Saturday, June 15, 2019

Indahnya Ta'aruf

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Sahabat,,,
     Seringkali kisah asmara cinta dikalangan anak muda khususnya membuat mata dan hati mereka menjadi buta. Jika mata dan hati sudah dibutakan dengan cinta, maka diantara mereka ada yang mengatakannya dengan gaya bahasa yang menarik atau istilahnya membuat baper, Seperti kalimat ini "Sepahit-pahitnya kopi yang ku minum terasa begitu manis jika kamu yang buat", "Masakan yang tak enakpun terasa  nikmat jika kamu yang buat","Hidup tanpamu laksana langit tak berbintang", "Kamu bak air yang menyuburkan tanah yang gersang, menumbuhkan pepohonan, menyegarkan bunga-bunga yang layu", bahkan ada pula untaian  kata yang indah seperti yang di tuliskan oleh Prof.H. Nadirsyah Hosen, Ph,D dalam bukunya yang berjudul "Tafsir Al-Qur'an di Medsos"

     "Kamu perrcik Surah Al-Fajr, aku germerlap Surah Al-Lail.
      Dari pagi hingga malam, Allah jaga cinta kita.
      
      Kamu Al-Mujamil, aku-lah Al-Mudatsir.
     Dalam selimut cinta yang Allah sediakan kita merebahkan diri.

      Kamu Surah An-Najm, dan aku Surah Al-Buruj.
     Bintang pun tersenyum melihat ketulusan cinta kita.

     Kamu Surah Al-Qomar, dan aku Surah Asyams.
     Saat kita berjama'ah, rembulan dan mentari cinta  kita bersujud kepada Sang Maha Cinta

     Kamu protes bagai Surah Al-Mujadilah, tetapi segera hening ketika Surah Ar-Rahman yang
     kubaca memeluk dan memadamkan bara di hatimu.

     Ujian kehidupanmu bagaikan Surah Al-Mumtahanah, tetapi Surah As-Sajdah membawa kita
     untuk sujud bersama.

     Engkaulah perhiasan dalam Surah A-Zukhruf, dan aku segera mengajakmu ke bilik Hujurat.

     Janganlah bermuka masam seperti Surah 'Abasa, jadilah Surah Al-Insyirah agar lapang hatimu
     duhai Adinda.

     Cintaku itu bukti yang nyata seperti Surah Al-Bayinah. Tak sanggup angin kencang
     menerbangkannya seperti Surah Adz-Dzariyat.

     Kisah kita penuh cerita seperti Surah Al-Qashash,
     dan semoga bertahan sampai akhir Surah Al-Qiyamah.

     Cintaku tulus seperti Surah Al-Ikhlas, dan cintamu terus merambat naik menuju yang paling
     tinggi seperti Surah Al-A'la.

     Kamu mulai dengan a'udzubillah, aku akhiri dengan shadaqallahul adziim. Dia yang melindungi,
     Dia pula yang akan membenarkan ayat cinta-Nya kepada kita".

Nah, begitulah sahabat. Indah bukan?. Sebetulnya masih banyak lagi ungkapan untaian kata-kata yang indah bagi orang yang sedang dimabuk panah cinta asmara.
     
      Ta'aruf atau perkenalan adalah merupakan jalan yang diridhai oleh Allah swt, sebagaimana yang tertuang dalam firman-Nya Q.S Al Hujurat ayat 13. Namun, ada pula diantara mereka yang menempuhnya dengan cara yang dibenci oleh Allah swt. yaitu jalan yang dilalui syaitan. mereka lebih memilih mengikuti langkah-langkah syaitan seperti berpacaran.Kata Allah "....La taqrabuuz zinaa...." ...janganlah mendekati zinah. Mendekati saja sudah dilarang apalagi sampai melakukannya. Naudzu billahi imn dzalik. Tapi ada juga yang menyalahgunakan QS. Al-Hujurah ayat 13 ini. maksudnya bahwa Ta'aruf tapi didalamnya ada unsur-unsur yang mendekati perzinahan atau isilahnya pacaran yang dibungkus dengan ta'aruf. Kalau bagi kalangan santri yang suka humor, mereka menyebutnya dengan sebutan, "Pacaran Syar'i". hehehe...
     
     Sahabat, Jika memang sedang berta'aruf. Maka tempuhlah dengan cara yang baik menurut syari'at Islam. Datangilah orang tuanya atau wali atasnya, bicarakanlah dengan baik-baik dengan mereka. Diterima atau tidaknya bagaimana nanti, yang penting sudah berusaha. Dan ingat! Jangan terlalu berharap kepada manusia tapi berharap penuhlah kepada Allah swt, sebab jika sangat berharap kepada manusia lalu harapanmu tidak tercapai, siap-siap akan terluka hatimu. Mintalah pasangan yang terbaik menurut-Nya bukan menurut kita. Dan bagi yang belum berta'aruf, teruslah ajukan propsal melalui doa. Mintalah kepada Allah agar dipertemukan dengan pasangan yang terbaik menurut-Nya pula.

Wassalamua'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

     Semoga bermanfaat... Aamiin..


Karya Hamdan za
Bandung, Ahad 16 Juni 2019

Monday, June 10, 2019

Memangkas Ideologi Anak


Saat kita kanak-kanak dulu sekitar usia 2 sampai 4 tahun, kita tentunya belum mengetahui betul benda-benda disekitar kita. Mulai dari fungsinya, tujuannya, dan  berbahaya atau tidak kah untuk diri kita ataupun untuk orang lain. Kita sering kali dikata oleh orang tua atau guru dari dulu mungkin hingga sekarang “Jangan nak, nggak boleh nak” bahkan ada juga dengan nada yang tinggi seolah-olah mereka memarahi bahwa anaknya bersalah dan hal ini tidak terjadi sekali dua kali, tapi sering sekali. Sebagai ilustrasinya, saat kita kecil dulu di saat kita pergi ke dapur lantas kita mengambil pisau lalu kemudian pisaunya itu kita main-mainkan.  Disinilah saat orang tua menyaksiakan kejadian tersebut, biasanya para orang tua spontan langsung memarahi anaknya tanpa berpikir panjang terlebih dahulu. Justru hal inilah yang nantinya akan membatasi ruang gerak si anak. Ia tidak akan bebas berpikir, berimajinasi untuk melakukan sesuatu hal terutama hal yang positif. Ia akan kaku dan terkekang bilamana ia mau melakukan sesuatu hal. Kendatipun disaat kita sekolah atau kuliah, ketika kita mempunyai mimpi yang besar kadangkala ada guru atau dosen yang memangkas ideologi kita terutama mereka melihat dari sudut pandang kekurangan background kita. Umpamanya seorang siswa atau mahasiswa yang ingin bersekolah atau kuliah di luar negeri trus dikata oleh gurunya “Terlalu tinggi keinginanmu, nak. kamu kan belum bisa bahasa asing, malahan nilai mu dibawah rata-rata”. Sudahlah bisa hilang nanti mimpi besar itu jika ideologi kita di pangkas seperti itu.
Untuk menjadi pendidik yang baik, entah sebagai orang tua ataupun guru hendaklah mengarahkan, membimbing anak didiknya dengan cara yang baik dan cerdas. Karena ada pendidik yang mendidik anak didiknya dengan cara yang baik tapi tidak cerdas. Katakanlah seperti contoh di atas tujuannya baik tapi salah dalam penerapannya. Baik itu dari pola bahasa yang mesti di olah apalagi jika dengan cara mendidik anak dengan memukul fisiknya. Menurut saya tidak dibenarkan meskipun tujuannya baik memukul fisik anak terkecuali dalam agama Islam diperbolehkan memukul fisik si anak jika ia sudah beranjak 10 tahun apabila ia ngeyel tidak melakukan solat dan ibadah wajib yang lainnya maka diperbolehkan memukulnya, tapi itu juga harus sesuai dengan ketentuan dan batasan-batasan tertentu. Bahkan menurut saya sendiri, dibalik kontekstual hal tersebut. Memboikot keinginan si anak pun menurut saya bagian daripada mendidik anak agar melakukan dan melatih dirinya untuk menunaikan kewajibannya. Agar kelak ketika si anak beranjak dewasa, ia akan terbiasa.

Keluarga Bahagia Rezeki Lancar

  Siapa yang tidak menginginkan keluarganya bahagia, pasti semua orang di dunia ini menginginkan dan mendamba-dambakan momen itu. Sebab dida...