Monday, April 29, 2019

10. MASA PUTIH ABU


     Para remaja seusia penulis yang pada saat itu mereka berusia 16-18 tahunan, sedang penulis pada saat itu berusia 18 tahun. para remaja dari kalangan SMA dan SMK ketika mereka hendak pergi ke sekolah. Mereka ada yang nongkrong-nongkrong di jalan-jalan sambil merokok, dan ada juga yang  sedang mengendarai sepeda motor, sambil di tangannya memegang sebatang rokok untuk di hisapnya.
Melihat ulah para remaja, Penulis tidak terbawa arus oleh mereka. Mereka merokok dipagi hari hendak pergi ke sekolah dengan menggunakan seragam sekolah yang tentunya mencoreng nama baik sekolah. Meskipun penulis suka merokok, tapi punya kode etika. Penulis menjunjung tinggi nama baik sekolah dan keluarga. Penulis juga tidak merokok saat pergi ke sekolah, penulis hanya memberi contoh kepada mereka, agar ketika merokok jangan menggunakan seragam sekolah.
Bila penulis merokok di luar rumah, penulis selalu memakai pakaian santrinya, berpeci, memakai baju koko dan bersarung, sekalipun dalam mengendarai sepada motor. Guru-guru  MAN 2 Kuningan tahu siapa penulis, karena penulis selalu memakai atribut khas kesantriannya kopeah hitam nasional ketika di sekolah, tetapi mereka tidak tahu bahwa penulis seorang perokok. Di MAN Penulis mengambil jurusan keagamaan karena sesuai besik di pesantrennya dulu.
Penulis sangat aktif dibeberapa bidang organisasi yang diikutinya, yaitu di OSIS sekbid. keagamaan, MPK (Majelis Perwakilan Kelas) sekbid. Wakabid umum, PRAMUKA, dan MARAWIS. Selain itu, penulis juga sering mengikuti perlombaan di dalamnya, seperti Lomba pidato, lomba Lintas alam di Pramuka, Lomba sekolah bersih tingkat Provinsi. Pentramental penulis, seorang pemberani dan tidak takut salah ketika berbicara di depan umum.
Selang 2 tahun penulis sekolah di MAN 2 Kuningan dan naik Ke kelas 12. Alhamdulillah penulis selalu mendapat rangking masuk pada kategori peringkat sepuluh besar di kelas. Kadang rangking 3, rangking 4, rangking 4 lagi ,rangking 3 lagi. Selain dari itu, penulis juga sudah berhenti dari kebiasaan buruknya yaitu merokok di kelas 11 hingga saat ini. Tapi yang masih jadi persoalan bahwa penulis mempunyai sifat ortodoks dalam pemikirannya, penulis selalu menerima paradigma dari gurunya. Setiap pendapat yang tidak sesuai dengan pendapat penulis dikatakan tidak benar.
Pada permulaan kelas 12  ini, penulis mengikuti kajian pasaran (mengaji kajian kitab-kitab kuning tertentu) selama 1 bulan ramadhan saja di salah satu pondok yang letaknya tidak jauh dari sekolah MAN 2 Kuningan. Nama pondok pesantrennya yaitu Riyadhul A’wamil, yang dipimpin oleh Ustadz Abdul Kholiq. Disana penulis belajar dengan ulet dan tekun tanpa meninggalkan pelajaran di sekolah. Kemudian ketika UN di kelas 12 telah selesai. Penulis ingin mengikuti karantina seleksi kuliah ke Timur Tengah yang diilaksanakan selama 25 hari di pondok pesantren Nurul Huda yang letaknya di Desa Kertawangunan, Kec. Sindang Agung, Kab. Kuningan. yang dipimpin Oleh Ustadz muda, Haji Fahmi Lc. Di sana penulis akan di gembleng hafalan Al Qur’an dan berbahasa arab, sebagai syarat lulus seleksi, yang pelaksanaan tesnya di UIN Syarif Hidayatullah, Ciputat-Jakarta.
Sudah menjadi cita-cita semenjak duduk di bangku kelas 11 untuk menuntut ilmu ke Timur Tengah di Universitas Al-Azhar, Chairo-Mesir. Tapi untuk mengikuti karantina tersebut membutuhkan biaya yang cukup mahal, yaitu Rp.750.000.- . akhirnya penulis berusaha mengumpulkan uang terlebih dahulu dengan bekerja di CV.Jati Welas, yaitu perusahaan pabrik produksi kayu, yang letaknya tidak jauh dari tempat tinggal penulis. Penulis bekerja disana selama 1 bulan, dan hanya mendapat uang sebesar 500.000.- sedang sisanya ditambah dari orang tua dan saudara kerabat.
Akhirnya penulis bisa mengikuti karantina tersebut di pondok tersebut, dan berangkat mengikuti tes di Jakarta. Dari 11.000 orang dari berbagai Provinsi di tanah air yang mengikuti seleksi ke timur tengah di Jakarta, hanya 1700 orang saja yang lulus seleksi. 700 orang yang nilainya mumtaz, mendapat beasiswa. Dan 1000 orang yang nilainya rosib, keterima tanpa beasiswa. Penulis tidak tercantum namanya pada saat pengumuman lulus seleksi. Mungkin belum ditakdirkan untuk menuntut ilmu di Timur Tengah.
Ke esokan harinya, penulis dinyatakan lulus seleksi di PTN pilihan pertamanya yaitu, UIN Sunan Gunung Djati Bandung dengan Prodi IlmuAl-Qur’an dan Tafsir, tetapi gagal masuk ke UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dipilihan keduanya. Kedua PTN tersebut melalui jalur SPAN-PTKIN yang sebelumnya telah di daftarkan oleh pihak sekolah MAN. Penulis hanya bersyukur, karena bisa masuk PTN sedangkan masih banyak orang-orang dari berbagai kota ingin masuk PTN tetapi tidak diterima.
Setelahnya penulis mengikuti karantina di sana. Barulah pemikiran penulis mulai terbuka dan tidak fanatik madzhab atau ortodoks lagi terhadap pandangan guru. Dengan genjotan ala timur tengah dari Ustadz Fahmi Lc  semangat penulis semakin mantap, dan mulai mencari titik persamaan antara NU, PERSIS, MUHAMADIYAH, WAHABI dan yang lainnya.

No comments:

Post a Comment

Keluarga Bahagia Rezeki Lancar

  Siapa yang tidak menginginkan keluarganya bahagia, pasti semua orang di dunia ini menginginkan dan mendamba-dambakan momen itu. Sebab dida...