Saat itu penulis bersama kedua orang tua dan
kedua adiknya masih tinggal di desa Cipicung, Kec. Cipicung, Kab. Kuningan,
Prov. Jabar. Dimana desa yang penuh dengan ketentraman, kenyamanan dan agamis.
Karena masyarakat, para tokoh dan aparatur pemerintahan menjalin hubungan yang
baik demi terwujudnya desa yang masyarakatnya madani.
Tapi
kini penulis dan keluarga harus tinggal di Desa tetangga, yaitu rumah yang
berada di Desa Susukan, yang masih dalam satu kecamatan dengan kecamatan
Cipicung. Perpindahan tempat tinggal ini, karena kakak penulis (Ajid Dulmajid)
dan istrinya tidak mau tinggal di Desa susukan, padahal rumah mereka baru saja
di bangun. Mereka tetap ingin tinggal di rumah yang berada di Desa Cipicung.
Penulis dan kedua orang tua hanya mengalah saja.
Selang
satu tahun penulis tinggal di Desa Susukan ternyata masyarakat, para tokoh
agama beserta jajaran aparatur pemerintahan desa disana kurang akur. Saling
menjelek-jelekkan satu sama lain. Penulis mengetahui hal ini, karena penulis
pernah aktif menjadi ketua di IRMA (Ikatan Remaja Mesjid) didesa tersebut.
Selain
itu, kesadaran masyarakat terhadap perintah Allah masih banyak yang
meninggalkannya. Seperti shalat fardhu, puasa ramadhan, dan ada juga tawuran
yang di provokasi oleh para remaja. Dari benak penulis sendiri, mempunyai tekad
yang kuat serta komitmen untuk membangun desa yang aman, nyaman dan agamais
dimasa mendatang, seperti di desa Cipicung.
Ini
adalah tugas penulis yang cukup besar, apalagi penulis saat ini mengambil prodi
Ilmu Al Qur’an dan Tafsir di Fakultas Ushuluddin. Berdakwah adalah keharusan
dan kewajiban bagi penulis sendiri, adapun tantangan yang akan terjadi itulah
bentuk kesabaran berdakwah. Namun janganlah gentar, dengan mencontoh Rasulullah
yang kuat dan semangat dalam berdakwah, kesabaran, cacian, dan pukulan yang
diterimanya. semoga menjadi suplai bagi penulis untuk menjadi seorang da’i yang
teguh pendirian dan tak tergoyahkan.
Bandung, Ahad 24 Desember 2017.
Bergerumuhnya bunyi nyaring dari berbagai kendaraan mobil dan motor,
ditambah panasnya terik mentari disambut dengan banyaknya asap kendaraan serta
orang-oramg yang berlalulalang hendak pulang ke kampung halaman. Begitupun
nampak seorang pemuda yang sedang berdiri cukup diatas trotoar, dengan
santainya dan sebatang rokok ditanganny, ia dengan sabar menunggu mobil damri
jurusan bandung-kuningan yang lama tak kunjung lewat. Rupanya pemuda itu pun
sudah rindu akan kampung halamannya.
No comments:
Post a Comment