Berdecak kagum nan riang gembira, senyum dan syukur tiada hingga, yang terpancar
dari wajah Sang Ayah dan Ibunda. Kakek dan nenek bersujud syukur penuh cinta.
Gema hamdalah terucap dari para tetangga.
Menyaksikan si buah hati, jagoan lucu dan imut merengek nangis yang
terlahir saat membuka mata menatap dunia.
Penulis lahir tepatnya pada
pukul 21.00 WIB, malam Sabtu, tanggal 17 Februari Tahun 1996 di Desa Cipicung
Kec. Cipicung Kab. Kuningan-Jawa Barat. Penulis terlahir dari pasangan Ayah
(yang bernama) Tardi dan Ibu (yang bernama) Wiwi. Orang tua penulis dari Ayah,
ia kelahiran dari Desa Cipicung Kec. Cipicung Kab. Kuningan-Jawa Barat,
sedangkan Ibu kelahiran dari Desa
Susukan, Kec. Cipicung, Kab. Kuningan-Jawa Barat. Dua desa tersebut saling
bertetanggaan, namun pada saat kedua kakek penulis masih hidup, kakek pernah
bercerita kepada penulis dengan bahasa sehari-hari kami yaitu bahasa sunda.
Kakek dari pihak Ibu pernah berkata kepada
penulis, “Ndan (sebutan penulis), baheula mah bapak Tardi jeung emih Wiwi
teh, keur nalika lengoh keneh (bujangan) teh ku abah di jodohkeun, sabab taneuh
abah Maryo (kakek dari pihak Ibu) jeung taneuh abah Haji Juhana (kakek dari
Ayah) tadina tatanggaan. Abah Maryo taneuhna Beulah bieu, taneuh abah Haji
Juhana gigireunna taneuh abah. Bakat sering pateupang, oge ngobrolkeun pun
putra-putri abah dugi jadi kana jodohna”.
Ayah menikah pada saat usia muda belia, yaitu
pada usia 18 tahun, sedangkan Ibu pada saat itu berusia 16 tahun. Dan Penulis sendiri
adalah anak ke-5 dari 8 bersaudara, 2 diantarnya laki-laki yaitu : Penulis
sendiri (anak ke 5) dan Ajid Dulmajid (anak ke 4) dan 5 lainnya perempuan yaitu
: Aan Nurhasanah (anak ke 1), Yuyun Ruyati (anak ke 2), Omah Nurhalimah (anak
ke 3), Desi Pujasari (anak ke 6) dan Neng Wati Rahmawati, bungsu (anak ke 7).
Sedangkan satu lainnya keguguran, dan pada saat itu Ibu dalam keadaan masih
hamil muda, berusia 2 minggu janin di kandungnya. Janin yang keguguran di rahim
ibu, yaitu antara sesudah ibu melahirkan penulis dan sebelum ibu mengandung
Desi.
Dari keempat saudara penulis
sudah menikah, Ceu (sebutan kakak bagi perempuan, bhs. Sunda) Aan
Nurhasanah yang kini sudah dikaruniai 4 orang anak, Ceu Yuyun Ruyati sudah
dikaruniai 3 orang anak, meninggal dunia 1 orang anak karena keguguran, Ceu
Omah Nurhalimah sudah dikaruniai 4 orang anak, meninggal dunia 2 orang anak,
dan Aa (sebutan kakak bagi laki-laki, bhs. Sunda) Ajid Dulmajid sudah
dikaruniai seorang anak. Sedangkan penulis dan kedua adiknya masih sekolah belum menikah, saat ini penulis
juga masih duduk di bangku kuliah di semester 3 Program pendidikan Ilmu
Al-Qur’an dan Tafsir, Fakultas Ushuludin, sedang menempuh S1 di UIN Sunan
Gunung Djati Bandung, sedangkan adik penulis yang kesatu (Desi Pujasari) setelah
lulus SMP (tahun 2013) ia tidak melanjutkan ke jenjang SMA karena keterbatasan
ekonomi orang tua kami, tapi ia diajak tetangga untuk bekerja dan memilih bekerja di restoran POLDA Metro
Jaya-Pancoran,Jakarta hingga saat ini. Sedangkan adik penulis yang kedua
(bungsu, Wati Rahmawati), saat ini masih duduk di kelas 7 MTS.
Konon katanya, sejak baru
pertamakali penulis lahir dari rahim ibunda, para tetanga menyebut penulis yang
masih mungil dan lucu itu dengan panggilan si Bule, hingga penulis
sampai tamat SD, orang-orang masih tetap menyebut penulis dengan panggilan si
Bule. Karna kulitnya yang begitu putih cerah dan bersih seperti orang
Eropa, padahal dari faktor genetika kulit dari ibunda dan ayah tidak terlalu
putih. Tapi ibunda menjelaskan kepada penulis, saat Ibunda mengandung penulis
yang masih berusia 5 bulan dalam kandungannya itu, Ibunda pernah pergi ke
Ciledug-Jakarta bersama Ayah, tujuan ibunda tak lain hanya untuk membantu Ayah
berdagang jualan gado-gado disana. Untuk sampai kesana mereka naik bus Luragung
jurusan Kuningan-Jakarta, mereka naik dari terminal Ciawigebang-Kuningan. Dalam
tengah perjalanan, bus Luragung seperti biasanya berhenti di terminal
Pulogadung untuk istirahat sejenak sekitar 15 menit, para penumpang bus itu ada
yang makan siang, ada yang jajan, dan ada juga yang ke toilet. Ibunda pun ingin
sejenak membeli makanan didampingi ayah , mereka menuju ke salahsatu warteg,
rumah makan yang jaraknya tidak jauh dari bus tersebut. Banyaknya orang yang
berlalu lalang dan ramainya kendaraan ditambah cuaca yang menyengat di bawah
terik mentari disiang hari itu, Ibunda melihat seorang bocah kecil tampan yang
di gendong oleh mamanya, mereka berdua berkulit putih keturunan Eropa, dengan
lahapnya si bocah bule itu sedang disuapi manisnya buah rambutan berkulit merah
oleh mamanya. Ibunda penulis yang sedang menyaksikan pemandangan kasih sayang
Ibu terhadap anaknya itu, Ibunda bergumam dalam hatinya “Semoga anak dalam
kandunganku kelak berkulit putih seperti dia, bila laki-laki semoga tampan
seperti dia dan bila perempuan semoga cantik”(sambil meludah tiga kali).
Ternyata selang beberapa
bulan kemudian, ibunda melahirkan penulis dengan jenis kelamin laki-laki,
bermuka tampan, berkulit putih dan hidung yang mancung, membuat siapa saja yang
melihatnya ingin menggendong dan mencubitnya.
Meskipun penulis terlahir
dengan tubuh yang sehat, bermuka tampan, berkulit putih dan hidung yang
mancung, selang satu minggu kemudian dari pasca persalinan, entah apa yang
terjadi pada penulis, penulis mengalami pembengkakkan kecil di kepala bagian
belakang, sebesar telur burung puyuh.
Hal itu ayah pernah
menerangkan, bahwa apakah hal ini ada hubungannya dengan tikus yang pernah ia
pukul pada saat ibunda mengandung penulis, ayah geram terhadap tikus-tikus yang
suka mundar-mandir dikontrakan tempat jualan gado-gadonya di Jakarta, tak hanya
itu, tikus-tikus itu juga suka memakan makanan di atas meja makan dan menggigit
karung beras hingga bolong. Akhirnya ayah memukul tikus-tikus itu. Ketika ayah
menuturkan ceritanya itu, sebagian keluarga penulis ada yang menganggapnya
pantangan, ada juga yang mengartikan
maksudnya bahwa itu adalah perbuatan kuwalat, dan ada juga yang
beranggapan bahwa itu hanya kebetulan saja yang terjadi pada penulis saat itu,
dan tidak ada kaitannya dengan pemukulan tikus.
Selang dua hari setelah
membengkaknya bagian belakang dari kepala penulis, nenek membawa penulis ke paraji
(Bhs. Sunda, dukun ‘perempuan’ beranak/spesialis kandungan tradisional) untuk
meminta solusi cara untuk mengobatinya. Paraji menyarankan agar kepala
bagian belakan si bayi yang bengkak ditotoli oleh lebu haneut (penj.
Debu/arang bubuk yang masih hangat di ambil dari bara api, yang di balut oleh
beberapa lapisan dedaunan dan kain). Selama tiga hari pagi dan sore hal itu
dilakukan berturut-turut, Alhamdulillah keadaannya membaik dan akhirnya sembuh
juga.
Penulis baru bisa disapih
(berhenti menyusu) pada usia 16 Bulan, dan pada usia 16 Bulan pula penulis
mulai bisa sedikit-sedikit merangkak berjalan. Sejak kecil kalau penulis sedang
tidur, penulis suka ditinggal sendiri di rumah oleh Ibunda dan Ayah. Kalau ayah
wajar tidak bisa menemani penuli karena ia berjualan di Jakarta dan pulang ke
rumah pun hanya satu bulan sekali, sedangkan Ibunda setiap harinya bekerja
sebagai buruh tani di sawah, kampong halaman penulis, berangkat pagi pulang
siang. kakak-kakak penulis juga mereka berangkat sekolah dan tidak ada waktu
untuk mengasuh penulis di pagi hari. Walaupun demikian, mereka sangat sayang
pada penulis yang masih kecil itu. Biasanya sebelum ibunda pergi ke sawah, ia
suka memberi pesan kepada tetangga, tetangga itu juga masih saudara dengan
keluarga penulis, ibunda memberi pesan kalau penulis bangun dari tidurnya,
biasanya suka menangis, ibunda meminta tolong kepada tetangga itu untuk menengok sudah bangun atau belum, bila sudah
bangun agar diajaknya bermain-main dulu.
Setelah disapih, penulis
tidak langsung diberi makan makanan yang masih cukup keras oleh ibunda, ibunda
memberikan makanan pada penulis yaitu bubur yang dicampur gula merah dan juga
biscuit. Ibunda tahu, memberi asupan makanan kepada bayi yang baru disapih haruslah
bertahap, karena tidak baik untuk pencernaan bagi penulis yang masih bayi pada
saat itu. Kemudian pada saat penulis berusia 2 tahun, baru penulis diberi makan
nasi, sayur-mayur, juga buah-buahan yang lainnya; pepaya, rambutan dan
sebagainya. Penulis terlahir dari keluarga sederhana, ibunda yang sering pergi
ke sawah sebagai petani dan ayah seorang pedagang jika di kota dan petani
ketika ia sedang ada di rumah, ayah juga bisa bekerja sebagai kuli bangunan.
Ketika usia penulis beranjak 3 tahun, penulis sering dibawa ibunda ke sawah dan
disuruh menunggu di sawung (tempat kecil untuk berteduh) yang tak jauh
dari lokasi ibunda bekerja di area pesawahan. Hanya dengan berbekal makanan
ringan, air minum, nasi timbel serta ikan pauk yang di bungkus daun jati, dan
mobil-mobilan juga robot-robotan yang di bawa ibunda untuk mainan penulis agar
tidak menangis. Penulis hanya asyik bermain dengan mobil-mobilan dan
robot-robotannya itu. Ironisnya tiba-tiba penulis menangis dengan kerasnya,
hingga Ibunda dan sejumlah petani yang bekerja di area pesawahan menoleh ke
arah penulis. Dengan cepatnya ibunda berlari menghampiri penulis, setelah di
hampiri ibunda, ternyata penulis menangis karena melihat di depannya ada seekor
ular sawah yang sedang melahap kodok. Kemudian ibunda mengusir ular itu dengan
sebatang bambu dan akhirnya ular tersebut pergi. Hingga sampai usia SMP penulis
masih mengalami trauma dengan ular.