Monday, April 29, 2019

1. BAHAGIA KEHADIRAN SI BUAH HATI


     Berdecak kagum nan riang gembira, senyum dan syukur tiada hingga, yang terpancar dari wajah Sang Ayah dan Ibunda. Kakek dan nenek bersujud syukur penuh cinta. Gema hamdalah terucap dari para tetangga.  Menyaksikan si buah hati, jagoan lucu dan imut merengek nangis yang terlahir saat membuka mata menatap dunia.
Penulis lahir tepatnya pada pukul 21.00 WIB, malam Sabtu, tanggal 17 Februari Tahun 1996 di Desa Cipicung Kec. Cipicung Kab. Kuningan-Jawa Barat. Penulis terlahir dari pasangan Ayah (yang bernama) Tardi dan Ibu (yang bernama) Wiwi. Orang tua penulis dari Ayah, ia kelahiran dari Desa Cipicung Kec. Cipicung Kab. Kuningan-Jawa Barat, sedangkan Ibu  kelahiran dari Desa Susukan, Kec. Cipicung, Kab. Kuningan-Jawa Barat. Dua desa tersebut saling bertetanggaan, namun pada saat kedua kakek penulis masih hidup, kakek pernah bercerita kepada penulis dengan bahasa sehari-hari kami yaitu bahasa sunda.
 Kakek dari pihak Ibu pernah berkata kepada penulis, “Ndan (sebutan penulis), baheula mah bapak Tardi jeung emih Wiwi teh, keur nalika lengoh keneh (bujangan) teh ku abah di jodohkeun, sabab taneuh abah Maryo (kakek dari pihak Ibu) jeung taneuh abah Haji Juhana (kakek dari Ayah) tadina tatanggaan. Abah Maryo taneuhna Beulah bieu, taneuh abah Haji Juhana gigireunna taneuh abah. Bakat sering pateupang, oge ngobrolkeun pun putra-putri abah dugi jadi kana jodohna”.
 Ayah menikah pada saat usia muda belia, yaitu pada usia 18 tahun, sedangkan Ibu pada saat itu berusia 16 tahun. Dan Penulis sendiri adalah anak ke-5 dari 8 bersaudara, 2 diantarnya laki-laki yaitu : Penulis sendiri (anak ke 5) dan Ajid Dulmajid (anak ke 4) dan 5 lainnya perempuan yaitu : Aan Nurhasanah (anak ke 1), Yuyun Ruyati (anak ke 2), Omah Nurhalimah (anak ke 3), Desi Pujasari (anak ke 6) dan Neng Wati Rahmawati, bungsu (anak ke 7). Sedangkan satu lainnya keguguran, dan pada saat itu Ibu dalam keadaan masih hamil muda, berusia 2 minggu janin di kandungnya. Janin yang keguguran di rahim ibu, yaitu antara sesudah ibu melahirkan penulis dan sebelum ibu mengandung Desi.
Dari keempat saudara penulis sudah menikah, Ceu (sebutan kakak bagi perempuan, bhs. Sunda) Aan Nurhasanah yang kini sudah dikaruniai 4 orang anak, Ceu Yuyun Ruyati sudah dikaruniai 3 orang anak, meninggal dunia 1 orang anak karena keguguran, Ceu Omah Nurhalimah sudah dikaruniai 4 orang anak, meninggal dunia 2 orang anak, dan Aa (sebutan kakak bagi laki-laki, bhs. Sunda) Ajid Dulmajid sudah dikaruniai seorang anak. Sedangkan penulis dan kedua adiknya  masih sekolah belum menikah, saat ini penulis juga masih duduk di bangku kuliah di semester 3 Program pendidikan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Fakultas Ushuludin, sedang menempuh S1 di UIN Sunan Gunung Djati Bandung, sedangkan adik penulis yang kesatu (Desi Pujasari) setelah lulus SMP (tahun 2013) ia tidak melanjutkan ke jenjang SMA karena keterbatasan ekonomi orang tua kami, tapi ia diajak tetangga untuk bekerja dan memilih  bekerja di restoran POLDA Metro Jaya-Pancoran,Jakarta hingga saat ini. Sedangkan adik penulis yang kedua (bungsu, Wati Rahmawati), saat ini masih duduk di kelas 7 MTS.
Konon katanya, sejak baru pertamakali penulis lahir dari rahim ibunda, para tetanga menyebut penulis yang masih mungil dan lucu itu dengan panggilan si Bule, hingga penulis sampai tamat SD, orang-orang masih tetap menyebut penulis dengan panggilan si Bule. Karna kulitnya yang begitu putih cerah dan bersih seperti orang Eropa, padahal dari faktor genetika kulit dari ibunda dan ayah tidak terlalu putih. Tapi ibunda menjelaskan kepada penulis, saat Ibunda mengandung penulis yang masih berusia 5 bulan dalam kandungannya itu, Ibunda pernah pergi ke Ciledug-Jakarta bersama Ayah, tujuan ibunda tak lain hanya untuk membantu Ayah berdagang jualan gado-gado disana. Untuk sampai kesana mereka naik bus Luragung jurusan Kuningan-Jakarta, mereka naik dari terminal Ciawigebang-Kuningan. Dalam tengah perjalanan, bus Luragung seperti biasanya berhenti di terminal Pulogadung untuk istirahat sejenak sekitar 15 menit, para penumpang bus itu ada yang makan siang, ada yang jajan, dan ada juga yang ke toilet. Ibunda pun ingin sejenak membeli makanan didampingi ayah , mereka menuju ke salahsatu warteg, rumah makan yang jaraknya tidak jauh dari bus tersebut. Banyaknya orang yang berlalu lalang dan ramainya kendaraan ditambah cuaca yang menyengat di bawah terik mentari disiang hari itu, Ibunda melihat seorang bocah kecil tampan yang di gendong oleh mamanya, mereka berdua berkulit putih keturunan Eropa, dengan lahapnya si bocah bule itu sedang disuapi manisnya buah rambutan berkulit merah oleh mamanya. Ibunda penulis yang sedang menyaksikan pemandangan kasih sayang Ibu terhadap anaknya itu, Ibunda bergumam dalam hatinya “Semoga anak dalam kandunganku kelak berkulit putih seperti dia, bila laki-laki semoga tampan seperti dia dan bila perempuan semoga cantik”(sambil meludah tiga kali).
Ternyata selang beberapa bulan kemudian, ibunda melahirkan penulis dengan jenis kelamin laki-laki, bermuka tampan, berkulit putih dan hidung yang mancung, membuat siapa saja yang melihatnya ingin menggendong dan mencubitnya.
Meskipun penulis terlahir dengan tubuh yang sehat, bermuka tampan, berkulit putih dan hidung yang mancung, selang satu minggu kemudian dari pasca persalinan, entah apa yang terjadi pada penulis, penulis mengalami pembengkakkan kecil di kepala bagian belakang, sebesar telur burung puyuh.
Hal itu ayah pernah menerangkan, bahwa apakah hal ini ada hubungannya dengan tikus yang pernah ia pukul pada saat ibunda mengandung penulis, ayah geram terhadap tikus-tikus yang suka mundar-mandir dikontrakan tempat jualan gado-gadonya di Jakarta, tak hanya itu, tikus-tikus itu juga suka memakan makanan di atas meja makan dan menggigit karung beras hingga bolong. Akhirnya ayah memukul tikus-tikus itu. Ketika ayah menuturkan ceritanya itu, sebagian keluarga penulis ada yang menganggapnya pantangan, ada  juga yang mengartikan maksudnya bahwa itu adalah perbuatan kuwalat, dan ada juga yang beranggapan bahwa itu hanya kebetulan saja yang terjadi pada penulis saat itu, dan tidak ada kaitannya dengan pemukulan tikus.
Selang dua hari setelah membengkaknya bagian belakang dari kepala penulis, nenek membawa penulis ke paraji (Bhs. Sunda, dukun ‘perempuan’ beranak/spesialis kandungan tradisional) untuk meminta solusi cara untuk mengobatinya. Paraji menyarankan agar kepala bagian belakan si bayi yang bengkak ditotoli oleh lebu haneut (penj. Debu/arang bubuk yang masih hangat di ambil dari bara api, yang di balut oleh beberapa lapisan dedaunan dan kain). Selama tiga hari pagi dan sore hal itu dilakukan berturut-turut, Alhamdulillah keadaannya membaik dan akhirnya sembuh juga.
Penulis baru bisa disapih (berhenti menyusu) pada usia 16 Bulan, dan pada usia 16 Bulan pula penulis mulai bisa sedikit-sedikit merangkak berjalan. Sejak kecil kalau penulis sedang tidur, penulis suka ditinggal sendiri di rumah oleh Ibunda dan Ayah. Kalau ayah wajar tidak bisa menemani penuli karena ia berjualan di Jakarta dan pulang ke rumah pun hanya satu bulan sekali, sedangkan Ibunda setiap harinya bekerja sebagai buruh tani di sawah, kampong halaman penulis, berangkat pagi pulang siang. kakak-kakak penulis juga mereka berangkat sekolah dan tidak ada waktu untuk mengasuh penulis di pagi hari. Walaupun demikian, mereka sangat sayang pada penulis yang masih kecil itu. Biasanya sebelum ibunda pergi ke sawah, ia suka memberi pesan kepada tetangga, tetangga itu juga masih saudara dengan keluarga penulis, ibunda memberi pesan kalau penulis bangun dari tidurnya, biasanya suka menangis, ibunda meminta tolong kepada tetangga itu untuk  menengok sudah bangun atau belum, bila sudah bangun agar diajaknya bermain-main dulu.
Setelah disapih, penulis tidak langsung diberi makan makanan yang masih cukup keras oleh ibunda, ibunda memberikan makanan pada penulis yaitu bubur yang dicampur gula merah dan juga biscuit. Ibunda tahu, memberi asupan makanan kepada bayi yang baru disapih haruslah bertahap, karena tidak baik untuk pencernaan bagi penulis yang masih bayi pada saat itu. Kemudian pada saat penulis berusia 2 tahun, baru penulis diberi makan nasi, sayur-mayur, juga buah-buahan yang lainnya; pepaya, rambutan dan sebagainya. Penulis terlahir dari keluarga sederhana, ibunda yang sering pergi ke sawah sebagai petani dan ayah seorang pedagang jika di kota dan petani ketika ia sedang ada di rumah, ayah juga bisa bekerja sebagai kuli bangunan. Ketika usia penulis beranjak 3 tahun, penulis sering dibawa ibunda ke sawah dan disuruh menunggu di sawung (tempat kecil untuk berteduh) yang tak jauh dari lokasi ibunda bekerja di area pesawahan. Hanya dengan berbekal makanan ringan, air minum, nasi timbel serta ikan pauk yang di bungkus daun jati, dan mobil-mobilan juga robot-robotan yang di bawa ibunda untuk mainan penulis agar tidak menangis. Penulis hanya asyik bermain dengan mobil-mobilan dan robot-robotannya itu. Ironisnya tiba-tiba penulis menangis dengan kerasnya, hingga Ibunda dan sejumlah petani yang bekerja di area pesawahan menoleh ke arah penulis. Dengan cepatnya ibunda berlari menghampiri penulis, setelah di hampiri ibunda, ternyata penulis menangis karena melihat di depannya ada seekor ular sawah yang sedang melahap kodok. Kemudian ibunda mengusir ular itu dengan sebatang bambu dan akhirnya ular tersebut pergi. Hingga sampai usia SMP penulis masih mengalami trauma dengan ular.

No comments:

Post a Comment

Keluarga Bahagia Rezeki Lancar

  Siapa yang tidak menginginkan keluarganya bahagia, pasti semua orang di dunia ini menginginkan dan mendamba-dambakan momen itu. Sebab dida...