akhirnya jajaran kepolisian dan TNI membubarkan dengan cara
paksa. Kemudian aksi tersebut langsung diliput oleh salahsatu stasiun televisi
yaitu metro tv. Bahwasanya aksi bela islam telah melanggar tata tertib demonstrasi, yaitu menginjak-injak tanaman
sepanjang jalanan hingga sampai istana Negara tidak hanya itu, metro tv juga
menginformasikan bahwa masa yang ikut demontrasi hanya beberapa ribu saja,
padahal jumlahnya banyak hingga jutaan. Saat itu juga kami dari ormas PUI
membuat yel-yel metro tv jadi metro tivu .
Setelah aksi selesai dan
keesokan harinya penulis mulai masuk kampus seperti biasa, tiba-tiba bertemu dengan
dosen Ilmu Hadits (Bu Dadah), “Kemana kamu kemarin tidak ikut ulangan pelajaran
saya?”, Ujarnya.
“Maaf Bu sebelumnya, kemarin
saya ikut aksi bela Islam ke Jakarta.”, jawab penulis (dengan deg-degan).
“Oooh ikut aksi… ooh
bagus-bagus. Meskipun kamu tak ikut ulangan pelajaran saya, nilai kamu sudah
A.” (tambah dosen).
“Alhamdulillah,, terimakasih
bu”, (merasa lega dengan mengusap dada).
No comments:
Post a Comment