Monday, April 29, 2019

14. AYAH YANG SEMAKIN MENUA


     Minggu siang setelah penulis melaksanakan sholat berjamaah, terdengar suara dering hp yang terdapat diatas meja belajar. Tak lama penulis angkat, ternyata Neng Wati, adik penulis menelpon.
“Assalamualiakum Kak Hamdan, bagaimana kabarnya Kak?”, (memberi salam dan bertanya kabar).
“Walaikumsalam Neng. Alhamdulillah Kak Hamdan Baik. Neng bagimana kabarnya Baik?, oh iya. Neng dapat rangking berapa di kelas?”, penulis tanya kembali.
Alhamdulillah Neng baik-baik saja. Alhamdulillah Kak, Neng dapat rangking pertama di kelas 7 ini.”
“Alhamdulillah kalau begitu, mmm… pintar nih adik kakak hehehe”, (penulis menyemangati).
“Tapi kak, ayah sekarang sedang sakit sudah satu minggu dan kak Ajid juga sedang sakit”, (Neng dengan nada sedih).
“Ya sudah Neng jangan bersedih, kalau begitu kak Hamdan pulang ke Kuningan sekarang juga”, jawab penulis sambil menenangkan.
            Secepatnya penulis pulang ke Kuningan, setelahnya berkemas membawa baju di tas, dan buku sebagai hadiah untuk adik. Penulis berangkat dari Bandung pukul 13.00 wib dan tiba di Kuningan pukul 16.30 WIB. Setelah sampai di rumah, penulis langsung memeluk sang ayah dan kak Ajid, kakak penulis.
            Tak lama kemudian ayah berbicara kepada penulis,
“Dan, jika kamu sudah lulus kuliah nanti, ayah tidak mau merantau lagi ke Jakarta mencari uang, karena ayah sudah capek, dari usia 13 tahun sampai sekarang ayah lebih banyak menghabiskan waktu untun mencari nafkah untuk keluarga. Di waktu usia ayah yang menua ini, ayah ingin menghabiskan usianya berkumpul bersama keluarga. Yang ayah harapkan darimu yaitu belajarlah dengan sungguh-sungguh, agar kamu bisa menjadi orang sukses.”, (ungkapan ayah di atas kasur).
Penulis hanya meneteskan air mata, merasa bersalah karena belum bisa mencari uang tapi sudah mencintai seorang perempuan.
            “Kenapa kamu menangis?, ceritakanlah”, Tanya ayah.
            “Yah, meskipun saat ini aku tinggal di masjid dan tanpa di biayai ayah lagi dan sudah bisa hidup mandiri. aku menangis karena aku belum bisa mencari uang untuk keluarga, tetapi aku sedang mencintai seorang wanita dan ingin mengkhitbahnya.”, jawab penulis.
“Sudahlah Dan, ayah paham. Ayah tidak melarang soal itu yang penting dia solehah dan baik,  itu yang terpenting bagi ayah. Dan ayah tidak minta apapun darimu. Hanya satu pesan ayah, belajarlah dengan sungguh-sungguh saat ini, agar kamu bisa membimbing istrimu dan anak-anakmu kelak.”, tambah ayah menyemangati.
Dua hari kemudian, penulis berangkat lagi ke Bandung, karena besok adalah hari rabu. Dimana uas di hari pertama dimulai yaitu mata kuliah ulumul qur’an dengan tes lisan.

No comments:

Post a Comment

Keluarga Bahagia Rezeki Lancar

  Siapa yang tidak menginginkan keluarganya bahagia, pasti semua orang di dunia ini menginginkan dan mendamba-dambakan momen itu. Sebab dida...