Delegasi yang berhasil melalui jalur SPAN-PTKIN, dan masuk seleksi ke PTN UIN Sunan Gunung Djati
Bandung dari MAN 2 Kuningan hanya ada 5 orang. Satu perempuan, yang bernama
Suci Amalia, ia mengambil Prodi BKI di Fakultas Dakwah dan Komunikasi, dan
empat yang lainnya laki-laki, yaitu Penulis dan Opan (Prodi Ilmu Al Quran tan
tafsir, Fakultas ushuluddin), Soleh (Prodi Tasawuf dan Psikoterapi, Fakultas
ushuluddin) dan Arham (prodi PAI, Fakultas Tarbiyah). Pada tanggal 20 Agustus
2016, salah satu teman penulis yang bernama soleh. Ia memilih pergi sendiri ke
Bandung dan mencari tempat tinggal untuk nanti ketika sudah waktunya masuk
kuliah, tidak ribet mencari tempat. Tiga hari setelahnya, penulis, Opan dan
Arham berangkat bersama ke Bandung. Dan di Bandung kami tinggal bersama di
kostan Soleh, yaitu di jalan Sadang-Cinunuk belakang SPBU. Dan tidak terlalu
jauh dari kampus UIN sendiri.
Kami berempat membuat
komitmen yang kuat untuk sukses bersama, belajar sungguh-sungguh bersama, jika
diantara kami ada yang tidak punya uang, atau dalam kesusahan, kami saling
membantu satu sama lain, itulah persahabatan, ringan sama dijinjing berat sama
dipikul. Penulis sendiri pun yang bekalnya pas-pasan dari orang tua, tidak
mengeluh, walaupun banyak kebutuhan yang harus di beli, mulai dari kebutuhan
sehari-hari makan, bayar kotsan, dan yang lainnya. Justru penulis menjalaninya
dengan penuh semangat, penulis ingat perkataan guru di pesantren dulu, beliau
pernah mengatakan, “Kemana pun orang yang menuntut ilmu karena Allah, rizki
akan berdatangan dari berbagai arah yang tak diduga-duga.” Penulis mulai merintis untuk berjualan
Nutri Jell di kampus dan di SD-SD terdekat. Dari hasil keuntungan jualannya,
penulis gunakan sebagian untuk membeli buku Literate English language,
Sosiologi, Mudah berbahasa Indonesia, dan Buku Bahasa Arab, karangan Pak Eman,
Dosen Bhs Arab. Dan sisa uangnya di tabung untuk keperluan yang lainnya
Penulis berjualan Nutri Jell
tidaklah lama, hanya cukup bertahan selama 2 bulan, tapi kadang-kadang bila ada
waktu senggang, penulis berjualan lagi. Karena banyaknya tugas kuliahlah yang
cukup banyak dan tugas-tugas kelompok yang sering menyita waktu untuk berkumpul
hingga terpaksa jarang berjualan lagi. Pada waktu yang bersamaan, tepatnya 2
bulan penulis tinggal dikostan itu. kami semua pindah tempat, Arham pindah ke
Ponpes Al-Ihsan, Cibiru. Penulis, Opan dan Soleh pindah ke asrama Putra Rumah
Qur’an UIN yang tetaknya di Cileunyi, dekat ponpes tertua di kota bandung
(Al-Jawami’). Yang sebelumnya kami bertiga mendapatkan info, bahwa di asrama Putra
Rumah Qur’an UIN di Cileunyi itu gratis. Kenapa gratis?? Karena bangunan disana
awalnya kantor cabang rektor sebelum rektor Pak Prof.Dr. Mahmud, tapi sudah 3
tahun bangunan itu tidak di tempati lagi, letaknya yang cukup jauh dari perumahan
warga, di belakang bangunan tersebut banyaknya kuburan dan kebun yang terhampar,
didepan bangunan tersebut banyaknya area pesawahan yang cukup luas. Selain itu,
didalamnya terdapat dinding-dinding yang sudah bolong. Hingga membuat bulu
kuduk merinding bagi siapa saja yang masuk kedalamnya. Tapi atas inisiatif
beberapa dosen, akhirnya bangunan itu di manfaatkan untuk asrama Putra Rumah
Quran. Awalnya ada beberapa santri yang tinggal disana termasuk penulis, ada
sekitar 15 orang. Tapi mereka tidak tahan lama tinggal disana, banyak yang
keluar lagi dari asrama tersebut. Termasuk teman penulis, Soleh dan Opan.
Hingga akhirnya ada 7 santri
yang tetap bertahan disana. Selang satu tahun kemudian, kegiatan mengaji di
asrama itu tidaklah efisien. Para dosen pun yang hadir bisa di hitung, 2 bulan
sekali mereka mengajar datang ke asrama. Hingga akhirnya membuat penulis bosan.
Karena, awal tujuan penulis tinggal di Bandung yaitu tinggal di Pesantren atau
masjid. Banyaknya pesantern yang cukup mahal bayarannya, membuat penulis tidak
mampu untuk membayarnya.
Selain kegiatan mengaji tidak
efisien, ditambah jarak yang cukup jauh dari asrama Putra Rumah Qur’an di
Cileunyi ke arah kampus UIN, di Cibiru, juga seringnya macet diperjalanan. Akhirnya
penulis bimbang antara ingin memutuskan pindah dari asrama itu atau tidak.
Penulis bingung, tidak tega meninggalkan anak-anak usia PAUD, SD dan SMP yang
sedang belajar mengaji ke penulis di masjid Al-Mu’min yang letaknya tidak jauh
dari asrama penulis tinggal. Penulis mengajar setiap hari setelah sholat
maghrib. Banyaknya anak-anak didik, hingga penulis kewalahan dan meminta rekan pendamping
di asrama untuk membantu mengajar. Selama 1 tahun penulis tinggal di asrama
itu, penulis suka berbaur dengan masyarakat sekitar. Alhamdulillah setiap
bulannya penulis mendapatkan tunjangan uang dari DKM Al-Mu’min, selain itu
setiap hari setelah mengajar mengaji, penulis dibawakan makanan yang cukup
banyak oleh warga sekitar. Penulis juga pernah mengadakan kegiatan pesantren
kilat selama bulan ramadhan di tahun 2017 dan mengadakan berbagai maacam
perlombaan di dalamnya, seperti lomba pidato, adzan, tahfidz juz amma’ dan
Cerdas cermat. Disisi lain juga, penulis serasa tidak mendapatkan ilmu diasrama
tersebut, karena ketidak efektipan kegiatan belajar di dalamnya, tiada dosen
yang membimbing untuk setoran hafalan dan kajian ilmu yang lainnya.
Setiap kesulitan pasti ada
jalan keluarnya, janji Allah itu pasti, Allah tidak membebani atas kemampuan
hamba-Nya. Seminggu kemudian, teman satu kelas dengan penulis, Hilmi Muhammad
namanya. Mengajak penulis untuk tinggal bersamanya di sebuah Mesjid terbesar di
Cibiru Hilir-Komplek Bumi Harapan. Nama masjid itu Al-Inayah, yang artinya
pertolongan. Hilmi mengajak penulis karena menurut Hilmi, penulis adalah orang
yang dapat dipercaya, baik dan rajin. Setelah cukup lama, penulis mengobrol
dengan Hilmi. Keesokan harinya penulis pindah ke masjid Al-Inayah. Hingga saat
ini penulis tinggal di masjid Al-Inayah.
Alhamdulillah jama’ah masjid
dan DKM sangat antusias menyambut hangat menerima penulis untuk tinggal di
masjid Al-Inayah. Kehadiran penulis yaitu sengaja tinggal disana untuk tempat
tinggal selama kuliah di Bandung, selain itu penulis membantu tugas Hilmi yang
tinggal sendiri di masjid itu. yaitu masjid sebesar itu, ia bersihkan dengan
sendiri. Mulai dari menyapu lantai, adzan, mengajar ngaji anak-anak usia PAUD;
SD; dan SMP, menyapu halaman, mengepel lantai, membersihkan tempat wudhu, kamar
mandi dan sebagainya. jarak dari mesjid ke kampus, lumayan cukup jauh. Akhirnya
penulis membeli sepeda untuk alat transportasi pulang pergi ke kampus. Yang
sebelumnya penulis sudah membawa sepeda dari rumah, tapi telah di curi saat
penulis tinggal di asrama Qur’an, Cileunyi.
Alhamdulillah, penulis juga
hingga saat ini tinggal di masjid Al-Inayah mendapatkan tunjangan dari DKM.
Setiap hari jumat penulis mendapat uang saku sebesar Rp.100.000.-, setiap bulan
mendapat tunjangan sebesar Rp280.000.- dan di beri beras 40 kg perbulannya.
Selain itu penulis mendapat fasilitas berupa satu ruangan cukup besar untuk
tidur, didalamnya ada kulkas, kompor untuk masak, peralatan masak, perabotan,
tv, kipas angin, computer, lemari, dispenser, setrika dan magicom. Dan
tunjangan tiap tahunnya di hari lebaran Idul fitri sebesar Rp.1.000.000.-..
akhirnya penulis tidak meminta lagi uang kiriman dari orang tua.
No comments:
Post a Comment