Monday, April 29, 2019

15. BUDAYA DI MASYARAKAT


     Saat itu penulis bersama kedua orang tua dan kedua adiknya masih tinggal di desa Cipicung, Kec. Cipicung, Kab. Kuningan, Prov. Jabar. Dimana desa yang penuh dengan ketentraman, kenyamanan dan agamis. Karena masyarakat, para tokoh dan aparatur pemerintahan menjalin hubungan yang baik demi terwujudnya desa yang masyarakatnya madani.
            Tapi kini penulis dan keluarga harus tinggal di Desa tetangga, yaitu rumah yang berada di Desa Susukan, yang masih dalam satu kecamatan dengan kecamatan Cipicung. Perpindahan tempat tinggal ini, karena kakak penulis (Ajid Dulmajid) dan istrinya tidak mau tinggal di Desa susukan, padahal rumah mereka baru saja di bangun. Mereka tetap ingin tinggal di rumah yang berada di Desa Cipicung. Penulis dan kedua orang tua hanya mengalah saja.
            Selang satu tahun penulis tinggal di Desa Susukan ternyata masyarakat, para tokoh agama beserta jajaran aparatur pemerintahan desa disana kurang akur. Saling menjelek-jelekkan satu sama lain. Penulis mengetahui hal ini, karena penulis pernah aktif menjadi ketua di IRMA (Ikatan Remaja Mesjid) didesa tersebut.
            Selain itu, kesadaran masyarakat terhadap perintah Allah masih banyak yang meninggalkannya. Seperti shalat fardhu, puasa ramadhan, dan ada juga tawuran yang di provokasi oleh para remaja. Dari benak penulis sendiri, mempunyai tekad yang kuat serta komitmen untuk membangun desa yang aman, nyaman dan agamais dimasa mendatang, seperti di desa Cipicung.
            Ini adalah tugas penulis yang cukup besar, apalagi penulis saat ini mengambil prodi Ilmu Al Qur’an dan Tafsir di Fakultas Ushuluddin. Berdakwah adalah keharusan dan kewajiban bagi penulis sendiri, adapun tantangan yang akan terjadi itulah bentuk kesabaran berdakwah. Namun janganlah gentar, dengan mencontoh Rasulullah yang kuat dan semangat dalam berdakwah, kesabaran, cacian, dan pukulan yang diterimanya. semoga menjadi suplai bagi penulis untuk menjadi seorang da’i yang teguh pendirian dan tak tergoyahkan.

Bandung, Ahad 24 Desember 2017.





Bergerumuhnya bunyi nyaring dari berbagai kendaraan mobil dan motor, ditambah panasnya terik mentari disambut dengan banyaknya asap kendaraan serta orang-oramg yang berlalulalang hendak pulang ke kampung halaman. Begitupun nampak seorang pemuda yang sedang berdiri cukup diatas trotoar, dengan santainya dan sebatang rokok ditanganny, ia dengan sabar menunggu mobil damri jurusan bandung-kuningan yang lama tak kunjung lewat. Rupanya pemuda itu pun sudah rindu akan kampung halamannya.

No comments:

Post a Comment

Keluarga Bahagia Rezeki Lancar

  Siapa yang tidak menginginkan keluarganya bahagia, pasti semua orang di dunia ini menginginkan dan mendamba-dambakan momen itu. Sebab dida...