Tak terasa bulan yang agung telahlah tiba, sorak tadarus di setiap musholah dan masjid membuat
kaum muslimin bertakjub terharu rindu, kawanan anak kecil berlari-lari riang
gembira, menyambut bulan suci nan mulia. Semua warung makan di rorong-rorong
sepanjang jalan pada tutup, para pedagang makanan dan minuman nampak sepi.
Banyak orang menjalani puasa atas perintah Allah yang maha kuasa.
Kala
siang itu, penulis tak berpuasa lantaran masih kecil berusia 4 tahun, tak tahu
hukum dan makna dari berpuasa. Sehingga karna perut terus berkerut. Dengan
sepiring nasi kecil, dua potong tempe
dan setengah sendok sambal
sebagai teman nasinya penulis makan dengan lahap di teras depan rumah.
Tiba-tiba ayah dari dalam rumah keluar dengan cepatnya, laksana petir menyambar
perbukitan. Ayah langsung menghampiri penulis. “Makannya di dalam!. jangan di luar, ini bulan
puasa!.” (dengan nada keras ayah).
Penulis hanya menangis dan pergi kedalam rumah.
Keesokan harinya adalah hari jum’at, dimana kewajiban bagi laki-laki
yang baligh melaksanakan sholat jumat di masjid. Tak hanya itu anak-anak pun
banyak yang ikut bersama ayahnya untuk menunaikan sholat jumat di masjid. Tidak
bagi penulis, penulis malah main pasir di depan rumah. Ayah pun yang sudah siap
untuk pergi ke masjid. Menghampiri penulis dan mengajak penulis ke masjid. Tapi
penulis malah tidak mau, akhirnya menarik tangan penulis. Dan akhirnya penulis
ikut ayah pergi ke masjid.
No comments:
Post a Comment