Sejak usia 3 setengah tahun, penulis mulai di
ajari ibunda menulis lingkaran dibuku gambar dengan sebuah pensil, ibunda
menyebut lingkaran dengan sebutan telur, ibunda juga mengajari penulis dengan
membuat angka satu, tapi ibunda menyebutnya membuat pagar, ibunda mengajari
untuk membuat angka dua, tapi penulis tidak bisa dan hanya bisa menangis
sekencang-kencangnya. Tapi ibunda terus memberi motivasi agar penulis tidak
cepat menyerah. Ibunda menganalogikan untuk menyemangati dengan film kesukaan
penulis, yaitu film Ultraman dan Satria Baja Hitam.
Ibunda mengatakan, “Mmm..Sayang, kamu kan suka
film Ultraman dan Satria Baja Hitam. Iya kan?”, (membayangkan) . “Iya Bun, Aku
sangat senang sekali” (mengusap air mata dipipi). ”Nah, sekarang begini,, kalau Ultraman dan
Satria baja hitam melawan monster, yang selalu menang siapa, hmm?” (sambil
tersenyum). “Ultraman dan Satria
baja hitam bun, dia kan kuat-kuat, monster-monsternya kalah semua..” (dengan
nada cadel/terbata-bata). “kalau begitu, anak bunda mau enggak seperti Ultraman
dan Satria baja hitam, yang kuat-kuat dan hebat-hebat?” (dengan penuh
semangat). “Mau bun, mau bun..” (sangat ceria). “Nah, kalau mau jadi seperti
Ultraman dan Satria baja hitam.. kamu tidak boleh menyerah menulis angka dua,
kalau kamu bisa menulis angka dua, berarti kamu hebat seperti Ultraman dan
Satria baja hitam” (mengusap kepala penulis). “Iyyya Buuun” (penulis ceria dan
dicium bunda). Selama tiga hari, penulis berlatih menulis angka dua dan dibimbing
ibunda, akhirnya bisa juga. Dan pada saat usia genap 4 tahun penulis
menangis-nangis meminta ingin masuk sekolah, ingin seperti kakak-kakaknya setiap hari pergi ke sekolah
ada yang mengenakan seragam putih biru dan ada juga yang mengenakan seragam
putih merah. Tapi usia penulis belumlah cukup kata ibunda. Tapi atas saran ayah
kepada ibunda bahwa penulis diperbolehkan untuk masuk sekolah PAUD, dan
pada saat itu tahun 2000. Setiap anak yang sekolah di PAUD itu rata-rata
usianya 4 setengah tahun sampai usia 5 tahun, dan penulis tergolong anak yang
paling muda usianya. Setiap hari penulis tidak di antar oleh ibunda ke sekolah,
tapi ibunda menitipkan penulis ke tetangga yang anaknya sekolah di PAUD yang
sama. Karena ibunda setiap hari pergi ke sawah. Kurangnya perhatian dari kedua
orang tua, akhirnya penulis menjadi anak nakal disekolahnya. Suka menjaili
teman, kadang memukul dan menyembunyikan pensil dan juga penghapus milik
temannya, hingga ada diantara mereka yang di buatnya menangis dan melaporkannya
ke orang tua dan guru atas ulah perbuatan penulis. Kemudian keesok harinya,
orang tua penulis di panggil ke sekolah. Setelah orang tua mengetahui perbuatan
penulis. Akhirnya penulis dilarang sekolah lagi oleh orang tua selama 2 tahun.
dari semenjak kejadian itu, penulis tidak diperbolehkan sekolah PAUD dan tidak
diperbolehkan sekolah di TK oleh orang tua. Selama kurun waktu 2 tahun tidak
sekolah, penulis banyak menghabiskan waktunya dengan bermain dan belajar di
rumah dengan dibantu ibunda dan kakak-kakak penulis. Meskipun demikian, prilaku
kenakalan penulis belum juga hilang. Padahal sudah berkali-kali di pukul, di
nasehati orang tua dan di nasehati kakak-kakaknya, tapi malah semakin
menjadi-jadi. Penulis terbawa arus pengaruh oleh lingkungan di sekitarnya,
bergaul dengan teman-temannya yang nakal. Mayoritas teman-teman penulis sudah
ada yang kelas 3 dan 4 SD. Penulis sering di ajak bermain jauh dari rumahnya
bersama teman-temannya. Mereka menyebutnya berpetualang layaknya Si
Bolang. Kadang pergi main ke kebun, dan
juga ke bukit, disana kami berburu dengan membawa ketapel dan bila ada
buah-buahan, kami curi dengan cara melemparkan batu, bila ada cengkih kami curi
pula dengan memanjatnya. Dan kadang pula mandi bersama teman-teman di sungai,
sampai-sampai pada saat itu penulis pernah hampir tenggelam karena tidak bisa
berenang di kedalaman kira-kira 130 cm. Beruntung penulis langsung diselamatkan
oleh Asep, salah satu teman penulis dengan perawakannya yang besar dan tinggi.
Kalau tidak atas pertolongan Allah lewat pelantara Asep untuk menyelamatkan,
mungkin na’as nasib penulis mungkin sudah menjadi mayat.
Semenjak dari kejadian itu,
penulis trauma dan tidak akan berenang di kedalaman air yang dalam. Penulis
juga kapok tidak akan bermain jauh-jauh lagi dari rumah. Penulis lebih banyak
menghabiskan waktunya bermain di rumah dan belajar.
No comments:
Post a Comment