Para remaja seusia penulis yang pada saat itu
mereka berusia
16-18 tahunan, sedang penulis pada saat itu berusia 18 tahun. para remaja dari
kalangan SMA dan SMK ketika mereka hendak pergi ke sekolah. Mereka ada yang
nongkrong-nongkrong di jalan-jalan sambil merokok, dan ada juga yang sedang mengendarai sepeda motor, sambil di
tangannya memegang sebatang rokok untuk di hisapnya.
Melihat ulah para remaja, Penulis
tidak terbawa arus oleh mereka. Mereka merokok dipagi hari hendak pergi ke sekolah
dengan menggunakan seragam sekolah yang tentunya mencoreng nama baik sekolah. Meskipun
penulis suka merokok, tapi punya kode etika. Penulis menjunjung tinggi nama
baik sekolah dan keluarga. Penulis juga tidak merokok saat pergi ke sekolah, penulis
hanya memberi contoh kepada mereka, agar ketika merokok jangan menggunakan
seragam sekolah.
Bila penulis merokok di luar
rumah, penulis selalu memakai pakaian santrinya, berpeci, memakai baju koko dan
bersarung, sekalipun dalam mengendarai sepada motor. Guru-guru MAN 2 Kuningan tahu siapa penulis, karena
penulis selalu memakai atribut khas kesantriannya kopeah hitam nasional ketika
di sekolah, tetapi mereka tidak tahu bahwa penulis seorang perokok. Di MAN
Penulis mengambil jurusan keagamaan karena sesuai besik di pesantrennya dulu.
Penulis sangat aktif
dibeberapa bidang organisasi yang diikutinya, yaitu di OSIS sekbid. keagamaan,
MPK (Majelis Perwakilan Kelas) sekbid. Wakabid umum, PRAMUKA, dan MARAWIS.
Selain itu, penulis juga sering mengikuti perlombaan di dalamnya, seperti Lomba
pidato, lomba Lintas alam di Pramuka, Lomba sekolah bersih tingkat Provinsi.
Pentramental penulis, seorang pemberani dan tidak takut salah ketika berbicara
di depan umum.
Selang 2 tahun penulis
sekolah di MAN 2 Kuningan dan naik Ke kelas 12. Alhamdulillah penulis selalu
mendapat rangking masuk pada kategori peringkat sepuluh besar di kelas. Kadang
rangking 3, rangking 4, rangking 4 lagi ,rangking 3 lagi. Selain dari itu,
penulis juga sudah berhenti dari kebiasaan buruknya yaitu merokok di kelas 11
hingga saat ini. Tapi yang masih jadi persoalan bahwa penulis mempunyai sifat
ortodoks dalam pemikirannya, penulis selalu menerima paradigma dari gurunya.
Setiap pendapat yang tidak sesuai dengan pendapat penulis dikatakan tidak
benar.
Pada permulaan kelas 12 ini, penulis mengikuti kajian pasaran (mengaji
kajian kitab-kitab kuning tertentu) selama 1 bulan ramadhan saja di salah satu
pondok yang letaknya tidak jauh dari sekolah MAN 2 Kuningan. Nama pondok
pesantrennya yaitu Riyadhul A’wamil, yang dipimpin oleh Ustadz Abdul Kholiq. Disana
penulis belajar dengan ulet dan tekun tanpa meninggalkan pelajaran di sekolah.
Kemudian ketika UN di kelas 12 telah selesai. Penulis ingin mengikuti karantina
seleksi kuliah ke Timur Tengah yang diilaksanakan selama 25 hari di pondok
pesantren Nurul Huda yang letaknya di Desa Kertawangunan, Kec. Sindang Agung,
Kab. Kuningan. yang dipimpin Oleh Ustadz muda, Haji Fahmi Lc. Di sana penulis
akan di gembleng hafalan Al Qur’an dan berbahasa arab, sebagai syarat lulus
seleksi, yang pelaksanaan tesnya di UIN Syarif Hidayatullah, Ciputat-Jakarta.
Sudah menjadi cita-cita
semenjak duduk di bangku kelas 11 untuk menuntut ilmu ke Timur Tengah di
Universitas Al-Azhar, Chairo-Mesir. Tapi untuk mengikuti karantina tersebut
membutuhkan biaya yang cukup mahal, yaitu Rp.750.000.- . akhirnya penulis berusaha
mengumpulkan uang terlebih dahulu dengan bekerja di CV.Jati Welas, yaitu
perusahaan pabrik produksi kayu, yang letaknya tidak jauh dari tempat tinggal
penulis. Penulis bekerja disana selama 1 bulan, dan hanya mendapat uang sebesar
500.000.- sedang sisanya ditambah dari orang tua dan saudara kerabat.
Akhirnya penulis bisa
mengikuti karantina tersebut di pondok tersebut, dan berangkat mengikuti tes di
Jakarta. Dari 11.000 orang dari berbagai Provinsi di tanah air yang mengikuti
seleksi ke timur tengah di Jakarta, hanya 1700 orang saja yang lulus seleksi.
700 orang yang nilainya mumtaz, mendapat beasiswa. Dan 1000 orang yang nilainya
rosib, keterima tanpa beasiswa. Penulis tidak tercantum namanya pada saat
pengumuman lulus seleksi. Mungkin belum ditakdirkan untuk menuntut ilmu di
Timur Tengah.
Ke esokan harinya, penulis
dinyatakan lulus seleksi di PTN pilihan pertamanya yaitu, UIN Sunan Gunung
Djati Bandung dengan Prodi IlmuAl-Qur’an dan Tafsir, tetapi gagal masuk ke UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta dipilihan keduanya. Kedua PTN tersebut melalui
jalur SPAN-PTKIN yang sebelumnya telah di daftarkan oleh pihak sekolah MAN.
Penulis hanya bersyukur, karena bisa masuk PTN sedangkan masih banyak
orang-orang dari berbagai kota ingin masuk PTN tetapi tidak diterima.
Setelahnya penulis mengikuti
karantina di sana. Barulah pemikiran penulis mulai terbuka dan tidak fanatik
madzhab atau ortodoks lagi terhadap pandangan guru. Dengan genjotan ala timur
tengah dari Ustadz Fahmi Lc semangat
penulis semakin mantap, dan mulai mencari titik persamaan antara NU, PERSIS,
MUHAMADIYAH, WAHABI dan yang lainnya.
No comments:
Post a Comment