Tuesday, September 10, 2019

Pengasuh Dan Masa Penyusuan Nabi Muhammad Saw

              Pengasuh dan pemomong pertama kali atas keahiran Muhammad dihari-hari perama ialah Ummu Aiman (ibu Aiman). Ummu Aiman ini adalah seorang budak perempuan dari Habasyah (sekarang Ethiopia), budak perempuan milik bapak Abdullah. Dan perempuan yang menyusui (meneteki pertama kali) bayi Muhammad itu adalah Tsuwaibah, budak perempuan milik paman Muhammad yang bernama Abu Lahab.
          Sudah menjadi tradisi bagi bangsawan-bangsawan Quraisy di kota Makkah menyerahkan anak-anak mereka yang masih bayi unuk dipelihara di daerah pegunungan disusui oleh perempuan-perempuan Badui, sampai pada saa bayi iu berusia 3 aau 4 tahun. Tujuan dari penyusuan dan pemindahan di daerah pegungungan itu, agar si bayi itu selama penyusuan dipegunungan mendapatkan udara yang bersih dan segar, dapat berbicara dengan bahasa Arab asli yang belum bercampur, seperti bahasa yang dipergunakan diperkotaan, begitu juga udara di pegunungan lebih bersih dan segar bila dibandingkan dengan udara di perkotaan yang sudah banyak polusi.
          Demikian juga dengan halnya bayi yang bernama Muhammad ini, pada masa bayinya sampai dengan berusia 4 tahun Siti Aminah (ibu Muhammad) menyerahkan bayinya kepada perempuan penyusu Arab pegunungan yang bernama Halimah As-Sa’diyah dari Bani Sa’ad. Para pengasuh dan penyusu dari bani Sa’ad ini selalu mencari anak asuh dari bangsawan, orang-orang mulia. Seperti halnya dengan anak asuh Muhammad ini, bayi Muhammad ini adalah keturunan dari bangsawan Quraisy, keurunan dari orang-orang yang berpangkat, berwibawa dan berpengaruh dikalangan bangsa Quraisy.
          Suami dari Halimah As-Sa’diyah ialah Al-Harits bin Abdul Uzza, ia adalah seorang laki-laki yang amat fakir. Setelah melihat bayi Muhammad ini ia berkata kepadanya (Halimah) ; “Mudah-mudahan Allah menjadikan bayi ini sebagai berkah (mendatangkan berkah) bagi kehidupan kita.”
          Memang jadi kenyataan, semenjak Halimah membawa pulang anak susunya ini (bayi Muhammad) ditengah-tengah keluarganya, ia dan keluarganya elah memperoleh kebaikan yang banyak sekali. Binatang-binatang ternaknya gemuk dan mengeluarkan banyak air susu, yang sebelumnya binatang-binatang ternaknya kurus dan tidak mengeluarkan air susu. Sungguh benar-benar membawa berkah bayi ini bagi keluarganya dalam segala hal.
          Selama 50 bulan (4 tahun lebih) Muhammad ia dibawah asuhan dan susuan Halimah As-Sa’diyah (wanita penyabar lagi berbahagia) dengan dibantu oleh suaminya beserta anak perempuannya yang bernama Asy-Syima’ dengan perlakuan yang penuh kasih sayang dan penuh kecintaan. Selama dalam asuhan Halimah, Muhammad bergaul, bermain, bercengkerama bersama-sama anak-anak desa menggembalakan kambing.
          Setelah dianggap sudah cukup kuat badannya, fasih kata-katanya dan bertumbuh akalnya, maka Halimah menyerahkan Muhammad kepada ibunya di kota Makkah, ke tengah-tengah keluarganya. Dan Halimah diberi imbalan/upah yang banyak oleh neneknya Abdul Muthallib yang kaya raya. Dan neneknya Abdul Muthallib ini menempatkan Muhammad di tempat tertinggi dan perhatian serta kecintaannya.


*Dikutip dari Kitab Siroh Nabawy
*Kisah ke-4
*Indahnya berbagi,semoga bermanfaat, menambah ilmu juga wawasan serta menambah kecintaah kita kepada Nabi Muhammad saw, keluarga serta sahabatnya. Menjadikan beliau sebagai idola dan suri teladan bagi panutan kehidupan kita.

Bandung, 11 September 2019







Friday, September 6, 2019

Upacara Dan Pemberian Nama Muhammad

Sahabat, pernahkah mendengar nama-nama orang yang terdengar lucu atau bahkan agak sukar saat di ucapkan? tidak punya arti dan jika ada arti dari nama tersebut artinya buruk. bahkan ada pula nama-nama yang diharamkan untuk dipakai sebutan bagi si buah hati. Pemberian nama kepada si buah hati tentunya setiap orang tua ingin memberikan nama yang baik bahkan yang terbaik. enak saat didengar dan dipanggil, juga mudah saat disebutkan. selain itu tentunya mempunyai arti yang baik dari nama-nama tersebut.  Adapun bagi perempuan bisa mengambilnya dari nama-nama orang yang shalihah. seperti halnya khodijah, aisyah, fatimah, rabi'ah adawiyah dll. begitupun untuk pemberian nama bagi bayi laki-laki bisa mengambilnya dari orang-orang sholih.. salah satunya ya.. nama Nabi kita ini, Muhammad saw.


Saat kelahiran sang bayi (yang bernama Muhammad), maka kakeknya yang bernama Abdul Muthallib pada waktu itu berada di sekitar Ka’bah untuk melakukan upacara ibadat menurut kepercayaan orang-orang Quraisy pada waktu itu. Setelah diberi kabar bahwa cucunya telah lahir, maka bukan main gembira hati Abdul Muthallib. Dipangku dan ditimbangnya bayi itu. Hatinya semakin melekat dan menyatu dengan cucunya yang baru lahir itu, lebih-lebih setelah melihat keadaan bayi yang baru lahir itu dalam keadaan suci bersih dan berparas menawan (ganteng).
          Maka pada hari yang ketujuh dari kelahiran cucunya itu, maka Abdul Muthallib mengadakan upacara untuk mengkhitan tiap-tiap anak yang baru lahir dan sekaligus pemberian nama; dengan mengundang para sanak saudara.
          Perlu diketahui pada saat Muhammad dilahirkan dari rahim Aminah, ia sudah dalam keadaan suci, telah dikhitan.
          Dalam upacara itu Abdul Muthallib sudah menyedikan nama untuk cucunya itu dengan nama Muhammad. Harapan Abdul Muthallib memberikan nama Muhammad itu agar kelak cucunya itu menjadi orang yang dipuji di sisi Allah di langit dan pada sisi manusia di muka bumi ini.
          Dan kalangan bangsa Quraisy (orang-orang Quraisy) masih sedikit yang memberikan nama untuk bayinya dengan nama Muhammad. Saat itu hanya ada tiga orang yang memakai nama Muhammad tersebut yaitu : 1). Muhammad bin Sufyan At-Tamimy; 2). Muhammad bin Bilal Al-Alusy; 3). Muhammad bin Hamran Al-Ja’fy.
          Dalam kitab Taurat dan Injil, telah disebut-sebut akan datang seorang nabi akhir zaman yang bernama Ahmad. Tidak lain nama Ahmad itu adalah Muhammad ibnu Abdullah.
          Nama Muhammad (pemberian nama Abdul Muthallib) dan nama Ahmad (yang tersebut didalam Kitab Taurat dan Injil keduanya telah dikuatkan oleh Allah dalam Al-Qur’an. (Lihat Q.s Ash-Shof ayat 6 dan Qs. Ali Imran ayat 144).
          Selain bernama Muhammad dan Ahmad, Nabi Muhammad Rasulullah saw itu mempunyai beberapa gelar nama yang diambil dari sifat-sifat yang beliau miliki, yaitu misalnya beliau mendapat gelar :
1.     Al-Amin, artinya yang terpercaya
2.    Al-Basyir, artinya yang membawa kabar gembira
3.    An-Nadzir, artinya yang membawa kabar menakutkan
4.    Al-Muqoffa, artinya yang diikuti
5.    ‘Al-Qibur rusul, artinya yang menyudahi rasul-rasul
6.    Khatimul anbiyaa’ artinya penutup para nabi
7.    Al-Mutawakkil, artinya yang berserah diri kepada Tuhan
8.    Al-Mubasyir, artinya yang menggembirakan
9.    Asy-Syahiid, artinya saksi (sebagai saksi)
10. Adh-Dahuuk,artinya yang sering tertawa
11.  Al-Muniir, artinya yang bersinar
12. Al-Mursal artinya yang diutus
13. Al-Ummy, artinya yang tidak pandai baca dan tulis
14. As-Siraaj, artinya lamu (penerang)
15. Faatihul Abwaab, artinya pembuka pintu-pintu
16. Nabiyullah, artinya Nabi Allah
17. Nabiyyur Rahmah, artinya Nabi pembawa rahmat
18. Nabiyyul Malhamah, artinya Nabi dimedan perang
Dan masih banyak lagi yang disandangnya.
Semakin banyak gelar yang disandangnya (yang diberikan seseorang/ gelar kebaikan), adalah sebagai tanda semakin hormat dan cinta mereka terhadap orang yang diberi nama/gelar itu.


*Dikutip dari Kitab Siroh Nabawy
*Indahnya berbagi,semoga bermanfaat, menambah ilmu juga wawasan serta menambah kecintaah kita kepada Nabi Muhammad saw, keluarga serta sahabatnya. Menjadikan beliau sebagai idola dan suri teladan bagi panutan kehidupan kita.
                                                                                                                                                                                     Bandung, Sabtu 8 Muharam 1441 H /
7 September 2019 M


Wednesday, September 4, 2019

Bahaya Tabarruj dan Ikhtilath


Sahabat.....Sungguh syaitan lebih halus menggoda manusia, bahkan lebih halus daripada darah yang mengalir dalam tubuh kita... Semoga Allah swt senantiasa menjaga hati kita dan selalu mengistiqomahkan diri kita dalam mengerjakan amal shalih. Dan semoga tulisan sederhana ini bermanfaat dan sekaligus cambuk buat kita, khususnya bagi penulis yang masih fakir ilmu dan belajar menjadi orang yang lebih baik lagi.



Kajian tentang Tabarruj dan Ikhtilath meliputi:
1. Pengertian dari sisi bahasa dan istilah, model tabarruj Jahiliyah seperti yang ditegaskan Al-Qur’an.
2. Pengertian jahiliyah sendiri tidak hanya berkonotasi zaman sebelum Rasulullah diutus, di mana bangsa Arab berada dalam kesesatan. Akan tetapi mencakup jahilyah modern yang kita alami dewasa ini. Jahiliyah modern tidak kalah bahanya dibanding jahilyah kuno.
3. Bahaya Tabarruj dan Ikhtilath yang mencakup pribadi, keluarga, dan masyarakat. Baik di dunia maupun di akhirat.
Di antara bahayanya adalah:
a. Tabarruj dan Ikhtilath adalah Maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya
b. Tabarruj dan Ikhtilath termasuk Dosa Besar
c. Tabarruj dan Ikhtilath mendatangkan Laknat
d. Tabarruj Temasuk Sifat Penghuni Neraka
e. Tabarruj adalah Kemunafikan yang akan Mendatangkan Kegelapan di hari Kiamat.
f. Tabarruj dan Ikhtilath Menodai Kehormatan Keluarga dan Masyarakat
g. Tabarruj adalah Sunnah Iblis
h. Tabarruj dan Ikhtilath adalah Permulaan Zina
i. Tabarruj dan Ikhtilath mengundang Siksaan Allah
Islam adalah agama yang mengatur hidup dan kehidupan manusia. Ajaran-ajarannya menjadi acuan bagi siapa saja, pribadi, keluarga, masyarakat, dan bangsa untuk meniti kehidupan yang lebih baik dan harmonis dalam ridha sang pencipta. Rambu-rambunya diletakkan untuk dijadikan pedoman, agar perjalanan hidup ini selamat sampai tujuan. Jika ada rambu-rambu yang dilanggar, bahayanya akan menimpa pelanggar itu bahkan menimpa orang lain tergantung tingkat besarnya jenis pelanggaran.
Lihatlah, terkadang sebuah kecelakaan di jalan raya yang menjadi korban tidak hanya yang melakukan pelanggaran, namun merembet kepada pengguna jalan yang lain. Islam agama sempurna. Tidaklah Rasulullah saw. meninggal kecuali beliau telah tuntas menyampaikan risalah yang dibawa dari Rabbnya. Syariat yang dibawanya telah disampaikan kepada ummatnya secara terang, seterang matahari di siang bolong. Hal itu diakui dan diamini oleh para sahabat ketika di haji Wada’ beliau meminta kesaksian mereka tentang apa yan telah dilakukan terhadap risalah Allah Ta’ala, “Apakah aku telah telah menyampaikan hal ini?” Serentak mereka menjawab, “Benar, engkau telah menyampaikan.” Beliau bersabda, “Ya Allah saksikanlah.”
Seluruh permasalahan yang berhubungan dengan hidup dan kehidupan manusia telah tuntas panduan dan acuannya. Mulai dari persoalan ideologi, ibadah, tingkah laku, ucapan, perbuatan, pola hubungan antar manusia, makanan, minuman, pakaian, dan lain sebagainya telah ada panduannya bahkan telah dicontohkan sang pembawa risalah, Rasulullah saw. selaku model bagi risalah yang dibawanya, kemudian diteruskan oleh generasi terdekat dan terbaik, para sahabat lalu para tabi’in, dan seterusnya. Semuanya, selama mereka sejalan dengan ajaran-ajarannya, akan merasakan kebahagiaan hidup dan jauh dari ketersesatan sebagimana yang dijanjikan oleh Rasulullah saw.
Di antara persoalan besar yang dihadapi oleh manusia adalah yang berkaitan dengan wanita. Persoalan ini tidak boleh dianggap sederhana dan ia juga bukan persoalan baru. Ia adalah persoalan Bani Israel dan persoalan ummat ini. Rasulullah melalui haditsnya memberikan isyarat terhadap masalah tersebut. Beliau bersabda di Shahihain,  “Aku tidak tinggalkan fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki selain (fitnah) wanita.”
Harta paling berharga yang dimiliki wanita adalah rasa malu dan harga diri. Jika wanita melepaskan pakaian malunya dan tidak lagi menjaga harga diri serta kewanitaannya, dampaknya akan menimpa keluarga dan masyarakat.
Maka selayaknya keluarga dan masyarakat juga turut dalam menjaga nilai-nilai ini pada diri wanita-wanitanya. Jika wanita tidak lagi mengenakan hijab sebagaimana yang telah ditentukan Islam, ditambah lagi dengan adanya pelanggaran batas hubungan antar laki-laki dan wanita, maka kerusakanlah yang akan terjadi. Terlebih karena syahwat manusia merupakan sesuatu yang berbahaya jika tidak ada dikendalikan.
Imam Muslim meriwayatkan dari Jabir bahwa Rasulullah saw. bersabda,
“Wanita itu dari depan nampak seperti bentuk syetan dan dari belakang nampak seperti bentuk syetan. Kalau salah seorang di antara kalian melihat wanita hendaklah mendatangi istrinya. Karena hal itu akan meredakan apa yang di dalam dirinya.”
Pengertian Tabarruj dan Ikhtilath Secara bahasa, Ibnu Mandzur di Lisanul Arab mengatakan, Tabarruj adalah wanita yang memamerkan keindahan dan perhiasannya kepada laki-laki. Tabarrajatil mar’ah artinya wanita yang menampakkan kecantikannya, lehernya, dan wajahnya. Ada yang mengatakan, maksudnya adalah wanita yang menampakkan perhiasannya, wajahnya, kecantikannya kepada laki-laki dengan maksud untuk membangkitkan nafsu syahwatnya. Menurut pengertian syariah, tabarruj adalah setiap perhiasan atau kecantikan yang ditujukan wanita kepada mata-mata orang yang bukan muhrim. Termasuk orang yang mengenakan cadar, di mana seorang wanita membungkus wajahnya, apabila warnawarnanya mencolok dan ditujukan agar dinikmati orang lain, ini termasuk tabarruj jahiliyah terdahulu. Seperti yang disinyalir ayat, “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu (Maksudnya: isteri-isteri Rasul agar tetap di rumah dan ke luar rumah bila ada keperluan yang dibenarkan oleh syara'. Perintah ini juga meliputi segenap mukminat) dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu (Yang dimaksud Jahiliyah yang dahulu ialah Jahiliah kekafiran yang terdapat sebelum nabi Muhammad saw. dan yang dimaksud Jahiliyah sekarang ialah Jahiliyah kemaksiatan, yang terjadi sesudah datangnya Islam) dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersihbersihnya.” (Al-Ahzab: 33) Di ayat tersebut Allah melarang para wanita untuk tabarruj setelah memerintah mereka menetap di rumah. Akan tetapi apabila ada keperluan yang mengharuskan mereka keluar dari rumah, hendaknya tidak keluar sembari mempertontonkan keindahan dan kecantikannya kepada laki-laki asing yang bukan muhrimnya. Allah juga melarang mereka melakukan tabrruj seperti tabarrujnya orang-orang jahiliyah terdahulu. Apa maksud tabarruj jahiliyah terdahulu itu? Mujahid berkata, “Wanita dahulu keluar dan berada di antara para laki-laki. Inilah maksud dari tabarruj jahiliyah terdahulu.” Qatadah berkata, “Wanita dahulu kalau berjalan berlenggak-lenggok genit. Allah melarang hal ini.”
Muqatil bin Hayyan berkata, “Maksud tabarruj adalah wanita yang menanggalkan kerudungnya lalu nampaklah kalung dan lehernya. Inilah tabarruj terdahulu di mana Allah melarang wanita-wanita beriman untuk melakukannya.”
Ibnu Abi Najih meriwayatkan dari Mujahid, “Janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu…” Dia (Mujahid) berkata, “Wanita dahulu berjalan-jalan di hadapan kaum (laki-laki). Itulah tabarruj Jahiliyah.”
Ada yang mengatakan, yang dimaksud jahiliyah pertama adalah jahiliyah sebelum Islam, sedangkan jahiliyah kedua adalah ummat Islam yang melakukan perbuatan jahiliyah pertama. Sedangkan pengertian ikhtilath secara bahasa adalah bercampurnya dua hal atau lebih. Ikhtilath dalam pengertian syar’i maksudnya bercampur-baurnya perempuan dan laki-laki yang bukan muhrim di sebuah momen dan forum yang tidak dibenarkan oleh Islam.
Imam Abu Dawud meriwayatkan
Hamzah bin Abi Usaid Al-Anshari bahwa ia mendengar Rasulullah saw keluar rumah dari masjid. Tiba-tiba orang laki-laki dan wanita berkumpul di jalanan. Rasulullah saw bekata kepada para wanita itu, “Agar wanita di belakang saja, kalian tidak boleh berada di tengah-tengah jalan (ketika ada laki-laki) dan hendaknya kalian di pinggiran jalan.” Serta merta ada wanita yang merapat ke dinding (rumah) sampai-sampai pakaiannya tersangkut ke dinding itu karena terlalu nempel.” (Abu Dawud).
Padahal peristiwa ini terjadi kebetulan, para sahabat itu kebetulan bertemu dengan wanita-wanita shahabiyah di jalanan. Bagaimana dengan mereka yang sengaja bertemu dan dengan dandanan yang mengundang fitnah. Al-Qur’an memberikan arahan kepada wanita bagaimana seharusnya mereka bsersikap, bersuara dan beragaul dengan lawan jenisnya. Allah berfirman, “Hai isteri-isteri nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (Al-Ahzab.” (AlAhzab: 32).
Di antara penyebab orang melakukan hal ini adalah karena ketidak-tahuan mereka terhadap ajaran Islam atau karena ikut-ikutan terhadap gaya penampilan wanita-wanita lain (baca: Barat). Sekarang ini pemandangan wanita tabarruj menjadi biasa, termasuk di negeri-negeri muslim. Dunia intertainmen memiliki peran besar dalam mensosialisasikan budaya tabarruj yang serta merta ditiru oleh wanita-wanita muslim. Bahkan oleh sebagian kalangan gaya hidup ini dianggap memiliki nilai plus. Dalam pandangan mereka wanita tabarruj lebih modern dan lebih nge-tren ketimbang mereka yang menutup auratnya dengan rapi. Ikhtilath juga juga tidak bisa dipisahkan dari budaya mereka yang kini menjadi budaya kaum Muslimin. Seorang pemuda laki-laki akan dipandang aneh jika tidak memiliki teman-teman wanita dan tidak bergaul dengan mereka. Lebih jauh lagi, pergaulan bebas telah menjadi gaya hidup para pemuda dan pemudi, anak-anak muslim. Tabarruj dan Ikhtilah adalah Konspirasi musuh-musuh Islam terhadap Islam Tabarruj dan ikhtilath merupakan tradisi Yahudi, ini nampak dalam Protokloler mereka, wajib bagi mereka untuk menundukkan semua bangsa dengan cara memerangi akhlak dan memporak-porandakan nilai-nilai keluarga dengan sarana apapun yang memungkinkan. Lalu mereka menemukan bahwa sarana yang paling efektif untuk menyerang basis keluarga adalah dengan cara merangsang mereka melakukan kejahatan dan merangsang nafsu syahwat. Racun ini lalu mereka sebarakan melalui berbagai media, film, koran, majalah, cerita, dan lain-lain. Dan kita semua tahu bahwa Yahudi mempunyai andil besar dalam hal ini.
Jahiliyah Modern lebih Berbahaya ketimbang Jahiliyah Pertama Ketika bahaya semakin besar melanda umat, tanggung jawab untuk mengatasinya juga semakin besar. Kita sekarang hidup di zaman di aman penyebab fitnah begitu banyak dan beragam. Ini disebabkan oleh interaksi kita dengan dunia luar, baik secara langsung maupun tidak, misalnya melalui media masa audio maupun visual, juga disebabkan oleh lemahnya orang tua dalam memanggul tanggung jawab menjaga nilai-nilai Islam dalam rumah tangga mereka. Wanita dibiarkan berkeliaran ke mana saja tanpa batas dan bergaul dengan siapa saja serta dengan dandanan yang sesuai dengan model zamannya, membuka aurat, dengan kosmetik dan parfum yang menarik perhatian. Acap kali kita menyaksikan, bahkan seorang gadis belia keluar dari rumahnya tanpa didampingi oleh muhrimnya, bertemu dengan siapa saja tanpa ada pantauan dari kedua orang tuanya. Wanita berbicara melalui telepon hingga berjam-jam tanpa diketahui oleh walinya –bahkan walinya sendiri tidka boleh tahu- dengan siapa ia berbicara. Di waktu siang maupun malam tidak jarang dijumpai wanita berada di luar rumah, bukan untuk suatu kepentingan belanja atau urusan keluarganya, semata-mata untuk mencari sensasi dengan gaya pakaian yang jauh dari rasa malu dan tidak lagi memiliki kehormatan sebagai wanita. Atau barangkali menurutnya, gaya pakaian seperti itulah yang membuatnya terhormat dan bermartabat. Kemudian ia bergabung dalam kerumunan laki-laki dan perempuan. Hampir bisa dipastikan bahwa tujuannya keluar rumah adalah sengaja menyebarkan fitnah dan menggoda mata laki-laki. Sementara orangtuanya, kakak dan adiknya, bahkan suaminya tenang berada di rumah.
Atau bahkan keluarga laki-lakinya juga berada di tempat lain yang serupa mencari mangsa wanita-wanita serupa. Dengan sarana dan model yang sangat banyak beragam, dan dengan pergeseran nilai karena lemahnya pemahaman terhadap ajaran Islam, juga begitu fatal dampak yang ditimbulkannya, maka Jahiliyah Modern lebih berbahaya ketimbang jahiliyah masa lalu.
       Berikut ini bebarapa hal yang berkaitan dengan bahaya tabarruj dan ikhtilah bagi, diri, keluarga, dan masyarakat. 1. Tabarruj dan Ikhtilath adalah Maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya Dan barangsiapa bermaksiat kepada Allah akan merasakan akibatnya. Sama sekali tidak akan membahayakan Allah. Rasulullah saw. bersabda, “Setiap ummatku akan masuk surga kecuali yang tidak mau.” Mereka (sahabat) bertanya, “Ya Rasulullah, siapakah yang tidak mau?” Beliau bersabda, “Barangsiapa taat kepadaku akan masuk surga dan barangsiapa bermaksiat kepadaku ia orang yang tidak mau.” (Bukhari)
2. Tabarruj dan Ikhtilath termasuk Dosa Besar Karena kedua hal ini merupakan sarana paling kuat terhadap perbuatan zina. Di riwayat yang shahih dari Ahmad diceritakan bahwa Umaimah binti raqiqah datang kepada Rasulullah saw. Untuk berbaiat kepada beliau dalam membela Islam. Beliau bersabda, “Aku membaiatmu agar kamu tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anakmu, tidak melakukan kebohongan dari hadapanmu (karena perbuatan lisan dan kemaluan), tidak meratapi (orang mati), dan tidak tabarruj dengan tabarruj jahiliyah pertama.” (Bukhari).
Lihatlah bagaimana Rasulullah saw. mengaitakan antara tabarruj dan dosa-dosa besar seperti syirik, mencuri, dan berzina.
3. Tabarruj dan Ikhtilath mendatangkan Laknat
Di Mustadrak-nya Al-Hakim dengan status hadits shahih menurut kriteria Bukhari Muslim dan di Musnad Imam Ahmad dari Abdullah bin Umar Rasulullah saw bersabda, “Akan datang di akhir ummatku nanti laki-laki yang naik pelana (mewah) layaknya laki-laki yang turun ke pintu-pintu masjid, wanita-wanita mereka mengenakan pakaian namun telanjang, di kepala mereka seperti punuk unta kurus. Kutuklah wanita-wanita itu karena sesungguhnya mereka itu terkutuk. Jika setelah kalian ada kaum, tentu wanita-wanita kalian akan melayani wanita-wanita mereka sebagaimana wanita-wanita kaum terdahulu melayani kalian.”
4. Tabarruj Temasuk Sifat Penghuni Neraka
 Abi Hurairah berkata, Rasulullah saw bersabda, “Ada dua golongan penduduk neraka yang belum aku lihat sekarang ini. Satu kaum yang bersama mereka cambuk-cambuk seperti ekor sapi yang dipakai untuk memukul orang. Wanita-wanita mereka berpakian namun telanjang, bergaya pundak mereka dan berpaling dari kebenaran. Kepala mereka seperti punuk unta kurus, mereka tidak masuk surga dan tidak mencium baunya. Padahal baunya tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian.” (Muslim).
5. Tabarruj adalah Kemunafikan yang akan Mendatangkan Kegelapan di hari Kiamat.
Al-Baihaqi meriwayatkan sabda Rasulullah saw. dengan sanad shahih “Sebaik-baik wanita kalian adalah yang penyayang, yang banyak melahirkan, yang cocok (dengan suaminya) jika mereka bertakwa kepada Allah. Dan seburuk-buruk wanita adalah yang tabarruj dan sombong. Mereka itulah orang-orang munafik. Tidak akan masuk surga salah seorang di antara mereka kecuali seperti gagak putih.” (Baihaqi).
6. Tabarruj dan Ikhtilath Menodai Kehormatan Keluarga dan Masyarakat
Diriwayatkan dari Nabi saw. bahwa beliau bersabda, “Ada tiga orang yang, kamu jangan bertanya kepada mereka: seseorang yang keluar dari jamaah dan durhaka kepada imamnya lalu mati dalam keadaan bermaksiat, seorang budak perempuan dan laki-laki yang berlari (dari tuannya) kemudian ia mati, dan seorang wanita ditinggal keluar oleh suaminya dan telah dicukupi kebutuhan dunianya lalu ia bertabarruj setelah itu. Maka jangan bertanya kepada mereka.” (Ahmad).
7. Tabarruj adalah Sunnah Iblis Jika menutup aurat dan berhijab serta menjaga diri dan kehormatan adalah sunnah Nabi saw. Maka tabarruj dan ikhtilath adalah sunnah Iblis, di mana sasaran godaan pertama terhadap manusia adalah agar auratnya terbuka. Allah mewanti-wanti hal ini kepada kita agar kita tidak terfitnah oleh tipu daya Iblis. Allah berfirman, “Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya 'auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya kami telah menjadikan syetan-syetan itu pemimpinpemimpim bagi orang-orang yang tidak beriman.” (Al-A’raf: 27).
8. Tabarruj dan Ikhtilath adalah Permulaan Zina Setiap kali penyimpangan terjadi akan melahirkan penyimpangan lain yang lebih besar. Ketika wanita tidak menutup auratnya dan tidak menjaga kehormatannya dengan bercampur bersama laki-laki yang bukan muhrimnya, terlebih dengan dandanan yang menyebar fitnah, rasa malu sudah sirna dan ghirah laki-laki mulai tiada, maka hal-hal haram manjadi mudah dilakukan bahkan dosa-dosa besar menjadi hal yang biasa dan wajar. Termasuk di antaranya zina. Di tengah masyarakat kita sekarang terjadi perbedaan persepsi tentang zina. Bahkan tidak ada undang-undang yang menjadikan zina sebagai kejahatan kecuali ia terkait dengan hak-hak asasi manusia.
9. Tabarruj dan Ikhtilath mengundang Siksaan Allah
Di hadits riwayat Ibnu Majah Rasulullah saw bersabda, “Tidaklah nampak kebejatan di antara kaum Luth sampai mereka terang-terangan (melakukannya) kecuali setelah itu tersebarlah panyakit kolera dan kelaparan yang belum pernah terjadi pada pendahulu mereka.” (Ibnu Majah).
Secara umum, kemaksiatan kerap kali menjadi penyebab terjadinya berbagai musibah. Seperti yang Allah sinyalir dalam Al-Qur’an, “Dan jika kami hendak membinasakan suatu negeri, maka kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan kami), kemudian kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (Al-Isra’: 16). Tentu saja yang akan terkena dampaknya tidak hanya pelaku kemaksitan, kaum mutabarrijat dan mereka tidak ada hijab dalam hubungan antar lawan jenis. Semua orang yang ada di sebuah komunitas akan terkena dampaknya. Maka kewajiban bagi semuanya adalah mencegah terjadinya berbagai kemaksiatan dan kemungkaran sebisa mungkin. Para ulama dan pemimpin menjadi penanggung jawab utama sebalum yang lain dalam menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar. Abu Bakar As-Shidiq meriwayatkan bahwa ia mendengar sabda Rasulullah saw, “Jika manusia melihat kemungkaran lalu tidak merubahnya, hampir Allah meratakan siksanya kepada mereka semua.” (Diriwayatkan Empat Imam dan dinilai shahih oleh Ibnu Hibban).

Keluarga Bahagia Rezeki Lancar

  Siapa yang tidak menginginkan keluarganya bahagia, pasti semua orang di dunia ini menginginkan dan mendamba-dambakan momen itu. Sebab dida...