Monday, April 29, 2019

11. SELAMI LAUTAN ILMU DI BANDUNG


     Delegasi yang berhasil melalui jalur  SPAN-PTKIN, dan masuk seleksi ke PTN UIN Sunan Gunung Djati Bandung dari MAN 2 Kuningan hanya ada 5 orang. Satu perempuan, yang bernama Suci Amalia, ia mengambil Prodi BKI di Fakultas Dakwah dan Komunikasi, dan empat yang lainnya laki-laki, yaitu Penulis dan Opan (Prodi Ilmu Al Quran tan tafsir, Fakultas ushuluddin), Soleh (Prodi Tasawuf dan Psikoterapi, Fakultas ushuluddin) dan Arham (prodi PAI, Fakultas Tarbiyah). Pada tanggal 20 Agustus 2016, salah satu teman penulis yang bernama soleh. Ia memilih pergi sendiri ke Bandung dan mencari tempat tinggal untuk nanti ketika sudah waktunya masuk kuliah, tidak ribet mencari tempat. Tiga hari setelahnya, penulis, Opan dan Arham berangkat bersama ke Bandung. Dan di Bandung kami tinggal bersama di kostan Soleh, yaitu di jalan Sadang-Cinunuk belakang SPBU. Dan tidak terlalu jauh dari kampus UIN sendiri.
Kami berempat membuat komitmen yang kuat untuk sukses bersama, belajar sungguh-sungguh bersama, jika diantara kami ada yang tidak punya uang, atau dalam kesusahan, kami saling membantu satu sama lain, itulah persahabatan, ringan sama dijinjing berat sama dipikul. Penulis sendiri pun yang bekalnya pas-pasan dari orang tua, tidak mengeluh, walaupun banyak kebutuhan yang harus di beli, mulai dari kebutuhan sehari-hari makan, bayar kotsan, dan yang lainnya. Justru penulis menjalaninya dengan penuh semangat, penulis ingat perkataan guru di pesantren dulu, beliau pernah mengatakan, “Kemana pun orang yang menuntut ilmu karena Allah, rizki akan berdatangan dari berbagai arah yang tak diduga-duga.”    Penulis mulai merintis untuk berjualan Nutri Jell di kampus dan di SD-SD terdekat. Dari hasil keuntungan jualannya, penulis gunakan sebagian untuk membeli buku Literate English language, Sosiologi, Mudah berbahasa Indonesia, dan Buku Bahasa Arab, karangan Pak Eman, Dosen Bhs Arab. Dan sisa uangnya di tabung untuk keperluan yang lainnya
Penulis berjualan Nutri Jell tidaklah lama, hanya cukup bertahan selama 2 bulan, tapi kadang-kadang bila ada waktu senggang, penulis berjualan lagi. Karena banyaknya tugas kuliahlah yang cukup banyak dan tugas-tugas kelompok yang sering menyita waktu untuk berkumpul hingga terpaksa jarang berjualan lagi. Pada waktu yang bersamaan, tepatnya 2 bulan penulis tinggal dikostan itu. kami semua pindah tempat, Arham pindah ke Ponpes Al-Ihsan, Cibiru. Penulis, Opan dan Soleh pindah ke asrama Putra Rumah Qur’an UIN yang tetaknya di Cileunyi, dekat ponpes tertua di kota bandung (Al-Jawami’). Yang sebelumnya kami bertiga mendapatkan info, bahwa di asrama Putra Rumah Qur’an UIN di Cileunyi itu gratis. Kenapa gratis?? Karena bangunan disana awalnya kantor cabang rektor sebelum rektor Pak Prof.Dr. Mahmud, tapi sudah 3 tahun bangunan itu tidak di tempati lagi, letaknya yang cukup jauh dari perumahan warga, di belakang bangunan tersebut banyaknya kuburan dan kebun yang terhampar, didepan bangunan tersebut banyaknya area pesawahan yang cukup luas. Selain itu, didalamnya terdapat dinding-dinding yang sudah bolong. Hingga membuat bulu kuduk merinding bagi siapa saja yang masuk kedalamnya. Tapi atas inisiatif beberapa dosen, akhirnya bangunan itu di manfaatkan untuk asrama Putra Rumah Quran. Awalnya ada beberapa santri yang tinggal disana termasuk penulis, ada sekitar 15 orang. Tapi mereka tidak tahan lama tinggal disana, banyak yang keluar lagi dari asrama tersebut. Termasuk teman penulis, Soleh dan Opan.
Hingga akhirnya ada 7 santri yang tetap bertahan disana. Selang satu tahun kemudian, kegiatan mengaji di asrama itu tidaklah efisien. Para dosen pun yang hadir bisa di hitung, 2 bulan sekali mereka mengajar datang ke asrama. Hingga akhirnya membuat penulis bosan. Karena, awal tujuan penulis tinggal di Bandung yaitu tinggal di Pesantren atau masjid. Banyaknya pesantern yang cukup mahal bayarannya, membuat penulis tidak mampu untuk membayarnya.
Selain kegiatan mengaji tidak efisien, ditambah jarak yang cukup jauh dari asrama Putra Rumah Qur’an di Cileunyi ke arah kampus UIN, di Cibiru, juga seringnya macet diperjalanan. Akhirnya penulis bimbang antara ingin memutuskan pindah dari asrama itu atau tidak. Penulis bingung, tidak tega meninggalkan anak-anak usia PAUD, SD dan SMP yang sedang belajar mengaji ke penulis di masjid Al-Mu’min yang letaknya tidak jauh dari asrama penulis tinggal. Penulis mengajar setiap hari setelah sholat maghrib. Banyaknya anak-anak didik, hingga penulis kewalahan dan meminta rekan pendamping di asrama untuk membantu mengajar. Selama 1 tahun penulis tinggal di asrama itu, penulis suka berbaur dengan masyarakat sekitar. Alhamdulillah setiap bulannya penulis mendapatkan tunjangan uang dari DKM Al-Mu’min, selain itu setiap hari setelah mengajar mengaji, penulis dibawakan makanan yang cukup banyak oleh warga sekitar. Penulis juga pernah mengadakan kegiatan pesantren kilat selama bulan ramadhan di tahun 2017 dan mengadakan berbagai maacam perlombaan di dalamnya, seperti lomba pidato, adzan, tahfidz juz amma’ dan Cerdas cermat. Disisi lain juga, penulis serasa tidak mendapatkan ilmu diasrama tersebut, karena ketidak efektipan kegiatan belajar di dalamnya, tiada dosen yang membimbing untuk setoran hafalan dan kajian ilmu yang lainnya.
Setiap kesulitan pasti ada jalan keluarnya, janji Allah itu pasti, Allah tidak membebani atas kemampuan hamba-Nya. Seminggu kemudian, teman satu kelas dengan penulis, Hilmi Muhammad namanya. Mengajak penulis untuk tinggal bersamanya di sebuah Mesjid terbesar di Cibiru Hilir-Komplek Bumi Harapan. Nama masjid itu Al-Inayah, yang artinya pertolongan. Hilmi mengajak penulis karena menurut Hilmi, penulis adalah orang yang dapat dipercaya, baik dan rajin. Setelah cukup lama, penulis mengobrol dengan Hilmi. Keesokan harinya penulis pindah ke masjid Al-Inayah. Hingga saat ini penulis tinggal di masjid Al-Inayah.
Alhamdulillah jama’ah masjid dan DKM sangat antusias menyambut hangat menerima penulis untuk tinggal di masjid Al-Inayah. Kehadiran penulis yaitu sengaja tinggal disana untuk tempat tinggal selama kuliah di Bandung, selain itu penulis membantu tugas Hilmi yang tinggal sendiri di masjid itu. yaitu masjid sebesar itu, ia bersihkan dengan sendiri. Mulai dari menyapu lantai, adzan, mengajar ngaji anak-anak usia PAUD; SD; dan SMP, menyapu halaman, mengepel lantai, membersihkan tempat wudhu, kamar mandi dan sebagainya. jarak dari mesjid ke kampus, lumayan cukup jauh. Akhirnya penulis membeli sepeda untuk alat transportasi pulang pergi ke kampus. Yang sebelumnya penulis sudah membawa sepeda dari rumah, tapi telah di curi saat penulis tinggal di asrama Qur’an, Cileunyi.
Alhamdulillah, penulis juga hingga saat ini tinggal di masjid Al-Inayah mendapatkan tunjangan dari DKM. Setiap hari jumat penulis mendapat uang saku sebesar Rp.100.000.-, setiap bulan mendapat tunjangan sebesar Rp280.000.- dan di beri beras 40 kg perbulannya. Selain itu penulis mendapat fasilitas berupa satu ruangan cukup besar untuk tidur, didalamnya ada kulkas, kompor untuk masak, peralatan masak, perabotan, tv, kipas angin, computer, lemari, dispenser, setrika dan magicom. Dan tunjangan tiap tahunnya di hari lebaran Idul fitri sebesar Rp.1.000.000.-.. akhirnya penulis tidak meminta lagi uang kiriman dari orang tua.

No comments:

Post a Comment

Keluarga Bahagia Rezeki Lancar

  Siapa yang tidak menginginkan keluarganya bahagia, pasti semua orang di dunia ini menginginkan dan mendamba-dambakan momen itu. Sebab dida...