Monday, April 29, 2019

8. PESANTREN SALAFY


     Seusai menamatkan pendidikan SD, penulis tidak melanjutkannya ke jenjang SMP, tetapi melanjutkan pendidikannya ke salahsatu pesantren salafi, dan miftahul muta’aliminlah nama pondok pesantren itu.
Sabtu sore, tanggal 29 November 2008 penulis berangkat ke pondok dan mendaftar menjadi santri baru disana. Ibulah yang mengantar penulis ke pesantren, karena pada saat itu ayah sedang sakit keras di rumah.
            Semiliwir angin begitu sejuknya diwaktu sore setelah ashar itu, sampailah penulis bersama ibu di gerbang pintu utama pondok pesantren. suasana yang amat damai, sejuk dan ramai dengan gemuruh suara para santri yang sedang sibuk menghafal al-Qur’an, nadzom imrity, nadzom maqshud, nadzom al fiyah dan tasrifan. Membuat penulis semangat, tak sabar untuk ikut mengaji bersama mereka. Dari desa yang sama, penulis mempunyai teman yang satu angkatan ketika di SD. Mereka bernama Eman dan Qous. Tetapi mereka sudah mondok duluan, 2 bulan sebelum penulis mulai mendaftar di pondok tersebut mereka sudah mendaftar.
            Setiap sore setelah sholat ashar dan sebelum mengaji pukul 17.00 WIB. Kami bertiga dan teman-teman yang lainnya suka mandi bersama di balong (kolam) punya warga sekitar, yang letaknya tidak jauh dari pondok. Hanya mengenakan celana pendek dan sarung kami mandi disana. Kolam itu selain suka di pakai untuk mandi, dipakai juga untuk mencuci pakaian bagi warga sekitar dan para santri. Bercanda bersama sudah menjadi kebiasaan kami di pondok. Tak lama kemudian, air dikolam itu pun menjadi keruh, berwarna kehitaman dan ikan-ikan didalamnya pada mabuk, itu semua karena ulah kami berenang kesana-kemari.
Selang beberapa menit, Tiba-tiba ada seorang warga yang hendak mau mencuci pakaian. Dan pada saat melihat kolam berwarna kehitaman, warga itu mengambil sebatang bambu, tujuannya untuk memukul kami. kami semua di marahi, tetapi kami pun langsung berlari terbirit-birit. Sehingga ada di antara teman penulis yang tertingal sendalnya, handuknya, sarungnya dan bahkan celananya.
Padatnya jadwal belajar di pondok membuat penulis tak merasa capek sedikitpun, yang ada hanya semangat. Biasanya setelah subuh penulis mengaji tafsir Jalalain, pukul 07.00 s/d 09.00 Kitab sittin mas alah dan kitab Bajuri Ibn Qosim, setelah dzuhur hingga ashar mengaji kitab I’a nathuthalibiin, setelah ashar mengkaji kitab Jurmiyah dan Imriti, setelah magrib mengkaji Qiro aati dan kitab uraian hafalan ghoriib, setelah isya mengkaji kitab nadzom maqshud dan kitab badi’uz zuhur.
Penulis selain dikenal sebagai santri pendiam, penurut dan hormat kepada para guru, menurut penilaian orang-orang bahwa penulis berwajah tampan, berhidung mancung dan berkulit putih. Makanya tak heran banyak santri wati yang menaruh suka dan bahkan ada yang mencintai penulis. Memang mereka adalah santri yang terbilang cantik-cantik, dan bahkan ada anak seorang kiyai yang suka kepada penulis. Tapi semuanya penulis hiraukan, karena belumlah cukup usia dan pada saat itu baru berusia 13 hingga 18 tahun.
Pernah suatu ketika penulis mengaji kepada salah satu guru di pondok tersebut. Pada saat itu pembahasan kitab tentang a’lamatul mar’atus sholihah (Ciri-ciri wanita solehah). Beliau menceritakan tentang pengalaman bercintanya dengan seorang anak kiyai. Beliau mengungkapkan cintanya dengan membuat pantun pendek dengan berbahasa sunda.
“Sayur leukoh, seungit cabe.
Seurina kabogoh emut bae”.
Yang artinya sayur lekoh harum cabe, senyumnya kekasih, inget terus.
            Saat penulis mengaji, bahasa jawa adalah bahasa yang di gunakan untuk melughot/mengartikan kitab-kitab kuning. Beberapa kitab kuning yang telah penulis kaji yaitu : safinatunajah, sulam munajat, sulam taufik, tijan darori, bahjatul wasail, nurudzolam, daqo iqul akhbar, riyadul badiyah, ta’lim muta’alim, akhlaq qulubanin, sittin mas alah, jurmiyah, imriti, nadzom maqshud, matan bina, tashrif, bajuri Ibn Qosim, qomi’ uthugiyan, fathul mu’in, fathul majid, fathul qorib, kifayatul awam, majalisus saniyah, minahusaniyyah, mukhtarol hadits, jawahirul bukhori, jawa hirul kalamiyah, qothrul ghaits, badi’uz zuhur, tanqih qoul, arbain nawawi, tafsir jalalin, taqrib, washoya rosuul, qurotul uyyun, dan I’anatut thalibin.
            Selang dua tahun kemudian penulis baru masuk mendaftar masuk sekolah MTS Fatahilah, desa pangkalan-kec.Cipicung Kab.Kuningan. disinilah dua peran tugas utama belajar. Pelajaran pondok dan pelajaran sekolah. Tapi meskipun demikian enjoy saja bagi penulis. Kebersamaan di pesantren seperti keluarga sendiri, ngeliwet, masak dan makan bersama hanya beralaskan daun pisang. Nikmat hanya terasa, walupun makan seadanya garam dan cabai saja. Dan kami hidup di pesantren tidak pernah mengeluh. Sedikit bekal, tapi pandai bersyukur.

No comments:

Post a Comment

Keluarga Bahagia Rezeki Lancar

  Siapa yang tidak menginginkan keluarganya bahagia, pasti semua orang di dunia ini menginginkan dan mendamba-dambakan momen itu. Sebab dida...