Monday, April 29, 2019

4. DIMARAHI SANG AYAH


    Tak terasa bulan yang agung telahlah tiba, sorak tadarus di setiap musholah dan masjid membuat kaum muslimin bertakjub terharu rindu, kawanan anak kecil berlari-lari riang gembira, menyambut bulan suci nan mulia. Semua warung makan di rorong-rorong sepanjang jalan pada tutup, para pedagang makanan dan minuman nampak sepi. Banyak orang menjalani puasa atas perintah Allah yang maha kuasa.
            Kala siang itu, penulis tak berpuasa lantaran masih kecil berusia 4 tahun, tak tahu hukum dan makna dari berpuasa. Sehingga karna perut terus berkerut. Dengan sepiring nasi kecil, dua potong tempe  dan  setengah sendok sambal sebagai teman nasinya penulis makan dengan lahap di teras depan rumah. Tiba-tiba ayah dari dalam rumah keluar dengan cepatnya, laksana petir menyambar perbukitan. Ayah langsung menghampiri penulis.  “Makannya di dalam!. jangan di luar, ini bulan puasa!.” (dengan nada keras ayah).
Penulis hanya menangis dan pergi kedalam rumah.
          Keesokan harinya adalah hari jum’at, dimana kewajiban bagi laki-laki yang baligh melaksanakan sholat jumat di masjid. Tak hanya itu anak-anak pun banyak yang ikut bersama ayahnya untuk menunaikan sholat jumat di masjid. Tidak bagi penulis, penulis malah main pasir di depan rumah. Ayah pun yang sudah siap untuk pergi ke masjid. Menghampiri penulis dan mengajak penulis ke masjid. Tapi penulis malah tidak mau, akhirnya menarik tangan penulis. Dan akhirnya penulis ikut ayah pergi ke masjid.

No comments:

Post a Comment

Keluarga Bahagia Rezeki Lancar

  Siapa yang tidak menginginkan keluarganya bahagia, pasti semua orang di dunia ini menginginkan dan mendamba-dambakan momen itu. Sebab dida...