Minggu siang setelah penulis melaksanakan sholat
berjamaah, terdengar suara dering hp yang terdapat diatas meja belajar. Tak
lama penulis angkat, ternyata Neng Wati, adik penulis menelpon.
“Assalamualiakum Kak Hamdan, bagaimana kabarnya
Kak?”, (memberi salam dan bertanya kabar).
“Walaikumsalam Neng. Alhamdulillah Kak Hamdan
Baik. Neng bagimana kabarnya Baik?, oh iya. Neng dapat rangking berapa di
kelas?”, penulis tanya kembali.
“Alhamdulillah
Neng baik-baik saja. Alhamdulillah Kak, Neng dapat rangking pertama di kelas 7
ini.”
“Alhamdulillah kalau begitu, mmm… pintar nih
adik kakak hehehe”, (penulis menyemangati).
“Tapi kak, ayah sekarang sedang sakit sudah
satu minggu dan kak Ajid juga sedang sakit”, (Neng
dengan nada sedih).
“Ya sudah Neng jangan bersedih, kalau begitu kak
Hamdan pulang ke Kuningan sekarang juga”, jawab penulis sambil menenangkan.
Secepatnya
penulis pulang ke Kuningan, setelahnya berkemas membawa baju di tas, dan buku
sebagai hadiah untuk adik. Penulis berangkat dari Bandung pukul 13.00 wib dan
tiba di Kuningan pukul 16.30 WIB. Setelah sampai di rumah, penulis langsung
memeluk sang ayah dan kak Ajid, kakak penulis.
Tak
lama kemudian ayah berbicara kepada penulis,
“Dan, jika kamu sudah lulus
kuliah nanti, ayah tidak mau merantau lagi ke Jakarta mencari uang, karena ayah
sudah capek, dari usia 13 tahun sampai sekarang ayah lebih banyak menghabiskan
waktu untun mencari nafkah untuk keluarga. Di waktu usia ayah yang menua ini,
ayah ingin menghabiskan usianya berkumpul bersama keluarga. Yang ayah harapkan
darimu yaitu belajarlah dengan sungguh-sungguh, agar kamu bisa menjadi orang
sukses.”, (ungkapan ayah di atas kasur).
Penulis hanya meneteskan air mata, merasa
bersalah karena belum bisa mencari uang tapi sudah mencintai seorang perempuan.
“Kenapa
kamu menangis?, ceritakanlah”, Tanya ayah.
“Yah,
meskipun saat ini aku tinggal di masjid dan tanpa di biayai ayah lagi dan sudah
bisa hidup mandiri. aku menangis karena aku belum bisa mencari uang untuk
keluarga, tetapi aku sedang mencintai seorang wanita dan ingin
mengkhitbahnya.”, jawab penulis.
“Sudahlah Dan, ayah paham.
Ayah tidak melarang soal itu yang penting dia solehah dan baik, itu yang terpenting bagi ayah. Dan ayah tidak
minta apapun darimu. Hanya satu pesan ayah, belajarlah dengan sungguh-sungguh saat
ini, agar kamu bisa membimbing istrimu dan anak-anakmu kelak.”, tambah ayah
menyemangati.
Dua hari kemudian, penulis
berangkat lagi ke Bandung, karena besok adalah hari rabu. Dimana uas di hari
pertama dimulai yaitu mata kuliah ulumul qur’an dengan tes lisan.
No comments:
Post a Comment