Sunday, August 25, 2019

Peristiwa kelahiran Nabi Muhammad saw

       Pada saat kelahiran Muhammad saw ada peristiwa/kejadian penggempuran Ka’bah (Baitullah, rumah suci Allah) dibawah pimpinan komandan Raja Abrahah (penguasa Habsyi di Yaman) dengan pasukan bergajah yang amat banyak sekali jumlahnya; namun belum kesampaian maksud jahatnya itu, ditumpaskan terlebbih dahulu oleh Allah swt melalui burung ababil (burung yang berbondong-bondong). Maka hancur leburlah pasukan Abrahah. Hal ini diabadikan oleh Allah swt dalam Q.S Al fiil (105) ayat 1-5 :
“Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap pasukan bergajah? Bukankah Dia (Allah) telah menjadikan tipu daya mereka iu sia-sia belaka? Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong (ababil) yang melempari mereka dengan batu dari tanah-tanah terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan ulat.”
          Dengan demikian tahun kelahiran Muhammad saw dinamakan tahun Gajah, yang tepatnya pada hari Senin tanggal 12 Rabiul Awal tahun Gajah bertepatan dengan tanggal 20 Agustus tahun 570 Masehi.
          Mengenai hari dan tanggal kelahiran ini ada perbedaan, ada yang mengatakan :
a.    Hari Senin tanggal 12 Rabiul Awal tahun Gajah (lebih masyhur).
b.    Hari Senin tanggal 9 Rabiul Awal tahun Gajah.
Selain perbedaan dalam penyesuaian tanggal, ada juga perbedaan dalam tahun Masehi :
a.    Ada yang menyebutnya tahun 570
b.    Ada yang menyebutnya tahun 571
Terjadinya perbedaan yang demikian itu dimungkinkan karena perhitungan menurut Ilmu Falak. Dalam hal ini jangan dijadikan peruncingan masalah.
          Dalam tulisan ini menggunakan kelahiran Nabi Muhammad dan menurut pendapat ahli sejarah yang sangat dipercaya, adalah : Hari Senin tanggal 12 Rabiul Awal tahun Gajah, bertepatan dengan tanggal 20 Agustus 570 Masehi.
          Perlu diketahui disini, bahwa Siti Aminah (ibu Muhammad) menerangkan mengenai keadaan bayi yang dilahirkan dan keadaan dirinya sewaktu melahirkan si bayi itu :
“Tatkala saya (Siti Aminah) melahirkan bayi itu (Muhammad), maka dari bagian tubuhku memancarkan cahaya yang terang sehhingga bersinar kelihatan sampai ke istana negeri Syiria. Bayi yang dilahirkan itu suci bersih, tidak membawa kotoran”.
          Suasana pada saat itu dilukiskan dalam serangkum syair gubahan Abbas bin Abdul Muthalib (paman Nab Muhammad) yang berbunyi :
          “Dikala Aminah melahirkan bayinya, Dunia terang bermandikan cahaya. Cahaya yang amat dibutuhkan, petunjuk jalan kebahagiaan”.
          Pada malam menjelang Siti Aminah melahirkan bayinya itu, terjadilah peristiwa-peristiwa luar biasa yang mengandung tanda-tanda dan alamat-alamat, yang pada saat itu diartikan orang membawa pengharapan baik. Dalam cuaca yang terang benderang pada malam itu meledak dan menggoncang-goncangkan bumi yang hebat, sehingga patung-patung yang bergantungan di dinding Ka’bah berjatuhan dari tempatnya, gereja-gereja Nasrani dan kuil-kuil Yahudi mengalami kerusakan. Istana Kaisar di Roma yang sangat kokoh bangunannya tidak luput dari kehancuran; 14 menara-menara pencakar istana itu beruntuhan. Api yang senantiasa menyala-nyala, yang dipuja-puja dan disembah oleh penduduk kerajaan Persi, tiba-tiba padam yang menjadikan penyembah-penyembah api itu merasa sedih dan berduka cita.
          Di tiap-tiap lorong dan simpang orang ramai memperbincangkan mengenai kejadian itu. Banyak dari kalangan mereka menarik kesimpulan bahwa peristiwa itu adalah sebaagai alamat akan datangnya satu kejadian yang amat besar. Itulah peristiwa dan suasana di saat Siti Aminah melahirkan Muhammad, sebagai calon pemimpin umat seluruh dunia, pembawa rahmat lil a’lamin.
          Muhammad lahir dari rahim Siti Aminah setelah berada dalam kandungan ibunya; ia dilahirkan dalam keadaan yatim, karena ia tidak bisa menikmati kasih sayang seorang ayah. Ayah Muhammad yang bernama Abdullah bin Abdul Muthallib meninggal dunia ketika ia masih berada dalam kandungan 2 bulan.
          Ayah Muhammad (Abdullah bin Abdul Muthallib) meninggal dunia sewaktu sepulangnya dari menjalankan perdagangan dunia dari negeri Syiria ke Negeri Mekkah. Ia dimakamkan di kota Madinah (Yastrib); dan ia meninggalkan 5 ekor unta, beberapa ekor kambing dan seorang budak perempuan bernama Ummu Aiman.
          Abdullah meninggal dunia dalam keadaan yang mengharukan dan memperhatikan. Tidak ada seorang pun dari keluarganya yang mempersaksikannya dalam menghembuskan nafas terakhirnya, dan tak ada famili yang turut menguburkannya.

*Dikutip dari Kitab Siroh Nabawy
*Indahnya berbagi,semoga bermanfaat, menambah ilmu juga wawasan serta menambah kecintaah kita kepada Nabi Muhammad saw, keluarga serta sahabatnya. Menjadikan beliau sebagai idola dan suri teladan.
Sumedang, Senin 26Agustus 2019

No comments:

Post a Comment

Keluarga Bahagia Rezeki Lancar

  Siapa yang tidak menginginkan keluarganya bahagia, pasti semua orang di dunia ini menginginkan dan mendamba-dambakan momen itu. Sebab dida...