1.
Pengertian dari sisi bahasa dan istilah, model tabarruj Jahiliyah seperti yang
ditegaskan Al-Qur’an.
2.
Pengertian jahiliyah sendiri tidak hanya berkonotasi zaman sebelum Rasulullah
diutus, di mana bangsa Arab berada dalam kesesatan. Akan tetapi mencakup
jahilyah modern yang kita alami dewasa ini. Jahiliyah modern tidak kalah
bahanya dibanding jahilyah kuno.
3.
Bahaya Tabarruj dan Ikhtilath yang mencakup pribadi, keluarga, dan masyarakat.
Baik di dunia maupun di akhirat.
Di
antara bahayanya adalah:
a.
Tabarruj dan Ikhtilath adalah Maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya
b.
Tabarruj dan Ikhtilath termasuk Dosa Besar
c.
Tabarruj dan Ikhtilath mendatangkan Laknat
d.
Tabarruj Temasuk Sifat Penghuni Neraka
e. Tabarruj
adalah Kemunafikan yang akan Mendatangkan Kegelapan di hari Kiamat.
f.
Tabarruj dan Ikhtilath Menodai Kehormatan Keluarga dan Masyarakat
g.
Tabarruj adalah Sunnah Iblis
h.
Tabarruj dan Ikhtilath adalah Permulaan Zina
i.
Tabarruj dan Ikhtilath mengundang Siksaan Allah
Islam
adalah agama yang mengatur hidup dan kehidupan manusia. Ajaran-ajarannya
menjadi acuan bagi siapa saja, pribadi, keluarga, masyarakat, dan bangsa untuk
meniti kehidupan yang lebih baik dan harmonis dalam ridha sang pencipta. Rambu-rambunya
diletakkan untuk dijadikan pedoman, agar perjalanan hidup ini selamat sampai
tujuan. Jika ada rambu-rambu yang dilanggar, bahayanya akan menimpa pelanggar
itu bahkan menimpa orang lain tergantung tingkat besarnya jenis pelanggaran.
Lihatlah,
terkadang sebuah kecelakaan di jalan raya yang menjadi korban tidak hanya yang
melakukan pelanggaran, namun merembet kepada pengguna jalan yang lain. Islam
agama sempurna. Tidaklah Rasulullah saw. meninggal kecuali beliau telah tuntas
menyampaikan risalah yang dibawa dari Rabbnya. Syariat yang dibawanya telah
disampaikan kepada ummatnya secara terang, seterang matahari di siang bolong.
Hal itu diakui dan diamini oleh para sahabat ketika di haji Wada’ beliau
meminta kesaksian mereka tentang apa yan telah dilakukan terhadap risalah Allah
Ta’ala, “Apakah aku telah telah menyampaikan hal ini?” Serentak mereka
menjawab, “Benar, engkau telah menyampaikan.” Beliau bersabda, “Ya Allah
saksikanlah.”
Seluruh
permasalahan yang berhubungan dengan hidup dan kehidupan manusia telah tuntas
panduan dan acuannya. Mulai dari persoalan ideologi, ibadah, tingkah laku,
ucapan, perbuatan, pola hubungan antar manusia, makanan, minuman, pakaian, dan
lain sebagainya telah ada panduannya bahkan telah dicontohkan sang pembawa
risalah, Rasulullah saw. selaku model bagi risalah yang dibawanya, kemudian
diteruskan oleh generasi terdekat dan terbaik, para sahabat lalu para tabi’in,
dan seterusnya. Semuanya, selama mereka sejalan dengan ajaran-ajarannya, akan
merasakan kebahagiaan hidup dan jauh dari ketersesatan sebagimana yang
dijanjikan oleh Rasulullah saw.
Di
antara persoalan besar yang dihadapi oleh manusia adalah yang berkaitan dengan
wanita. Persoalan ini tidak boleh dianggap sederhana dan ia juga bukan
persoalan baru. Ia adalah persoalan Bani Israel dan persoalan ummat ini.
Rasulullah melalui haditsnya memberikan isyarat terhadap masalah tersebut.
Beliau bersabda di Shahihain, “Aku tidak
tinggalkan fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki selain (fitnah) wanita.”
Harta
paling berharga yang dimiliki wanita adalah rasa malu dan harga diri. Jika
wanita melepaskan pakaian malunya dan tidak lagi menjaga harga diri serta
kewanitaannya, dampaknya akan menimpa keluarga dan masyarakat.
Maka
selayaknya keluarga dan masyarakat juga turut dalam menjaga nilai-nilai ini
pada diri wanita-wanitanya. Jika wanita tidak lagi mengenakan hijab sebagaimana
yang telah ditentukan Islam, ditambah lagi dengan adanya pelanggaran batas
hubungan antar laki-laki dan wanita, maka kerusakanlah yang akan terjadi. Terlebih
karena syahwat manusia merupakan sesuatu yang berbahaya jika tidak ada
dikendalikan.
Imam
Muslim meriwayatkan dari Jabir bahwa Rasulullah saw. bersabda,
“Wanita
itu dari depan nampak seperti bentuk syetan dan dari belakang nampak seperti
bentuk syetan. Kalau salah seorang di antara kalian melihat wanita hendaklah
mendatangi istrinya. Karena hal itu akan meredakan apa yang di dalam dirinya.”
Pengertian
Tabarruj dan Ikhtilath Secara bahasa, Ibnu Mandzur di Lisanul Arab mengatakan,
Tabarruj adalah wanita yang memamerkan keindahan dan perhiasannya kepada
laki-laki. Tabarrajatil mar’ah artinya wanita yang menampakkan kecantikannya,
lehernya, dan wajahnya. Ada yang mengatakan, maksudnya adalah wanita yang
menampakkan perhiasannya, wajahnya, kecantikannya kepada laki-laki dengan
maksud untuk membangkitkan nafsu syahwatnya. Menurut pengertian syariah,
tabarruj adalah setiap perhiasan atau kecantikan yang ditujukan wanita kepada
mata-mata orang yang bukan muhrim. Termasuk orang yang mengenakan cadar, di
mana seorang wanita membungkus wajahnya, apabila warnawarnanya mencolok dan
ditujukan agar dinikmati orang lain, ini termasuk tabarruj jahiliyah terdahulu.
Seperti yang disinyalir ayat, “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu (Maksudnya:
isteri-isteri Rasul agar tetap di rumah dan ke luar rumah bila ada keperluan
yang dibenarkan oleh syara'. Perintah ini juga meliputi segenap mukminat) dan
janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang
dahulu (Yang dimaksud Jahiliyah yang dahulu ialah Jahiliah kekafiran yang
terdapat sebelum nabi Muhammad saw. dan yang dimaksud Jahiliyah sekarang ialah
Jahiliyah kemaksiatan, yang terjadi sesudah datangnya Islam) dan dirikanlah
shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah
bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan
kamu sebersihbersihnya.” (Al-Ahzab: 33) Di ayat tersebut Allah melarang para
wanita untuk tabarruj setelah memerintah mereka menetap di rumah. Akan tetapi
apabila ada keperluan yang mengharuskan mereka keluar dari rumah, hendaknya
tidak keluar sembari mempertontonkan keindahan dan kecantikannya kepada
laki-laki asing yang bukan muhrimnya. Allah juga melarang mereka melakukan
tabrruj seperti tabarrujnya orang-orang jahiliyah terdahulu. Apa maksud
tabarruj jahiliyah terdahulu itu? Mujahid berkata, “Wanita dahulu keluar dan
berada di antara para laki-laki. Inilah maksud dari tabarruj jahiliyah
terdahulu.” Qatadah berkata, “Wanita dahulu kalau berjalan berlenggak-lenggok
genit. Allah melarang hal ini.”
Muqatil
bin Hayyan berkata, “Maksud tabarruj adalah wanita yang menanggalkan
kerudungnya lalu nampaklah kalung dan lehernya. Inilah tabarruj terdahulu di
mana Allah melarang wanita-wanita beriman untuk melakukannya.”
Ibnu Abi
Najih meriwayatkan dari Mujahid, “Janganlah kamu berhias dan bertingkah laku
seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu…” Dia (Mujahid) berkata, “Wanita
dahulu berjalan-jalan di hadapan kaum (laki-laki). Itulah tabarruj Jahiliyah.”
Ada yang
mengatakan, yang dimaksud jahiliyah pertama adalah jahiliyah sebelum Islam,
sedangkan jahiliyah kedua adalah ummat Islam yang melakukan perbuatan jahiliyah
pertama. Sedangkan pengertian ikhtilath secara bahasa adalah bercampurnya dua
hal atau lebih. Ikhtilath dalam pengertian syar’i maksudnya bercampur-baurnya
perempuan dan laki-laki yang bukan muhrim di sebuah momen dan forum yang tidak
dibenarkan oleh Islam.
Imam Abu
Dawud meriwayatkan
Hamzah
bin Abi Usaid Al-Anshari bahwa ia mendengar Rasulullah saw keluar rumah dari
masjid. Tiba-tiba orang laki-laki dan wanita berkumpul di jalanan. Rasulullah
saw bekata kepada para wanita itu, “Agar wanita di belakang saja, kalian tidak
boleh berada di tengah-tengah jalan (ketika ada laki-laki) dan hendaknya kalian
di pinggiran jalan.” Serta merta ada wanita yang merapat ke dinding (rumah)
sampai-sampai pakaiannya tersangkut ke dinding itu karena terlalu nempel.” (Abu
Dawud).
Padahal
peristiwa ini terjadi kebetulan, para sahabat itu kebetulan bertemu dengan
wanita-wanita shahabiyah di jalanan. Bagaimana dengan mereka yang sengaja
bertemu dan dengan dandanan yang mengundang fitnah. Al-Qur’an memberikan arahan
kepada wanita bagaimana seharusnya mereka bsersikap, bersuara dan beragaul
dengan lawan jenisnya. Allah berfirman, “Hai isteri-isteri nabi, kamu sekalian
tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu
tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam
hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (Al-Ahzab.” (AlAhzab: 32).
Di
antara penyebab orang melakukan hal ini adalah karena ketidak-tahuan mereka
terhadap ajaran Islam atau karena ikut-ikutan terhadap gaya penampilan
wanita-wanita lain (baca: Barat). Sekarang ini pemandangan wanita tabarruj
menjadi biasa, termasuk di negeri-negeri muslim. Dunia intertainmen memiliki
peran besar dalam mensosialisasikan budaya tabarruj yang serta merta ditiru
oleh wanita-wanita muslim. Bahkan oleh sebagian kalangan gaya hidup ini
dianggap memiliki nilai plus. Dalam pandangan mereka wanita tabarruj lebih modern
dan lebih nge-tren ketimbang mereka yang menutup auratnya dengan rapi.
Ikhtilath juga juga tidak bisa dipisahkan dari budaya mereka yang kini menjadi
budaya kaum Muslimin. Seorang pemuda laki-laki akan dipandang aneh jika tidak
memiliki teman-teman wanita dan tidak bergaul dengan mereka. Lebih jauh lagi,
pergaulan bebas telah menjadi gaya hidup para pemuda dan pemudi, anak-anak
muslim. Tabarruj dan Ikhtilah adalah Konspirasi musuh-musuh Islam terhadap
Islam Tabarruj dan ikhtilath merupakan tradisi Yahudi, ini nampak dalam
Protokloler mereka, wajib bagi mereka untuk menundukkan semua bangsa dengan
cara memerangi akhlak dan memporak-porandakan nilai-nilai keluarga dengan
sarana apapun yang memungkinkan. Lalu mereka menemukan bahwa sarana yang paling
efektif untuk menyerang basis keluarga adalah dengan cara merangsang mereka
melakukan kejahatan dan merangsang nafsu syahwat. Racun ini lalu mereka
sebarakan melalui berbagai media, film, koran, majalah, cerita, dan lain-lain.
Dan kita semua tahu bahwa Yahudi mempunyai andil besar dalam hal ini.
Jahiliyah
Modern lebih Berbahaya ketimbang Jahiliyah Pertama Ketika bahaya semakin besar
melanda umat, tanggung jawab untuk mengatasinya juga semakin besar. Kita
sekarang hidup di zaman di aman penyebab fitnah begitu banyak dan beragam. Ini
disebabkan oleh interaksi kita dengan dunia luar, baik secara langsung maupun
tidak, misalnya melalui media masa audio maupun visual, juga disebabkan oleh
lemahnya orang tua dalam memanggul tanggung jawab menjaga nilai-nilai Islam dalam
rumah tangga mereka. Wanita dibiarkan berkeliaran ke mana saja tanpa batas dan
bergaul dengan siapa saja serta dengan dandanan yang sesuai dengan model
zamannya, membuka aurat, dengan kosmetik dan parfum yang menarik perhatian.
Acap kali kita menyaksikan, bahkan seorang gadis belia keluar dari rumahnya
tanpa didampingi oleh muhrimnya, bertemu dengan siapa saja tanpa ada pantauan
dari kedua orang tuanya. Wanita berbicara melalui telepon hingga berjam-jam
tanpa diketahui oleh walinya –bahkan walinya sendiri tidka boleh tahu- dengan
siapa ia berbicara. Di waktu siang maupun malam tidak jarang dijumpai wanita
berada di luar rumah, bukan untuk suatu kepentingan belanja atau urusan
keluarganya, semata-mata untuk mencari sensasi dengan gaya pakaian yang jauh dari
rasa malu dan tidak lagi memiliki kehormatan sebagai wanita. Atau barangkali
menurutnya, gaya pakaian seperti itulah yang membuatnya terhormat dan
bermartabat. Kemudian ia bergabung dalam kerumunan laki-laki dan perempuan.
Hampir bisa dipastikan bahwa tujuannya keluar rumah adalah sengaja menyebarkan
fitnah dan menggoda mata laki-laki. Sementara orangtuanya, kakak dan adiknya,
bahkan suaminya tenang berada di rumah.
Atau
bahkan keluarga laki-lakinya juga berada di tempat lain yang serupa mencari
mangsa wanita-wanita serupa. Dengan sarana dan model yang sangat banyak
beragam, dan dengan pergeseran nilai karena lemahnya pemahaman terhadap ajaran
Islam, juga begitu fatal dampak yang ditimbulkannya, maka Jahiliyah Modern
lebih berbahaya ketimbang jahiliyah masa lalu.