Monday, April 29, 2019

2. SI BUAH HATI BEREKSPLORASI


Sejak usia 3 setengah tahun, penulis mulai di ajari ibunda menulis lingkaran dibuku gambar dengan sebuah pensil, ibunda menyebut lingkaran dengan sebutan telur, ibunda juga mengajari penulis dengan membuat angka satu, tapi ibunda menyebutnya membuat pagar, ibunda mengajari untuk membuat angka dua, tapi penulis tidak bisa dan hanya bisa menangis sekencang-kencangnya. Tapi ibunda terus memberi motivasi agar penulis tidak cepat menyerah. Ibunda menganalogikan untuk menyemangati dengan film kesukaan penulis, yaitu film Ultraman dan Satria Baja Hitam.
 Ibunda mengatakan, “Mmm..Sayang, kamu kan suka film Ultraman dan Satria Baja Hitam. Iya kan?”, (membayangkan) . “Iya Bun, Aku sangat senang sekali” (mengusap air mata dipipi).  ”Nah, sekarang begini,, kalau Ultraman dan Satria baja hitam melawan monster, yang selalu menang siapa, hmm?” (sambil tersenyum).      “Ultraman dan Satria baja hitam bun, dia kan kuat-kuat, monster-monsternya kalah semua..” (dengan nada cadel/terbata-bata). “kalau begitu, anak bunda mau enggak seperti Ultraman dan Satria baja hitam, yang kuat-kuat dan hebat-hebat?” (dengan penuh semangat). “Mau bun, mau bun..” (sangat ceria). “Nah, kalau mau jadi seperti Ultraman dan Satria baja hitam.. kamu tidak boleh menyerah menulis angka dua, kalau kamu bisa menulis angka dua, berarti kamu hebat seperti Ultraman dan Satria baja hitam” (mengusap kepala penulis). “Iyyya Buuun” (penulis ceria dan dicium bunda). Selama tiga hari, penulis berlatih menulis angka dua dan dibimbing ibunda, akhirnya bisa juga. Dan pada saat usia genap 4 tahun penulis menangis-nangis meminta ingin masuk sekolah, ingin seperti  kakak-kakaknya setiap hari pergi ke sekolah ada yang mengenakan seragam putih biru dan ada juga yang mengenakan seragam putih merah. Tapi usia penulis belumlah cukup kata ibunda. Tapi atas saran ayah kepada ibunda bahwa penulis diperbolehkan untuk masuk sekolah  PAUD, dan  pada saat itu tahun 2000. Setiap anak yang sekolah di PAUD itu rata-rata usianya 4 setengah tahun sampai usia 5 tahun, dan penulis tergolong anak yang paling muda usianya. Setiap hari penulis tidak di antar oleh ibunda ke sekolah, tapi ibunda menitipkan penulis ke tetangga yang anaknya sekolah di PAUD yang sama. Karena ibunda setiap hari pergi ke sawah. Kurangnya perhatian dari kedua orang tua, akhirnya penulis menjadi anak nakal disekolahnya. Suka menjaili teman, kadang memukul dan menyembunyikan pensil dan juga penghapus milik temannya, hingga ada diantara mereka yang di buatnya menangis dan melaporkannya ke orang tua dan guru atas ulah perbuatan penulis. Kemudian keesok harinya, orang tua penulis di panggil ke sekolah. Setelah orang tua mengetahui perbuatan penulis. Akhirnya penulis dilarang sekolah lagi oleh orang tua selama 2 tahun. dari semenjak kejadian itu, penulis tidak diperbolehkan sekolah PAUD dan tidak diperbolehkan sekolah di TK oleh orang tua. Selama kurun waktu 2 tahun tidak sekolah, penulis banyak menghabiskan waktunya dengan bermain dan belajar di rumah dengan dibantu ibunda dan kakak-kakak penulis. Meskipun demikian, prilaku kenakalan penulis belum juga hilang. Padahal sudah berkali-kali di pukul, di nasehati orang tua dan di nasehati kakak-kakaknya, tapi malah semakin menjadi-jadi. Penulis terbawa arus pengaruh oleh lingkungan di sekitarnya, bergaul dengan teman-temannya yang nakal. Mayoritas teman-teman penulis sudah ada yang kelas 3 dan 4 SD. Penulis sering di ajak bermain jauh dari rumahnya bersama teman-temannya. Mereka menyebutnya berpetualang layaknya Si Bolang.  Kadang pergi main ke kebun, dan juga ke bukit, disana kami berburu dengan membawa ketapel dan bila ada buah-buahan, kami curi dengan cara melemparkan batu, bila ada cengkih kami curi pula dengan memanjatnya. Dan kadang pula mandi bersama teman-teman di sungai, sampai-sampai pada saat itu penulis pernah hampir tenggelam karena tidak bisa berenang di kedalaman kira-kira 130 cm. Beruntung penulis langsung diselamatkan oleh Asep, salah satu teman penulis dengan perawakannya yang besar dan tinggi. Kalau tidak atas pertolongan Allah lewat pelantara Asep untuk menyelamatkan, mungkin na’as nasib penulis mungkin sudah menjadi mayat.
Semenjak dari kejadian itu, penulis trauma dan tidak akan berenang di kedalaman air yang dalam. Penulis juga kapok tidak akan bermain jauh-jauh lagi dari rumah. Penulis lebih banyak menghabiskan waktunya bermain di rumah dan belajar.

No comments:

Post a Comment

Keluarga Bahagia Rezeki Lancar

  Siapa yang tidak menginginkan keluarganya bahagia, pasti semua orang di dunia ini menginginkan dan mendamba-dambakan momen itu. Sebab dida...