Suatu ketika, sebelum menjelang waktu dzuhur
tiba, penulis sedang bermain di halaman rumah nenek yang letak rumahnya tidak
jauh sekitar 100 meter dari rumah penulis sendiri. Penulis kagum melihat
rombongan anak-anak sebayanya yang terdiri dari laki-laki dan perempuan. Mereka
mengenakan pakaian rapi, ada yang memakai sarung dan peci ada juga yang memakai
jilbab dan mukena. Tak hanya itu mereka juga membawa buku Iqro dan ada juga
yang membawa al qur’an ditangan mereka. Penulis penasaran, dan menanyakan mereka
mau hendak kemana. Salah satu dari mereka menjawab, bahwa mereka akan pergi ke
musholah yang letaknya tidak jauh dari rumah nenek. Mereka ingin mengaji,
menimba ilmu kepada Kiyai Azam, ia adalah ustadz muda yang baru lulus mondok, ia lulusan dari pondok pesantren Miftahul
Muta’alimin, yaitu salah satu pondok pesantren salafi yang letaknya tidak
terlalu jauh dari daerah tempat penulis tinggal, Yaitu di Desa Pangkalan, Kec.
Ciawigebang, Kab. Kuningan. Akhirnya Penulis pun tertarik dan ikut mereka untuk
mengaji dengan mengenakan kaos Scooby doo dan celana pendak bercorak
kotak-kotak, karena belum ada persiapan sebelumnya. Kala itu penulis baru Iqro
satu. Seiring berjalannya waktu akhirnya penulis naik ke Iqro dua.
Ustadz azam mengajar kami
dengan penuh perhatian dan kesabaran, ustadz Azam juga tidak hanya mengajarkan
Iqro saja, tapi ia juga mengajarkan ilmu akhlak, ia pernah mengatakan “Anak
yang soleh/ sholihah adalah tabungan surga bagi orang tuanya.” Dari sinilah, penulis mulai tertarik dengan
ilmu-ilmu keagamaan. dan setiap penulis berbicara, selalu dikaitkan dengan
nila-nilai keagamaan.
No comments:
Post a Comment