Thursday, October 24, 2019

Kasih Sayang Seorang Ibu

“Hayya a’alasholaah....” (terdengar dikumandangkannya adzan subuh di mesjid yang tidak cukup jauh dari rumah)
“Nak, ayo bangun, sudah adzan subuh. Kamu tidak akan sholat?. Nanti setelah solat, sarapan pagi yaah?. Tuuh, sarapanmu, sudah ibu siapkan di meja”.
Tradisi ini sudah berlangsung sejak kecil sejak pertama kali aku bisa mengingat. Kini usiaku sudah 20 tahun dan aku jadi seorang karyawan di sebuah perusahaan swasta. Tapi kebiasan ibu tak pernah berubah.
Suatu hari aku pernah berkata kepada ibu, “Ibuku sayang,, tidak usah repot-repot bu..., Aku dan adik-adik kan sudah dewasa...”, Pinta ku pada ibu pada suatu pagi. Wajah tua itu langsung berubah. Begitu juga pada saat ibu mengajak makan siang di sebuah lestoran. Buru-buru aku keluarkan uang dan ku bayar semuanya. Ingin ku balas jasa ibu selama ini dengan hasil keringatku. Raut sedih itu tidak bisa disembunyikan.
Kenapa ibuku mudah sekali sedih sahabat?.
Aku hanya bisa mereka-reka mungkin sekarang rasanya aku mengalami kesulitan memahami ibu karna dari sebuah artikel yang ku baca. Orang yang lanjut usia bisa sangat sensitif dan cenderung untuk bersifat kekanak-kanakan. Tapi,,, entahlah. Niatku ingin membahagiakan malah membuat ibu sedih. Seperti biasa ibu tidakkan pernah mengatakan apa-apa.
Suatu hari ku beranikan diri untuk bertanya kepada ibu,
“Bu, Maafkan aku yaah?. Kalau telah menyakiti perasaan ibu. Apa siih yang bikin ibu sedih?”.
Ku tatap sudut-sudut mata ibu. Ada genangan air mata disana. Terbata-bata ibu berkata. Tiba-tiba ibu merasa...
“Kalian tidak membutuhkan ibu, karna kalian sudah dewasa. Sudah bisa menghidupi diri sendiri. Ibu tidak boleh lagi menyiapkan sarapan untuk kalian?, Ibu tidak boleh lagi mengajak kalian makan di restoran?. Karna semua sudah bisa kalian lakukan sendiri”.
Yaa Allah,,, ternyata buat seorang ibu, bersusah payah melayani putra-putrinya adalah sebuah kebahagiaan. Suatu hal yang tidak pernah  ku sadari sebelumnya. Niat membahagiakan bisa jadi malah membuat orang tua menjadi sedih karna kita tidak berusaha untuk saling membuka diri. Melihat arti kebahagiaan dari sudut pandang masing-masing.
Diam-diam, aku bermuhasabah.
“Apa yang telah aku persembahkan untuk ibu dalam usiaku sekarang? Adakah ibu bahagia dan bangga pada putra-putrinya?” ketika itu ku tanya pada ibu.
Ibu lalu menjawab, “Banyak sekali nak, kebahagiaan yang telah kalian berikan pada ibu. Kalian tumbuh sehat dan lucu ketika bayi adalah suatu kebahagiaan untuk ibu. Kalian berprestasi di sekolah adalah kebanggaan untuk ibu. Kalian berprestasi dalam pekerjaan adalah kebanggaan untuk ibu. Setelah dewasa, kalian berperilaku sebagaimana seharusnya seorang hamba, itu kebahagiaan untuk ibu. Setiap kali binar mata kalian mengisyaratkan kebahagiaan, disitulah kebahagiaan seorang ibu, kebahagiaan orang tua”.
Lagi-lagi aku hanya bisa berucap, “Ampunkan aku Ya Allah. Kalau selama ini, sedikit sekali ketulusan yang ku berikan kepada ibu. Masih banyak alasan ketika ibu menginginkan sesuatu. Betapa sabarnya ibuku melalui liku-liku kehidupan. Sebagaimana seorang wanita karir, seharusnya banyak alasan yang bisa dilontarkan ibuku untuk cuti, dari pekerjaan rumah menyerahkan tugas itu kepada pembantu, tapi tidak!. Ibuku seorang yang idealis, menata keluarga, merawat dan mendidik anak-anak adalah hak preogratif seorang ibu yang takkan bisa dilimpahkan kepada siapapun”.
Kongkorongook.... (Terdengar suara ayam jago di halaman belakang rumah)
Pukul 3 dini hari ibu bangun dan membangunkan kami untuk tahajud. Menunggu subuh, ibu ke dapur menyiapkan sarapan. Sementar aku dan adik-adik sering tertidur lagi. Maafkan kami bu. 18 jam sehari sebagai pekerja seakan tak pernah membuat ibu lelah. Sanggupkah aku Ya Allah seperti ibuku!.
“Asholaaatu khoiruminannauum” (terdengar dikumandangkannya adzan subuh di mesjid yang tidak cukup jauh dari rumah)
“Nak, bangun nak, sudah adzan subuuh. Tuuh sarapannya sudah ibu siapkan di meja”.
Kali ini aku segera lompat, ku buka pintu kamar, dan ku rangkul ibu sangat mungkin, ku ciumi pipinya yang mulai keriput, ku tatap matanya lekat-lekat dan ku ucapkan,
“Terimakasih ibu, aku beruntung sekali memiliki ibu yang baik hati. Izinkan aku untuk membahagiakanmu”.
Ku lihat binar itu memancarkan kebahagiaan. “Cintaku ingin memilikimu. Ibu, aku sangat membutuhkanmu. Maafkan aku, yang belum bisa menjabarkan arti kebahagiaan untuk dirimu”.

Sahabat, tidak selamanya kata sayang harus diungkapkan dengan kalimat, “Aku, sayang padamu”. Namun begitu, Rasulullah saw menyuruh kita untuk menyampaikan rasa cinta yang kita punya kepada orang yang kita cintai karna Allah. Ayo kita mulai dari orang terdekat yang sangat mencintai kita. Ibu dan ayah, walau mereka tak pernah meminta dan mungkin telah tiada. Percayalah, kata-kata itu akan membuat mereka sangat berarti dan bahagia.
Wallahu a’lam.
Ya Allah... Cintai ibuku, beri aku kesempatan untuk bisa membahagiaan ibuku. Dan jika saatnya nanti ibuku kau panggil Ya Allah... panggillah dalam keadaan khusnul khatimah. Ampunilah segala dosa-dosanya dan sayangilah ia. Sebagaimana ia menyayangi aku, selagi aku masih kecil. titip ibuku Ya Allah...


Bandung, 25 Oktober 2019
Hamdan za

Saturday, October 19, 2019

Sayangi Ibu

     Seorang pria berhenti di toko bunga untuk memesan seikat karangan bunga yang akan dipaketkan pada ibundanya yang tinggal sejauh 250 km darinya. Begitu keluar dari mobil, ia melihat seorang gadis kecil berdiri di pinggir jalan sambil menangis tersedu-sedu. Pria itu menanyai kenapa ia menangis. Lalu si gadis kecil itu menjawab, “Aku ingin membeli setangkai bunga mawar untuk ibuku, akan tetapi.... aku cuma punya uang 500 Rupiah. Sedangkan mawar itu harganya... seribu O..m”, Hmmm...... pria itu tersenyum dan berkata, “Ayo ikut aku, aku akan membelikanmu bunga yang kamu mau”. kemudian mereka berdua masuk ke toko bunga dan pria itu membelikan si gadis kecil setangkai bunga mawar merah, dan ia sendiri memesan karangan bunga yang akan dikirimkan kepada ibundanya. Ketika selesai dan hendak pulang, ia menawarkan diri untuk mengantar gadis kecil itu pulang ke rumah. Lalu gadis kecil itu melonjak gembira sambil berkata, “ Yaah, tentu saja Om, aku senang sekali, karna Om mau mengantarkan aku ke tempat tinggal ibuku”, “Ooh yaaa..”. kemudian mereka berdua menuju ke tempat yang ditunjukan gadis kecil itu, yang ternyata sebuah  pemakaman umum. Dimana gadis kecil itu kemudian meletakkan bunganya pada sebuah kuburan yang masih basah. Melihat hal ini, hati pria itu terenyuh dan segera teringat sesuatu. Berbegas ia kembali ke toko bunga tadi, dan membatalkan pengiriman pesanannya. Ia mengambil bunga yang dipesannya tadi dan mengendarai sendiri kendaraannya sejauh 250 km menuju rumah ibundanya.

     Sahabat,,, Betapa beruntungnya kita yang masih memiliki ibu, ibu yang senantiasa ada pada saat kita sedih dan senang. Sahabat, ketika ibu masih ada disamping kita, kita kerap menafikan beliau dan sering membuatnya kecewa. Akan tetapi ketika ibu yang kita cintai telah tiada. Hanyalah penyesalan yang selalu ada. Sahabat, sebelum penyesalan datang, sayangilah ibumu sebelum ajal memisahkan kita.

Semoga Bermanfaat.....


Hamdan Za
Bandung, Sabtu, 19 Oktober 2019

Laporan KKN SISDAMAS 2019


LAPORAN INDIVIDUAL
KKN SISDAMAS TAHUN 2019
METODE SMART TAHFIDZ
(Pengenalan Metode Smart Tahfidz
 Pada Madrasah Diniyah Takmiliyah di Desa Paseh Kaler)
Oleh :
Hamdan za
NIM. 1161030055





PUSAT PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT
LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABADIAN KEPADA MASYARAKAT
UNIVERSITAS ISLAM  NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

 

 

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Analisis Permasalahan
Dalam menumbuhkan tingkat kesadaran individu disuatu komunitas masyarakat demi terealisasinya nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku tentu hal ini tidaklah mudah karena harus melalui beberapa proses. Apalagi orang yang baru muncul ditengah-tengah masyarakat dalam menilai dan membangun tingkat kesadaran dimasyarakat tersebut.
Setiap permasalahan yang dihadapi pada setiap wilayah tentu berbeda-beda. Adapun permasalah yang dihadapi di Desa Paseh Kaler ini banyak sekali. Minimnya tenaga pengajar di setiap instansi pendidikan formal ataupun non formal seperti : Madrasah Diniyah; Madrasah Tsanawiyah; Mesjid dan Surau; Metode pengajaran yang tidak profesional; Akses jalan dari perumahan penduduk ke sekolah SMP dan SMA cukup jauh hingga akhirnya banyak yang tidak melanjutkan pendidikannya terutama sekolah menengan keatas dan sebagainya.
B.     Indentifikasi Masalah
Permasalahan yang penulis hadapi salah satunya adalah persoalan minimnya tingkat kesadaran masyarakat baik dari kalangan anak-anak usia SD, SMP dan SMA ataupun orang dewasa dalam mengaji Al-Qu’ran. Hal ini salah satunya ternyata disebabkan kurangnya tenaga pengajar yang ada di desa tersebut.
C.     Tujuan dan Manfaat
Smart Tahfidz memiliki tujuan untuk:
  1. Mempermudah kita dalam menghafal nama-nama surat, setiap ayat & nomornya, judul/tema surat dan halaman, dengan cara menghubungkan dan mengasosiasikan antara kata kunci dengan suatu rumus tertentu.
  2. Mengefektifkan apa yang kita hafal dari short-term memory (memori jangka pendek) menjadi long-term memory (memori jangka panjang) dengan berbagai prinsip memori dan teknik-teknik yang terdapat didalamnya.
  3. Mempermudah dalam mengingat kembali hafalan yang sudah lama sehingga dapat diungkap kembali, melalui penggunaan kata cantol atau peg words.
Hafalan yang disimpan dalam short-term memory (memori jangka pendek) akan mudah hilang dalam ingatan atau terlupakan, dikarenakan dalam mengingat hanya menggunakan otak kiri saja yang salah satu fungsinya menjalankan memori jangka pendek sebagaimana diungkapkan oleh Roger Sperry dalam Mr. SGM (2008:5) yang menyatakan bahwa “kita memiliki sebuah otak yang terbagi ke dalam dua bagian fisiologis otak kiri dan kanan, yang masing-masing berkaitan dengan fungsi-fungsi mental yang berbeda.
Menghafal dengan melibatkan otak kanan akan menjadikan ingatan masuk ke dalam memori jangka panjang, cara mengingat dengan menggunakan teknik-teknik mnemonik inilah yang merupakan cara mengingat dengan melibatkan otak kanan sehingga informasi akan tersimpan lebih lama dan mudah untuk dipanggil kembali karena tersimpan dalam memori jangka panjang (long term-memory).
Adapun manfaat penggunaan teknik Smart Tahfidz, karena memudahkan mengingat, tentunya juga akan memudahkan dalam proses menghafal. Hambatan menghafal akan berkurang. Ini akan membangkitkan motivasi kita untuk lebih semangat dalam menghafal, sehingga akhirnya dapat mencapai hasil menghafal yang optimal. Jadi, capaian akhir penggunaan teknik Smart Tahfidz dalam menghafal adalah hasil yang optimal dengan cara yang cepat dan mudah.
Ketika menggunakan Smart Tahfidz dalam menghafal, akan disadari bahwa proses ingatan akan terasa lebih mudah. Imajinasi, perasaan, informasi dan pengalaman yang telah dialami sebelumnya memiliki peranan yang sangat penting dalam penerapan Smart Tahfidz ini.
Melalui imajinasi dan pemberian makna tertentu baik berupa emosi, visualisasi yang semakin tidak wajar pada informasi baru yang ingin diingat akan semakin mempermudah seseorang dalam menghafal hafalan yang baru tersebut.
D.    Metode Pengabdian
Dalam pengabdian di masyarakat di Desa Paseh Kaler ini, penulis menggunakan metode smart tahfidz. Dalam metode ini, kepada para perserta didik dituntut dengan menggunakan jari-jari tangan pada saat proses menghafalkan ayat-ayat al-Qur’an.
E.     Kerangka Pemecahan Masalah
Setiap murid-murid di Madrasah Diniyah tersebut rata-rata mereka mempunyai bakat dan semangat yang tinggi untuk menghafal al-Qur’an. Namun mereka tidak tahu bagaimana cara tercepat untuk mempermudah mereka menghafal. Oleh karena itu, penulis memperkenalkan metode jari.
Metode ini menggunakan metode jari yang merujuk pada praktik langsung untuk anak-anak usia dini yang menggunakan ruas-ruas jari sebagai patokan untuk menghafalnya berdasarkan daya tangkap dan pola pikir anak terkecuali keusia yang lebih rentan.[1]






















BAB II
GAMBARAN UMUM MASYARAKAT SASARAN
A.    Monografi Desa
Desa Paseh Kaler merupakan sebuah desa yang berada di wilayah Kecamatan Paseh Kabupaten Sumedang. Lokasinya berada di ujung barat daya wilayah Kecamatan Paseh dan berbatasan langsung dengan Kecamatan Conggeang dan Kecamatan Cimalaka. Jika dilihat dari pusat Kecamatan Paseh, posisinya berada di sebelah utara dengan jarak sekitar satu kilometer.
Berdasarkan catatan, pada awalnya Desa Paseh Kaler merupakan bagian dari wilayah Desa Paseh bersatu dengan wilayah Desa Paseh Kidul. Desa Paseh ini sudah ada sebelum dibentuknya Kecamatan Paseh sekarang. Pada waktu itu Kecamatan Paseh masih menjadi bagian dari wilayah Kecamatan Conggeang. Setelah dilakukan pemekaran wilayah Kecamatan Conggeang dan terbentuknya Kecamatan Paseh, desa-desa yang jumlahnya empat buah desa dimekarkan menjadi delapan wilayah desa. Ini termasuk wilayah Desa Paseh, sekitar tahun 1982 Desa Paseh dimekarkan menjadi dua wilayah desa yaitu Desa Paseh Kaler dan Desa Paseh Kidul. Sebagaimana namanya, kedua wilayah berada di bagian utara dan bagian selatan, dan yang menjadi pembatasnya adalah jalur jalan yang menghubungkan Sumedang dengan Cirebon.
Berdasarkan data Kecamatan Paseh dalam Angka tahun 2014 yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sumedang, pada tahun 2013 Desa Paseh Kaler memiliki status sebagai pedesaan dengan klasifikasi sebagai desa swakarsa. Secara topografis, wilayah Desa Paseh Kaler berada di kawasan dengan bentang permukaan tanah berupa campuran dataran, lereng dan perbukitan. Ketinggian wilayah dimana kantor desa berada pada 510 meter di atas permukaan laut. Secara geografis, wilayah Desa Paseh Kaler dikelilingi oleh wilayah-wilayah sebagai berikut: Desa Jambu Kecamatan Conggeang di sebelah utara, Desa Bongkok di sebelah barat, Desa Paseh Kidul dan Desa Legok Kaler di sebelah selatan, serta Desa Cibeureum Wetan Kecamatan Cimalaka di sebelah baratnya. Secara administratif, wilayah Desa Paseh Kaler terbagi ke dalam 12 wilayah Rukun Warga (RW) dan terbagi lagi ke dalam 33 wilayah Rukun Tetangga (RT).
Untuk luas wilayahnya, sebagaimana disajikan oleh sumber data yang sama, pada tahun 2013 Desa Paseh Kaler memiliki cakupan wilayah seluas 300 hektar. Wilayah Desa Paseh Kaler tersebut terbagi ke dalam beberapa jenis tata guna lahan, yaitu sebagai lahan pertanian, lahan pemukiman dan lahan lainnya. Lahan pertanian yang tercatat berupa lahan pesawahan yang mencakup wilayah seluas 30,7 hektar. Kemudian lahan pemukiman (rumah dan pekarangan) memiliki luasan sebesar 115,8 hektar. Dan sisanya seluas 153,5 hektar dipergunakan untuk tata guna lainnya.
Jika dilihat menggunakan Google Maps, wilayah Desa Paseh Kaler memanjang dari dekat pusat Kecamatan Paseh ke ujung barat laut wilayah kecamatan yang berada di kawasan kaki Gunung Tampomas bagian tenggara. Untuk topografi wilayah Desa Paseh Kaler secara umum berada di wilayah yang cukup landai di bagian tengah dan tenggara. Di bagian barat laut merupakan kawasan perbukitan di kaki Gunung Tampomas. Dan terkait tata guna lahannya, wilayah Desa Paseh Kaler memiliki tata guna lahan yang bervariasi. Bagian tenggara merupakan kawasan yang didominasi oleh kawasan pemukiman. Di kawasan ini terdapat juga kawasan pesawahan di ujung timurnya dan kawasan pertanian. Di bagian tengah didominasi oleh kawasan galian pasir di kaki Gunung Tampomas yang bercampur dengan lahan pertanian. Di ujung barat laut merupakan kawasan kehutanan.
Untuk jumlah penduduknya, sebagaimana disajikan oleh sumber data yang sama, pada tahun 2013 Desa Paseh Kaler dihuni penduduk sebanyak 5.203 orang. Dengan komposisi sebanyak 2.608 orang berjenis kelamin laki-laki ditambah sebanyak 2.595 orang berjenis kelamin perempuan. Jumlah kepala keluarganya sebanyak 1.665 KK. Dan kepadatan penduduk Desa Paseh Kaler, untuk setiap kilometer persegi luas wilayahnya dihuni penduduk rata-rata sebanyak 1.734 orang.
Dan untuk mata pencaharian penduduk Desa Paseh Kaler, sebagian besar penduduknya bekerja di sektor pertanian. Namun sektor ini tidak terlalu dominan jika dibandingkan dengan gabungan sektor lainnya selain sektor pertanian. Selain sektor pertanian, banyak juga penduduk Desa Paseh Kaler yang memiliki mata pencaharian di sektor industri, perdagangan dan konstruksi. Sebagian kecil lainnya bekerja di sektor transportasi dan jasa.
Sektor pertanian di Desa Paseh Kaler didominasi oleh lahan perkebunan. Hanya sedikit saja yang berupa lahan pesawahannya. Lahan pesawahan di Desa Paseh Kaler sebagian besar sudah menggunakan sistem pengairan teknis. Sehingga produktivitas lahan pesawahannya sangat baik dalam menghasilkan poduk utama berupa padi. Selain menghasilkan padi, dihasilkan juga jenis tanaman palawija seperti ubi kayu. Kemudian lahan perkebunannya menghasilkan berbagai jenis buah-buahan seperti alpukat, belimbing, dukuh, durian, jambu biji, pepaya, pisang, rambutan, salak, mangga, jeruk, nangka, sawo, dan sirsak.
Sektor industrinya, yang digeluti masyarakat Desa Paseh Kaler merupakan industri skala kecil. Jenis industrinya adalah dalam hal pengolahan makanan, kayu dan tekstil serta genteng/batu bata.
Untuk seni budayanya, di Desa Paseh Kaler masih terdapat kesenian Sunda yang masih terpelihara. Salah satunya adalah Seni Calung. Kemudian potensi wisata di Desa Paseh Kaler, yang memungkinkan untuk lebih dikembangkan lagi adalah Wisata Mata Air Cipaingeun yang merupakan sumber mata air bagi penduduk di Desa Paseh Kaler di Dusun Parumasan serta sumber irigasi bagi lahan pesawahan di sekitarnya.
B.     Kondisi Komunitas Sasaran
Semangat belajar dan menghafal pada murid-murid Madrasah Diniyah  tersebut sabfatlah tinggi. Namun karena keterbatasan para pengajar yang ada di sana serta tidak adanya metode khusus yang digunakan oleh para pengajar membuat murid-murid kesulitan dalam menghafal. Setiap sore mereka mengaji berdatangan dari setiap dusun ke Madrsah Diniyahh tersebut, namun mereka tidak patah semangat.



BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN PENGABDIAN
A.    Tahapan Pengabdian kepada Masyarakat
KKN Sisdamas dilaksanakan selama 30 hari terhitung sejak kedatangan ke lokasi KKN. Berdasarkan perhitungan waktu tersebut, peserta KKN dan DPL memastikan bahwa tahapan KKN Sisdamas dapat dilaksanakan menggunakan alokasi waku yang tersedia. Secara terjadwal tahapan KKN Sisdamas terdiri atas :[2]
1.      Soswal, RW, dan Refso (Sosialisasi Awal, Rembug Warga dan Refleksi Sosial) dilaksanakan pada minggu ke I;
2.      Peso (Pemetaan Sosial) dilaksanakan pada minggu ke II;
3.      Orgamas (Pengorganisasian Masyarakat) dilaksanakan pada minggu ke II;
4.      Cantif (Perencanaan Partisipatif) dilaksanakan pada akhir minggu ke II dan atau pada awal minggu ke III;
5.      Sipro (Sinergi Program) dilaksanakan oleh peserta KKN pada minggu ke III;
6.      Pepro (Pelaksanaan Program) dilaksanakan pada minggu ke III;
7.      Monev (Monitoring Evaluasi) dilaksanakan pada minggu ke IV.
sekalian melaksanakan penutupan KKN;
Setiap tahapan siklus tersebut, DPL hadir di lokasi KKN. Sekalipun jadwal tahapan KKN Sisdamas telah ditentukan waktunya, namun dalam pelaksanaannya sangat fleksibel dengan memperhatikan kondisi dan kesiapan warga di lokasi KKN.
Adapun yang berkaitan dengan tahapan pengabdian individu secara umum dintaranya yaitu :
a.     Hamdani, jurusan Ilmu Al-Qur’an Tafsir melakukan pengabdian Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) Nurul Washilah dan mengajar di pengajian anak-anak di Rw 05 dan Rw 08.
b.      Alif Taruna Anugrah Ramdhani, jurusan Ilmu Al-Qur’an Tafsir melakukan pengabdian dengan mengajar di Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) Nurul Washilah.
c.       Asri Nurjihan Alawiyyah, jurusan Pendidikan Agama Islam melakukan pengabdian dengan mengajar di MTs Al-Amanah dan di pengajian anak-anak pengajian anak-anak di Rw 05 dan Rw 08.
d.      Devi Silviani, jurusan Administrasi Publik melakukan pengabdian dengan mengajar di Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) Nurul Washilah dan di pengajian anak-anak di Rw 05 dan Rw 08.
e.       Dinda Sonia Puspitasari, jurusan Pendidikan Agama Islam melakukan pengabdian dengan mengajar MTs Al-Amanah dan pengajian anak-anak di Rw 05 dan Rw 08.
f.       Fitri Amalia, jurusan Sosiologi melakukan pengabdian mengajar pengajian anak-anak di Rw 05 dan Rw 08 dan penyuluhan kepada organisasi masyarakat (karang taruna).
g.      Asri Nurjihan Alawiyyah, jurusan Pendidikan Agama Islam melakukan pengabdian dengan mengajar di MTs Al-Amanah dan di pengajian anak-anak pengajian anak-anak di Rw 05 dan Rw 08.
h.      Imam Saepudin Hidayat, jurusan Sosiologi melakukan pengabdian dengan  sosialisasi pentingnya pendidikan kepada pemuda paseh pengajian anak-anak di Rw 05 dan Rw 08.
i.        M. Rizki Miftah Fauzan, jurusan Pendidikan Agama Islam melakukan pengabdian dengan mengajar di MTs Al-Amanah dan di pengajian anak-anak di Rw 05 dan Rw 08.
j.        Moch. Gumilar Sukasah, jurusan Agroteknologi melakukan pengabdian dengan melakukan penyuluhan mengenai ramah lingkungan dengan program urban farming kepada Kelompok Wanita Tani (KWT) Rw 05 Dusun Paseh.
k.      Naufal Ariq Fadlurrahman, jurusan Hubungan Masyarakat melakukan pengabdian dengan membangun karakter anak di Paseh dan mengajar pengajian anak-anak di Rw 05 dan Rw 08.
l.        Siti Mulyati, jurusan Administrasi Publik melakukan pengabdian dengan membantu kegiatan administrasi di desa seperti pengrekapan surat, pendampingan proses digitalisasi desa, dan input profil desa paseh kaler dan mengajar pengajian anak-anak di Rw 05 dan Rw 08.
m.    Siti samhah, jurusan Matematika melakukan pengabdian dengan mengajar di Mts Al-Amanah dan mengajar pengajian anak-anak di Rw 05 dan Rw 08.
n.      Whita Kaustavia, jurusan Admninistrasi Publik melakukan pengabdian dengan membantu kegiatan administrasi di desa dan mengajar pengajian anak-anak di Rw 05 dan Rw 08.
Adapun yang berkaitan dengan tahapan pengabdian secara khusus atau individu. Penulis dibantu oleh salah satu rekan satu jurusan dengan penulis. Ia bernama Alif Taruna Anugrah Ramdhani, jurusan Ilmu Al-Qur’an Tafsir.
B.     Hasil Pengabdian kepada Masyarakat
Kurangnya tenaga pengajar yang menguasai ranah tahfidz al-Qur’an di Desa Paseh Kaler ini membuat penulis tergugah untuk mengangkat sebuah tema smart tahfidz karena sesuai dengan backgroundnya yaitu program pendidikan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir. Alhamdulillah dengan adanya kehadiran penulis di tengah-tengah mereka membuat mereka bertambah semangat dalam menghafal Al-Qur’an. Tidak hanya dikalangan anak-anak, baik para tenaga pengajar disana maupun para orang tua murid pun ikut senang dan mensuport segala kebutuhan penulis dalam penelitiannya.
Penulis mengajar di Madrasah Diniyah Takmiliyah ini setiap hari dari pukul 14.00 WIB s.d pukul 16.00 WIB kecuali pada hari sabtu dan ahad libur. Di Madrasah ini terdiri dari 6 kelas, yaitu kelas 1 s.d kelas 6 SD. Jumlah murid-murid disana tidak lebih dari 150 orang. Banyaknya murid-murid disana membbuat penulis keteteran, oleh karena itu penulis di dampingi oleh beberapa rekan penulis. Dalam metode smart tahfidz ini, yang difokuskan oleh penulis adalah mengggunakan garis-garis pada jari-jari tangan kanan khususnya. Ibu jari sebagai penunjuk, sisa keempat jari tersebutlah yang dipakai untuk menghitung. Dalam hal ini setiap satu kali putaran angkanya mencapai 12. Jika 2 kali putaran berarti 24 dan seterusnya. Hal inilah yang dapat mempercepat hafalan.
hal yang ada korelasinya dengan hafalan diantaranya adalah sebagai berikut :
1.      Keutamaan dan keistimewaan para penghafal Al-Qur’an
Menghafal al-Quran termasuk ibadah sebagai tujuan hidup dalam islam jika dilakukan ikhlas karena Allah dan bukan untuk mengharapkan pujian di dunia sebagaimana fungsi alquran dalam kehidupan dan keajaiban alquran di dunia. Bahkan salah satu ciri orang yang berilmu menurut standar al-Quran, adalah mereka yang memiliki hafalan al-Quran sebagai cara dan bentuk manfaat membaca alquran setiap hari . Allah berfirman,
بَلْ هُوَ آَيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَمَا يَجْحَدُ بِآَيَاتِنَا إِلَّا الظَّالِمُونَ
Bahkan, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata, yang ada di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu..(QS. al-Ankabut: 49).
Al-Qur’an ialah pedoman bagi setiap estapeta hidup manusia, sejak alam kandungan hingga kembal menghadap Allah swt. Mengamalkannya adalah kemestian sedangkan abai akan peunjuknya hanya akan mengantar pada keterbelakangan.[3]
Banyak sekali keutamaan menghafal alquran sebagai sumber syariat islam sebagaimana makanan halal, minuman halal menurut islam , makanan haram menurut islam, hukum pernikahan dan fiqih muamalah jual beli, tentu saja ini dapat menjadi motivasi kita untuk belajar alquran dan juga mengajarkan alquran pada anak-anak, bahkan tidak hanya keutamaan untuk diri sendiri, seorang penghafal quran juga akan memberi keutamaan untuk keluarga terutama kedua orangtuanya.
            Berikut ini keutamaan orang yang menghafal al-Qur’an
a)      Hati Tidak Akan Pernah Merasa Kosong
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas secara marfu:
“Orang yang tidak mempunyai hafalan Al Quran sedikitpun adalah seperti rumah kumuh yang mau runtuh”. (Hadits diriwayatkan oleh Tirmizi dari Ibnu Abbas (2914), ia berkata hadits ini hasan sahih).
b)      Memperoleh penghormatan dari Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wasallam.
Dari Abi Hurairah Radiyallahu ‘anhu. ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wasallam mengutus satu utusan yang terdiri dari beberapa orang. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wasallam mengecek kemampuan membaca dan hafalan Al Qur’an mereka: setiap laki-laki dari mereka ditanyakan sejauh mana hafalan Al-Qur’an-nya. Kemudian seseorang yang paling muda ditanya oleh Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wasallam :”Berapa banyak Al Quran yang telah engkau hafal, hai Fulan?” ia menjawab: aku telah menghafal surah ini dan surah ini, serta surah Al-Baqarah. Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wasallam kembali bertanya: “Apakah engkau hafal surah Al-Baqarah?” Ia menjawab: Betul. Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda:”Pergilah, dan engkau menjadi ketua rombongan itu!”. Salah seorang dari kalangan mereka yang terhormat berkata: Demi Allah, aku tidak mempelajari dan menghafal surah Al-Baqarah semata karena takut aku tidak dapat menjalankan isinya. Mendengar komentar itu, Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda: “Pelajarilah Al Qur’an dan bacalah, karena perumpamaan orang mempelajari Al Quran  dan membacanya, adalah seperti tempat bekal perjalanan yang diisi dengan minyak misik, wanginya menyebar ke mana-mana. Sementara orang yang mempelajarinya kemudian dia tidur -dan dalam dirinya terdapat hafalan Al Qur’an- adalah seperti tempat bekal perjalanan yang disambungkan dengan minyak misik” (Hadits diriwayatkan oleh Tirmizi dan ia menilainya hadits hasan (2879), dan lafazh itu darinya. Serta oleh Ibnu Majah secara ringkas (217), Ibnu Khuzaimah (1509), Ibnu Hibban dalam sahihnya (Al Ihsaam 2126), dan dalam sanadnya ada ‘Atha, Maula, Abi Ahmad, yang tidak dinilai terpecaya kecuali Ibnu Hibban).
c)      Mengenakan Mahkota Kehormatan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, يَجِىءُ الْقُرْآنُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيَقُولُ يَا رَبِّ حَلِّهِ فَيُلْبَسُ تَاجَ الْكَرَامَةِ ثُمَّ يَقُولُ يَا رَبِّ زِدْهُ فَيُلْبَسُ حُلَّةَ الْكَرَامَةِ ثُمَّ يَقُولُ يَا رَبِّ ارْضَ عَنْهُ فَيَرْضَى عَنْهُ فَيُقَالُ لَهُ اقْرَأْ وَارْقَ وَتُزَادُ بِكُلِّ آيَةٍ حَسَنَةً
Al-Quran akan datang pada hari kiamat, lalu dia berkata, “Ya Allah, berikan dia perhiasan.” Lalu Allah berikan seorang hafidz al-Quran mahkota kemuliaan. Al-Quran meminta lagi, “Ya Allah, tambahkan untuknya.” Lalu dia diberi pakaian perhiasan kemuliaan. Kemudian dia minta lagi, “Ya Allah, ridhai dia.” Allah-pun meridhainya. Lalu dikatakan kepada hafidz quran, “Bacalah dan naiklah, akan ditambahkan untukmu pahala dari setiap ayat yang kamu baca. (HR. Turmudzi 3164 dan beliau menilai Hasan shahih). Al-Quran akan datang pada hari kiamat, lalu dia berkata, “Ya Allah, berikan dia perhiasan.” Lalu Allah berikan seorang hafidz al-Quran mahkota kemuliaan. Al-Quran meminta lagi, “Ya Allah, tambahkan untuknya.” Lalu dia diberi pakaian perhiasan kemuliaan. Kemudian dia minta lagi, “Ya Allah, ridhai dia.” Allah-pun meridhainya. Lalu dikatakan kepada hafidz quran, “Bacalah dan naiklah, akan ditambahkan untukmu pahala dari setiap ayat yang kamu baca. (HR. Turmudzi 3164 dan beliau menilai Hasan shahih).
d)     Kebahagiaan Bagi Kedua Orang Tua
Sabda rasulullah s.a.w.:“Daripada Buraidah Al Aslami ra, ia berkata bahawasanya ia mendengar Rasulullah s..a.w bersabda: “Pada hari kiamat nanti, Al Quran akan menemui penghafalnya ketika penghafal itu keluar dari kuburnya. Al Quran akan berwujud seseorang dan ia bertanya kepada penghafalnya: “Apakah anda mengenalku?”.
Penghafal tadi menjawab; “saya tidak mengenal kamu.” Al Quran berkata; “saya adalah kawanmu, Al Quran yang membuatmu kehausan di tengah hari yang panas dan membuatmu tidak tidur pada malam hari. Sesungguhnya setiap pedagang akan mendapat keuntungan di belakang dagangannya dan kamu pada hari ini di belakang semua dagangan.
Maka penghafal Al Quran tadi di beri kekuasaan di tangan kanannya dan diberi kekekalan ditangan kirinya, serta di atas kepalanya dipasang mahkota perkasa. Sedang kedua orang tuanya diberi dua pakaian baru lagi bagus yang harganya tidak dapat dibayar oleh penghuni dunia keseluruhannya.
Kedua orang tua itu lalu bertanya: “kenapa kami di beri dengan pakaian begini?”. Kemudian di jawab, “kerana anakmu hafal Al Quran.” Kemudian kepada penghafal Al Quran tadi di perintahkan, “bacalah dan naiklah ketingkat-tingkat syurga dan kamar-kamarnya.” Maka ia pun terus naik selagi ia tetap membaca, baik bacaan itu cepat atau perlahan (tartil)

e)      Mendapatkan Tempat Yang Tinggi di Surga
Sabda rasulullah Shallallahu ‘alayhi wasallam:
“Dari  Sisyah Radhiyallahu ‘anhu ia berkata, bahawasanya Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda; jumlah tingkatan-tingkatan surga sama dengan jumlah ayat-ayat Al Qur’an. Maka tingkatan surga yang di masuki oleh penghafal Al Qur’an adalah tingkatan yang paling atas, dimana tidak ada tingkatan lagi sesudah itu.
f)        Penghafal Al Qur’an adalah keluarga Allah ‘Azza wa Jalla
“Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga di antara manusia, para sahabat bertanya, “Siapakah mereka ya Rasulullah?” Rasul menjawab, “Para ahli Al Qur’an. Merekalah keluarga Allah dan pilihan-pilihan-Nya.” (HR. Ahmad)
g)      Hatinya terbebas dari siksa
Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wasallam
Dari Abdullah Bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu Dari  Nabi Shallallahu ‘alayhi wasallam Baginda bersabda: ” bacalah Al Qur’an kerana Allah tidak akan menyiksa hati orang yang hafal Al Qur’an. Sesungguhanya Al Qur’an ini adalah hidangan Allah, siapa yang memasukkunya ia akan aman. Dan barangsiapa yang mencintai Al Qur’an maka hendaklah ia bergembira.”
h)      Mendapatkan Kehormatan Dari Sesama Manusia
Yang menjadi imam suatu kaum adalah yang paling banyak hafalannya.” (HR. Muslim)
Dari Abu Hurairah ia berkata, “Telah mengutus Rasulullah SAW sebuah delegasi yang banyak jumlahnya, kemudian Rasul mengetes hafalan mereka, kemudian satu per satu disuruh membaca apa yang sudah dihafal, maka sampailah pada Shahabi yang paling muda usianya, beliau bertanya, “Surat apa yang kau hafal? Ia menjawab,”Aku hafal surat ini.. surat ini.. dan surat Al Baqarah.” Benarkah kamu hafal surat Al Baqarah?” Tanya Nabi lagi. Shahabi menjawab, “Benar.” Nabi bersabda, “Berangkatlah kamu dan kamulah pemimpin delegasi.” (HR. At-Turmudzi dan An-Nasa’i)
“Adalah nabi mengumpulkan di antara dua orang syuhada Uhud kemudian beliau bersabda, “Manakah di antara keduanya yang lebih banyak hafal Al Qur’an, ketika ditunjuk kepada salah satunya, maka beliau mendahulukan pemakamannya di liang lahat.” (HR. Bukhari)
i)        Mendapat syafaat dari Alquran
“Penghafal Quran akan datang pada hari kiamat dan AlQuran berkata: “Wahai Tuhanku, bebaskanlah dia. Kemudian orang itu dipakaikan mahkota karamah (kehormatan). AlQuran kembali meminta: Wahai Tuhanku, ridhailaih dia, maka Allah meridhainya. Dan diperintahkan kepada orang itu, bacalah dan teruslah naiki (derajat-derajat surga). Dan Allah menambahkan dari setiap ayat yang dibacanya tambahan nikmat dan kebaikan.” (HR Tirmidzi).
j)        Disayang oleh Rasulullah
Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wasallam:
Dari  Jabir Bin Abdullah Radhiyallahu ‘anhu Bahawa Nabi Shallallahu ‘alayhi wasallam menyatukan dua orang dari  orang-orang yang gugur dalam perang uhud dalam satu liang lahad. Kemudian nabi Shallallahu ‘alayhi wasallam bertanya, “dari mereka berdua siapakah paling banyak hafal Al Qur’an?” apabila ada orang yang dapat menunjukkan kepada salah satunya, maka Nabi Shallallahu ‘alayhi wasallam memasukkan mayat itu terlebih dahulu ke liang lahad.”
k)      Mendapat syafaat dari Alquran
“Penghafal Quran akan datang pada hari kiamat dan AlQuran berkata: “Wahai Tuhanku, bebaskanlah dia. Kemudian orang itu dipakaikan mahkota karamah (kehormatan). AlQuran kembali meminta: Wahai Tuhanku, ridhailaih dia, maka Allah meridhainya. Dan diperintahkan kepada orang itu, bacalah dan teruslah naiki (derajat-derajat surga). Dan Allah menambahkan dari setiap ayat yang dibacanya tambahan nikmat dan kebaikan.” (HR Tirmidzi).
l)        Termasuk sebaik-baik manusia
Sebaik-baik orang di antara kalian adalah orang yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya” (HR. Bukhari)
m)    Orang lain boleh iri padanya
Tidak boleh seseorang berkeinginan kecuali dalam dua perkara, menginginkan seseorang yang diajarkan oleh Allah kepadanya Al Qur’an kemudian ia membacanya sepanjang malam dan siang, sehingga tetangganya mendengar bacaannya, kemudian ia berkata, ’Andaikan aku diberi sebagaimana si fulan diberi, sehingga aku dapat berbuat sebagaimana si fulan berbuat” (HR. Bukhari)

2        Hukum bagi orang yang lupa terhadap hafalan Al-Qur’an
1. Fatwa Secara Umum
Kalau kita perhatikan fatwa para ulama, memang benar kebanyakan berfatwa atas haramnya melupakan hafalan ayat Al-Quran. Bahkan ada yang sampai mengatakan dosa besar. Berikut ini ada beberapa fatwa mereka, saya urutkan berdasarkan angka tahun wafatnya :
a.       Ibnu Taimiyah
Ibnu Taimiyah (w. 728 H) di dalam Majmu’ Fatawa menyebutkan bahwa orang yang melupakan Al-Quran itu termasuk berdosa.
b.      Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani (w. 852 H) di dalam kitabnya Fathul Bari, menyebutkan pandangan beliau terhadap orang yang belajar Al-Quran lalu melupakannya. Tidaklah seseorang belajar Al-Quran kemudian melupakannya kecuali dia telah menciptakan sendiri dosanya. Sesuai firman Allah SWT,”Musibah yang menimpamu dari maksiat adalah yang kamu lakukan sendiri”. Dan melupakan Al-Quran termasuk musibah yang paling besar.
Fatwa Ibnu Hajar ini menjawab salah satu pertanyaan Anda, yaitu kalau orang lupa kok dihukum bersalah, padahal lupa itu sifat manusia, maka menurut beliau kasus itu sama saja dengan orang yang sedang dapat musibah. Memang tidak 100% kesalahan dia, tetapi tetap saja dianggap bersalah.
Perumpamaannya di zaman sekarang misalnya ada sepeda motor menabrak mobil kita dari belakang. Jelas bukan salah kita, tetapi namanya saja musibah, selain mobil rusak, biasanya kita pun ditilang juga, karena tetap dianggap telah melakukan pelanggaran oleh polisi. Kita sebenarnya tidak salah, tapi kita kena musibah dan dipersalahkan.
c.       Zakaria Al-Ashari
Zakaria Al-Ashari (w. 926 H) di dalam kitabnya Asna Al-Mathalib menyebutkan bahwa melupakan Al-Quran itu bukan hanya sekedar berdosa saja, melainkan berdosa besar. Malahan menurut beliau meskipun hanya sebagian saja yang terlupa, juga sudah termasuk dosa besar. Melupakan Al-Quran termasuk dosa besar, termasuk melupakan sebagainnya sudah termasuk juga. Dasarnya menurut beliau adalah dua hadits berikut :
Aku diperlihatkan dosa-dosa umatku, ternyata yang paling besar adalah dosa orang yang telah diberikan Al-Quran, baik satu surat atau satu ayat, lalu dia melupakannya. (HR. Abu Daud).
Orang yang membaca Al-Quran kemudian melupakannya, nanti dia akan bertemu Allah dalam keadaan terpotong/kusta. (HR. Abu Daud).
d.      Fatwa Secara Kritis
Kalau di atas kita dapati fatwa secara umum tentang haramnya melupakan hafalan Al-Quran, maka pada bagian ini kita akan kaji secara lebih kritis lagi, yaitu apakah hanya semata-mata lupa karena faktor manusiawi lantas kita bisa dikategorikan telah melakukan dosa besar?
Dalam hal ini para ulama melihat secara lebih seimbang, adil dan juga memperhatikan faktor manusiawi. Sebab ada banyak keadaan yang sulit juga untuk dipungkiri, antara lain :
                                    a. Lupa Adalah Sifat Dasar Manusia
Allah SWT memang menciptakan manusia yang tidak bisa luput dari salah satu sifat dasarnya, yaitu lupa. Meskipun ada juga lupa yang disebabkan karena perbuatan syetan, namun bukan berarti manusia tidak bisa lupa.Dalam kenyataannya, semua penghafal Al-Quran pasti tidak bisa terlepas dari masalah lupa. Tentu saja ketika hal itu terjadi, tidak bisa disamakan kasusnya dengan perbuatan bosa besar lainnya seperti zina, mencuri, membunuh nyawa manusia dan seterusnya. Kalau memang demikian, maka semua penghafal Al-Quran itu jatuh semua ke dalam lembah dosa-dosa besar secara keseluruhannya.
Padahal Allah SWT telah berfirman tentang kelemahan sifat manusia ini dan memberikan keringanan di dalam banyak ayat : Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (QS. Al-Baqarah : 286) Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. At-Taghabun : 16)
b. Nabi SAW Pernah Lupa Ayat Al-Quran
Nabi SAW sebagai manusia pun juga tidak luput dari sifat lupa, karena lupa adalah salah satu fitrah manusia. Setidaknya ada dua kejadian yang bisa dijadikan dasar bahwa lupa adalah manusiawi.
Kejadian Pertama : Rasulullah SAW mengimami shalat dan pernah terlupa untuk meneruskan bacaan suatu ayat. Setelah shalat usai, seorang shahabat yaitu Ubay bin Ka’ab radhiyallahuanhu mengingatkan ayat yang beliau SAW terlupa tadi. Maka Rasulullah SAW pun menjawab : Mengapa tadi tidak mau ingatkan? Kejadian Kedua : Ada seseorang yang membaca suatu ayat dari Al-Quran dan Rasulullah SAW mendengarnya. Beliau bersabda : Semoga Allah merahmati si fulan. Dia telah mengingatkan Aku atas suatu ayat yang Aku terlupa.
Dua kejadian ini jelas sekali memberikan gambaran kepada kita, bahwa meski beliau SAW seorang nabi, namun tetap saja beliau adalah manusia biasa yang bisa lupa, termasuk lupa atas suatu ayat Al-Quran pada keadaan tertentu.           Maka kita perlu bedakan dua jenis lupa. Ada lupa yang haram yaitu sengaja melupakan dan melalaikan. Tapi ada juga lupa yang bersifat tabi’i, manusiawi, serta merupakan sifat asli manusia dan tidak bisa dihindari darinya.
Dalam hal ini menarik kalau kita perhatikan fatwa dari Lajnah Daimah Kerajaan Saudi Arabia terkait masalah ini.
Lajnah Daimah Kerajaan Saudi Arabia, yang diwakili oleh Syeikh Abdul Aziz bin Baz, Abdurrazzaq Afifi, Abdullah bin Ghadyah dan Abdullah bin Qu’ud telah mengeluarkan fatwa dalam masalah ini.
Tidak pantas bagi penghafal Al-Quran melalaikan bacaannya. Dia harus merutinkan setiap hari agar terus hafal dan terlindung dari lupa. Namun bagi yang pernah hafal ayat tertentu lalu terlupa karena kesibukan atau lalai, maka dia tidak berdosa. Sedangkan ancaman buat orang yang lupa, haditsnya tidak shahih.
e.       Fatwa Al-Utsaimin
Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin di dalam Kitabul Ilmi menjelaskan bahwa lupa itu ada dua macam, yang satu tidak berdosa dan yang satu lagi berdosa. Dan lupa yang berdosa apabila melupakan Al-Quran dengan cara secara sengaja menolak Al-Quran.
Hal itu beliau jelaskan ketika para mahasiswa semester akhir mengadukan masalah hafalan Al-Quran mereka pada di semester-semester awal banyak yang sudah terlupa. Maka beliau menjawab bahwa lupa itu ada dua macam.
Lupa yang pertama adalah lupa terkait tabiat dasar manusia. Lupa yang kedua memang sengaja menolak Al-Quran dan tidak memperhatikannya. Lupa jenis pertama itu tidak berdosa dna tidak dihukum. Dan itu adalah lupa yang terkait dengan sifat manusia. Tidak Mau Menghafal Al-Quran Karena Takut Dosa Melupakan. Salah satu dampak negatif yang muncul apabila kita kurang cerdas memahami fatwa ini adalah adanya orang yang berpikir terbalik. Dari pada menghafal Al-Quran lalu terkena resiko berdosa lantaran bisa saja lupa, maka mendingan tidak usah menghafal saja sekalian, biar tidak ada resiko lupa dan tidak ada ancaman dosa.
C.     Faktor Pendukung dan Penghambat
Diantara faktor-faktor pendukung yang dapat membantu merealisasikan tujuan menghafal Al Quran adalah:[4]
1.      Faktor kesehatan
Kesehatan merupakan salah satu faktor yang sangat penting bagi orang yang akan menghafalkan al-Qur’an. Jika tubuh sehat maka peroses menghafalkan akan menjadi lebih mudah dan cepat tanpa adanya penghambat, dan batas waktu menghafal menjadi relatif cepat. Namun, bila tubuh tidak sehat maka akan sangat menghambat ketika menjalani proses menghafal. Misalnya, saat sedang semangat-semangatnya menghafal, secara tiba-tiba anda jauh sakit. Akibatnya proses untuk menghafalkan al-Qur’an pun akan terganggu.
Oleh karena itu, sangat disarankan agar selalu menjaga kesehatan, sehingga ketika menghafal tidak ada kendala karena keluhan dan rasa sakit yang diderita. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menjaga pola makan, menjaga jadwal waktu tidur, mengecek kesehatan secara rutin, dan lain sebagainya.
2.      Faktor psikologis
Kesehatan yang diperlukan oleh orang yang menghafalkan al-Qur’an tidak hanya dari segi kesehatan lahiriah, tetapi dari segi psikologinya. Sebab, jika secara psikologis terganggu, maka akan sangat menghambat proses menghafal. Sebab, orang yang menghafalkan al-Qur’an sangat membutuhkan ketenangan jiwa, baik dari segi pikiran maupun hati. Namun, bila banyak sesuatu yang dipikirkan atau dirisaukan, proses menghafal pun akan menjadi tidak tenang. Akibatnya, banyak ayat yang sulit untuk hafal. Oleh karena itu, jika mengalami gangguan psikologi, sebaiknya perbanyak berdzikir, melakukan kegiatan yang positif, atau berkonsultasi kepada psikiater.
3.      Faktor kecerdasan
Kecerdasan merupakan salah sau faktor pendukung dalam menjalani proses menghafalkan al-Qur’an. Setiap individu mempunyai kecerdasan yang berbeda-beda. Sehingga, cukup mempengaruhi terhadap proses hafalan yang dijalani.
      Meskipun demikian, bukan berarti kurangnya kecerdasan menjadi alasan untuk tidak bersemangat dalam proses menghafalkan al-Qur’an. Sebagaimana diuraikan sebelumnya, hal yang paling penting ialah kerajianan dan istiqomah dalam menjalani hafalan.
4.      Faktor motivasi
Orang yang menghafalkan al-Qur’an, pasti sangat membutuhkan motivasi dari orang-orang terdekat, kedua orang tua, keluarga, dan sanak kerabat. Dengan adanya motivasi, ia akan lebih bersemangat dalam menghafalkan al-Qur’an. Tentunya, hasilnya akan berbeda jika motivasi yang didapatkan kurang. Kurangnya motivasi dari orang-orang terdekat atau dari keluarga akan menjadi salah satu faktor penghambat bagi sang penghafal iu sendiri.
5.      Faktor usia
Usia bisa menjadi salah satu faktor penghambat bagi orang yang hendak menghafalkan al-Qur’an. Jika usia sang penghafal sudah memasuki dewasa atau berumur, maka akan banyak kesulitan yang akan menjadi penghambat. Selain itu, otak orang dewasa juga tidak sejernih otak orang yang masih muda, dan sudah memikirkan hal-hal lain.
      Sebenarnya, kurang tepat bagi yang sudah berusia dewasa untuk memulai menghafalkan al-Qur’an. Walaupun pada dasarnya mencari ilmu tidak kenal dengan waktu dan usia, serta mencari ilmu sampai akhir hayat. Akan tetapi, di usia dewasa akan banyak hal yang masih dipikirkan, selain menghafalkan al-Qur’an. Oleh karena itu, jika hendak menghafalkan al-Qur’an, sebaiknya pada usia-usia yang amsih produktif supaya tidak mengalami berbagai kesulitan.
Adapun Faktor-faktor penghambat dalam proses menghafal al-qur’an adalah sebagai berikut :
1.      Tidak menguasai makhorijul huruf
Salah satu faktor kesulitan dalam menghafal al-Qur’an ialah karena bacaan yang tidak bagus, baik dari segi makhrojul khuruf, kelancaran membacanya, ataupun tajwidnya. Untuk menguasai al-Qur’an dengan baik dan benar, maka harus menguasai makhrojul huruf dan memahami tajwid dengan baik. Walaupun pada dasarnya menghafalkan al-Qur’an tidak pernah lepas dari kendala dan beberapa problem yang menyulitkan, maka ia akan mengalami banyak kesulitan.selain itu, orang yang tidak menguasai makhorijul huruf dan memahami ilmu tajwid, kesulitan dalam menghafal akan benar-benar terasa, dan masa menghafal juga akan semakin lama. Tanpa menguasai keduanya, bacaan al-Qur’annya pun kaku, tidak lancar, dan banyak yang salah. Padahal, orang yang hendak menghafal al-Qur’an bacaannya terlebih dahulu harus lancar dan benar, sehingga memudahkan dalam menjalani proses menghafal al-Qur’an.
2.      Berganti-ganti mushaf
Berganti-ganti dalam menggunakan al-Qur’an juga akan menyulitkan proses menghafal dan mentakrir al-Qur’an, serta dapat melemahkan hafalan. Sebab, setiap al-Qur’an atau mushaf mempunyai posisi ayat dan bentuk tulisan yang berbeda-beda. Tulisan ayat-ayat al-Qur’an ada yang simple (praktis) dan ada yang tidak. Hal ini bisa menyebabkan kesulitan untuk membayangkan posisi ayat. Akibatnya, dapat timbul keragu-raguan pada saat melanjutkan ayat yang berada di awal halaman selanjutnya setelah selesai membaca ayat yang berbeda di akhir halaman.
Oleh karena itu, disarankan untuk menggunakan hanya satu al-Qur’an, sehingga tidak menyulitkan saat menghafal, terutama dalam mengulang-ulang al-Qur’an. Apabila menggunakan satu al-Qur’an, maka akan paham letak ayat, halaman sebelum dan sesudahnya, serta bekas coretan-coretan dari pensi atau stabilo untuk mengingat dan menandai ayat yang sebelumnya paling sulit dihafalkan.
3.      Tidak banyak berdoa
Berdoa merupakan senjata bagi umat Islam. Sebagai umat Islam, kita harus yakin bahwa tidak ada yang sia-sia dari usaha berdoa, sekaligus yakin bahwa Allah akan selalu mengabulkan doa, atau diganti dengan yang lebih baik dari permintaan semula. Bagi para penghafal al-Qur’an apabila tidak berdoa kepada Allah, maka ketika sedang menghadapi kesulitan dalam menghafal, Allahtidak akan membantunya. Sebab, ia tidak meminta kepada-Nya. memperbanyak doa dan menyampaikan semua keluh kesah dan permintaan supaya dijauhkan dari kesulitan dalam meghafal al-Qur’an merupakan salah satu sarana yang sangat tepat supaya mudah dalam menghafalkan al-Qur’an.

Dengan berdoa, maka akan terasa selalu dekat dengan Allah swt. Sesungguuhnya, seseorang yang sedang dalam kesulitan hanya kepada-Nya-lah tempat meminta. Dan, hanya Dia-lah yang akan mengabulkan permintaan. Akan tetapi, jika jarang berdoa, bahkan tidak melakukannya sama sekali, maka ketika dalam kesulian, Allah tidak akan membantu. Sebab, tidak berdoa dan meminta kepada-Nya agar dimudahkan dalam menghafal al-Qur’an.
Adapun waktu yang tepat dalam berdoa, antara pada waktu sahur, usai shalat, dan sepuluh akhir bulan Ramadhan. Dan, lebih utama ketika sendirian dalam keheningan malam, saat hujan, dalam perjalanan, selesai adzan, ketika berbuka puasa, dan lain-lain. Selain itu, ada beberapa tempat yang dapat mempercepat terkabulnya doa, misalnya di Makkah dan Madinah, dekat Hajar Aswad, Ka’bah, Raudhah, masjid dan lain-lain.

4.      Tidak memuroja’ah
Seorang penghafal al-Qur’an harus memiliki jadwal khusus untuk mengulangi hafalan. Jadi ia harus memiliki wirid harian untuk muraja’ah hafalan yang sudah dihafal, baik di dalam shalat ataupun  diluar shalat. Sebab, diantara salah satu penyebab hafalan al-Qur’an cepat hilang ialah karena tidak memiliki jadwal khusus muraja’ah.
      Rasulullah saw telah memberikan peringatan kepada orang yang hafal al-Qur’an untuk selalu menjaga hafalan. Sebab, al-Qur’an akan lebih mudah lepas dibandingkan dengan seekor unta yang terikat kuat. Hal ini sesuai dengan sabda berikut :
تعاهدوا القران فوالذي نفسي بيده لهو اشد تفصيا من قلوب الجال من الابل من عقلها
“Jagalah al-Qur’an demi yang jiwaku berada di tangan-Nya. Al-Qur’an itu lebih cepat lepas dari hati penghafalnya daripada lepasnya seekor unta dari ikatannya” (H.R Bukhari)
Dengan pandai mengatur waktu, penghafal al-Qur’an akan terbantu dalam memelihara hafalannya. Dengan mengatur waktu, ia akan selalu mengulang-ulang hafalan yang senantiasa berkelanjutan. Oleh karena itu, biasakan waktu untuk tidakk melewatkan waktu tanpa melakukakan hal-hal yang bermanfaat.
      Dengan demikian, ketidakkonsistenan dalam mengulang hafalan juga akan mempercepat hilangnya hafalan. Mengulang dengan semaunya tanpa memenuhi target, bias berdampak tidak baik. Akibatnya, ia akan cenderung malas untuk mengulang. Hal inilah  yang dapat menyebabkan hilangnya hafalan.
5.      Malas melakukan sema’an

Salah satu metode agar hafalan tidak mudah lupa adalah dengan melakukan sema’an denagn sesama teman, senior, atau kepada guru dari ayat-ayat yang telah hafal. Namun, jika malas atau tidak mengikuti sema’an, maka hal tersebut akan menyebabkan hafalan mudah hilang.
Selain itu, jika tidak suka melakukan sema’an, ketika ada kesalah ayat, hal itu tidak akan terdeteksi. Sebab, tidak ada teman yang mendengarkan hafalan. Oleh karena itu, perbanyaklah melakuakan sema’an. Sebab, dengan banyak mengikuti sema’an, sama halnya mengulang hafalan yang terdahulu atau yang baru.
6.      Tidak sungguh-sungguh
Penghafal al-Qur’an akan merasa kesulitan dalam menjalani proses menghafalnya jika tidak kerja keras dan sungguh-sungguh. Sbenarnya, terkadang kesulitan tersebut disebabkan karena safat malas serta ketidaktekunan dalam menghafal.
      Apabila ingin menjadi seorang hafidz, maka harus bekerja keras dan sungguh-sungguh dalam menghafal al-Qur’an, layaknya orang yang siap mencapai sebuah kesuksesan. Aktivitas menghafal al-Qur’an ini lebih bernilai ibadah disisi Allah daripada ujuan-tujuan yang lain. Dengan menghafal al-Qur’an, berarti telah melestraikan terjaganya keaslian al-Qur’an dari penyimpangan dan dari orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Sebab, sesungguhnya, orang yang bekerja keras dan bersungguh-sungguh menghafal adalah manusia pilihan Allah swt.
      Jika tidak bekerja keras dan sungguh-sungguh dalam menghafal al-Qur’an, berarti niat hanya setengah hati. Oleh karena itu, harus berusaha untuk menghadirkan mood atau melawan kemalasan, baik pada pagi, siang dan malam. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah saw berikut :
“Dan, karuniakanlah kami agar dapa membacanya pada awal malam dan pada ujung siang”
7.      Tidak menghindari dan menjauhi perbuatan dosa
Tidak menghindari dan menjauhi perbuatan dosa akan membuat kesulitan dalam menghafal al-Qur’an. Hal tersebut sama dengan ketika tidak menghindari perbuatan yang dilarang, sehingga yang mengakibatkan hafalan al-Qur’an mudah lupa atau hilang. Melakukan maksiat melalu mata menjadikan mata kotor dan ternoda, melihat wanita yang bukan muhrimnya yang memakai pakaian terbuka juga merupakan musibah. Hal ini akan membuat kesulitan untuk menghafal al-Qur’an. Oleh karena itu, hindarilah perbuatan maksiat supaya mata bersih dan tidak mengalami kesulitan dalam menghafal.
            Begitu juga jika melakukan maksiat melalui telinga, dengan dibiarkan mendengarkan sesuatu yang bermaksiat, yang mengakibatkan kesulitan menghafal al-Qur’an. Hal ini akan mengakibatkan pikiran tidak konstrasi karena mendengarkan sesuatu yang berbau maksiat atau menganggu  dalam proses menghafal.
            Sama halnya apabila melakukan maksiat hati. Hal ini akan sangat menghabat dan menyulitkan dalam menghafal ayat-ayat al-Qur’an. Diantara penyakit hati yang dapat menggangu proses menghafal al-Qur’an ialah dengki, hasud, berprasangka buruk terhadap orang lain, serta merasa takjub dan heran terhadap kehebatan dirinya. Inilah penyakit yang membuat hati \menjadi kotor dan keruh. Olehh karena itu, bagi para penghafal al-Qur’an sebaiknya membuang jauh-jauh penyakit-penyakit tersebut agar bisa menghafalkan lebih mudah.
            Hal tersebut sesuai dengan yang telah dijelaskan oleh Imam Ibnu Munadi dalam satu kesempatan. Ia berkata : “Sesungguhnya, menghafal memiliki beberapa sebab (yang membantu). Diantaranya, menjauhkan diri dari hal-hal yang tercela. Hal itu dapat terwujud apabila seseorang mencegah dirinya dari keburukan., menghadap kepada Allah swt dengan ridha, memasang telinganya, dan pikirannya bersih dari ar-rain (sesuatu yang menutupi hati dari keburukan)”.
















BAB IV
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Secara umum kegiatan Kuliah Kerja Nyata Berbasis Pemberdayaan Mayarakat (KKN SISDAMAS) 2019 UIN Sunan Gunung Djati Bandung di Desa Paseh Kaler Kecamatan Paseh Kabupaten Sumedang berjalan lancar dan sesuai dengan rencana pelaksanaan. Adapun hambatan dalam pelaksanaan KKN SISDAMAS bisa dijadikan bahan pembelajaran dan evaluasi pada kegiatan KKN berikutnya. Dari kegiatan memperkenalkan metode Smart Tahfidz kepada anak-anak di desa Paseh Kaler mereka menanggapi dan merespon dengan positif program tersebut. Masyarakat juga turut memberikan masukan dan saran dalam kegiatan KKN di Desa Paseh Kaler. Dari kegiatan memperkenalkan Metode Smart Tahfidz kepada anak-anak di desa Paseh Kaler dilakukan dengan menggunakan jari-jari tangan. Hal ini sesuai dengan harapan masyarakat agar anak-anak dapat menghafal Al-Qur’an dengan cepat dan menanamkan nilai-nilai kecintaan terhadap Al- Qur’an  sejak dini salah satunya dengan menghafalkannya dengan metode yang asing bagi mereka tetapi enak saat dipakai dan lebih mengefisienkan waktu serta menambah daya ingat pada hafalan.
B.     Rekomendasi
1.      Rekomendasi untuk Masyarakat Sasaran
Semoga setelah diberikannya pembekalan pengenalan metode Smart Tahfidz kepada anak-anak di desa Paseh Kaler ini bisa memberikan kesadaran terhadap kecintaannya kepada Al-Qur’an.
2.      Rekomendasi untuk Peserta KKN Berikutnya
Untuk peserta KKN berikutnya diharapkan untuk dapat mempersiapkan diri baik moral ataupun moril agar dapat melaksanakan kegiatan KKN sesuai rencana. Mempersiapkan segalanya secara matang sehingga dapat mengurangi hambatan yang akan terjadi saat di lapangan ketika berlangsung kegiatan KKN.
3.       Rekomendasi untuk Pusat Pengabdian Kepada Masyarakat LP2M UIN Sunan Gunung Djati Bandung Sebaiknya KKN dilaksanakan dengan persiapan yang cukup matang dan jeda waktu yang cukup antara pembekalan dan pemberangkatan. Hal ini akan memberikan kesempatan kepada para peserta KKN untuk lebih mempersiapkan diri dengan segala hal yang diperlukan. Sebaiknya LP2M mengadakan training bagaimana menjalin komunikasi efektif dengan berbagai pihak. Bagaimana mengelola jaringan dengan masyarakat, pengusaha, birokrat, politis, dan seterusnya.

DAFTAR PUSTAKA
Hidayat, Adi. 2018.  Muslim Zaman Now Metode At-Taisir. Bekasi : Institut Quantum Akhyar.

Izan, Ahmad. 2018. Metode Pembelajaran Al-Qur’an. Bandung : Pustaka Aura Semesta.

Dr. Munir dkk. 2019. Panduan KKN Sisdamas 2019/2020 . Bandung : LP2M UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Alawiyah Wahid, Wiwi. 2014. Cara Cepat Bisa Menghafal Al-Qur’an . Yogjakarta : Diva Press.
























LAMPIRAN
Lampiran 1 deskripsi kegiatan
No
Tanggal
Waktu
Tempat
Kegiatan
1
22/08/2019
Pkl. 14.00-16.00 WIB
MDT Takmiliyah
Ta’aruf

2
23/08/2019
Pkl. 14.00-16.00 WIB
MDT Takmiliyah
Pengenalan Metode Smart Tahfidz
3
26/08/2019
Pkl. 14.00-16.00 WIB
MDT Takmiliyah
Praktik Smart Tahfidz
4
27/08/2019
Pkl. 14.00-16.00 WIB
MDT Takmiliyah
Belajar Sifat huruf
5
28/08/2019
Pkl. 14.00-16.00 WIB
MDT Takmiliyah
Belajar Tahsin
6
29/08/2019
Pkl. 14.00-16.00 WIB
MDT Takmiliyah
Kisah Inspiratif Hufadz
7
30/08/2019
Pkl. 14.00-16.00 WIB
MDT Takmiliyah
Perlombaan Hafalan







Laporan 2 dokumentasi kegiatan
1.      Ta’aruf
2.      Pengenalan Smart Tahfidz


3.      Motivasi Hufadz Al-Quran

4.      Storan Hafalan
5.      Perlombaan Tahfidz dan Perpisahan

6.      Peta Desa Paseh Kaler Kec. Paseh Kab. Sumedang


[1] Ahmad Izzan & Didin Moh. Saepudin, Metode Pembelajaran Al-Qur’an (Bandung:Pustaka Aura Semesta, 2018), h.145.
[2] Dr. Munir dkk, Panduan KKN Sisdamas 2019/2020 (Bandung: LP2M UIN Sunan Gunung Djati Bandung, 2019), h, 21.
[3] Adi Hidayat, Muslim Zaman Now Metode At-Taisir (Bekasi: Institut Quantum Akhyar, 2018), h. 9.
[4] Wiwi Alawiyah Wahid, Cara Cepat Bisa Menghafal Al-Qur’an (Yogjakarta: Diva Press, 2014), h. 139.

Keluarga Bahagia Rezeki Lancar

  Siapa yang tidak menginginkan keluarganya bahagia, pasti semua orang di dunia ini menginginkan dan mendamba-dambakan momen itu. Sebab dida...