Seusai menamatkan pendidikan SD, penulis tidak
melanjutkannya ke jenjang SMP, tetapi melanjutkan pendidikannya ke salahsatu
pesantren salafi, dan miftahul muta’aliminlah nama pondok pesantren itu.
Sabtu sore, tanggal 29
November 2008 penulis berangkat ke pondok dan mendaftar menjadi santri baru
disana. Ibulah yang mengantar penulis ke pesantren, karena pada saat itu ayah
sedang sakit keras di rumah.
Semiliwir
angin begitu sejuknya diwaktu sore setelah ashar itu, sampailah penulis bersama
ibu di gerbang pintu utama pondok pesantren. suasana yang amat damai, sejuk dan
ramai dengan gemuruh suara para santri yang sedang sibuk menghafal al-Qur’an,
nadzom imrity, nadzom maqshud, nadzom al fiyah dan tasrifan. Membuat penulis
semangat, tak sabar untuk ikut mengaji bersama mereka. Dari desa yang sama,
penulis mempunyai teman yang satu angkatan ketika di SD. Mereka bernama Eman
dan Qous. Tetapi mereka sudah mondok duluan, 2 bulan sebelum penulis mulai
mendaftar di pondok tersebut mereka sudah mendaftar.
Setiap
sore setelah sholat ashar dan sebelum mengaji pukul 17.00 WIB. Kami bertiga dan
teman-teman yang lainnya suka mandi bersama di balong (kolam) punya
warga sekitar, yang letaknya tidak jauh dari pondok. Hanya mengenakan celana
pendek dan sarung kami mandi disana. Kolam itu selain suka di pakai untuk
mandi, dipakai juga untuk mencuci pakaian bagi warga sekitar dan para santri.
Bercanda bersama sudah menjadi kebiasaan kami di pondok. Tak lama kemudian, air
dikolam itu pun menjadi keruh, berwarna kehitaman dan ikan-ikan didalamnya pada
mabuk, itu semua karena ulah kami berenang kesana-kemari.
Selang beberapa menit, Tiba-tiba
ada seorang warga yang hendak mau mencuci pakaian. Dan pada saat melihat kolam
berwarna kehitaman, warga itu mengambil sebatang bambu, tujuannya untuk memukul
kami. kami semua di marahi, tetapi kami pun langsung berlari terbirit-birit. Sehingga
ada di antara teman penulis yang tertingal sendalnya, handuknya, sarungnya dan
bahkan celananya.
Padatnya jadwal belajar di
pondok membuat penulis tak merasa capek sedikitpun, yang ada hanya semangat.
Biasanya setelah subuh penulis mengaji tafsir Jalalain, pukul 07.00 s/d 09.00
Kitab sittin mas alah dan kitab Bajuri Ibn Qosim, setelah dzuhur hingga ashar
mengaji kitab I’a nathuthalibiin, setelah ashar mengkaji kitab Jurmiyah dan
Imriti, setelah magrib mengkaji Qiro aati dan kitab uraian hafalan ghoriib,
setelah isya mengkaji kitab nadzom maqshud dan kitab badi’uz zuhur.
Penulis selain dikenal
sebagai santri pendiam, penurut dan hormat kepada para guru, menurut penilaian
orang-orang bahwa penulis berwajah tampan, berhidung mancung dan berkulit
putih. Makanya tak heran banyak santri wati yang menaruh suka dan bahkan ada
yang mencintai penulis. Memang mereka adalah santri yang terbilang
cantik-cantik, dan bahkan ada anak seorang kiyai yang suka kepada penulis. Tapi
semuanya penulis hiraukan, karena belumlah cukup usia dan pada saat itu baru
berusia 13 hingga 18 tahun.
Pernah suatu ketika penulis
mengaji kepada salah satu guru di pondok tersebut. Pada saat itu pembahasan
kitab tentang a’lamatul mar’atus sholihah (Ciri-ciri wanita solehah). Beliau
menceritakan tentang pengalaman bercintanya dengan seorang anak kiyai. Beliau
mengungkapkan cintanya dengan membuat pantun pendek dengan berbahasa sunda.
“Sayur leukoh, seungit cabe.
Seurina kabogoh emut bae”.
Yang artinya sayur lekoh harum cabe, senyumnya
kekasih, inget terus.
Saat
penulis mengaji, bahasa jawa adalah bahasa yang di gunakan untuk
melughot/mengartikan kitab-kitab kuning. Beberapa kitab kuning yang telah
penulis kaji yaitu : safinatunajah, sulam munajat, sulam taufik, tijan darori,
bahjatul wasail, nurudzolam, daqo iqul akhbar, riyadul badiyah, ta’lim
muta’alim, akhlaq qulubanin, sittin mas alah, jurmiyah, imriti, nadzom maqshud,
matan bina, tashrif, bajuri Ibn Qosim, qomi’ uthugiyan, fathul mu’in, fathul
majid, fathul qorib, kifayatul awam, majalisus saniyah, minahusaniyyah,
mukhtarol hadits, jawahirul bukhori, jawa hirul kalamiyah, qothrul ghaits,
badi’uz zuhur, tanqih qoul, arbain nawawi, tafsir jalalin, taqrib, washoya
rosuul, qurotul uyyun, dan I’anatut thalibin.
Selang
dua tahun kemudian penulis baru masuk mendaftar masuk sekolah MTS Fatahilah,
desa pangkalan-kec.Cipicung Kab.Kuningan. disinilah dua peran tugas utama
belajar. Pelajaran pondok dan pelajaran sekolah. Tapi meskipun demikian enjoy
saja bagi penulis. Kebersamaan di pesantren seperti keluarga sendiri, ngeliwet,
masak dan makan bersama hanya beralaskan daun pisang. Nikmat hanya terasa,
walupun makan seadanya garam dan cabai saja. Dan kami hidup di pesantren tidak
pernah mengeluh. Sedikit bekal, tapi pandai bersyukur.
No comments:
Post a Comment