Thursday, October 24, 2019

Kasih Sayang Seorang Ibu

“Hayya a’alasholaah....” (terdengar dikumandangkannya adzan subuh di mesjid yang tidak cukup jauh dari rumah)
“Nak, ayo bangun, sudah adzan subuh. Kamu tidak akan sholat?. Nanti setelah solat, sarapan pagi yaah?. Tuuh, sarapanmu, sudah ibu siapkan di meja”.
Tradisi ini sudah berlangsung sejak kecil sejak pertama kali aku bisa mengingat. Kini usiaku sudah 20 tahun dan aku jadi seorang karyawan di sebuah perusahaan swasta. Tapi kebiasan ibu tak pernah berubah.
Suatu hari aku pernah berkata kepada ibu, “Ibuku sayang,, tidak usah repot-repot bu..., Aku dan adik-adik kan sudah dewasa...”, Pinta ku pada ibu pada suatu pagi. Wajah tua itu langsung berubah. Begitu juga pada saat ibu mengajak makan siang di sebuah lestoran. Buru-buru aku keluarkan uang dan ku bayar semuanya. Ingin ku balas jasa ibu selama ini dengan hasil keringatku. Raut sedih itu tidak bisa disembunyikan.
Kenapa ibuku mudah sekali sedih sahabat?.
Aku hanya bisa mereka-reka mungkin sekarang rasanya aku mengalami kesulitan memahami ibu karna dari sebuah artikel yang ku baca. Orang yang lanjut usia bisa sangat sensitif dan cenderung untuk bersifat kekanak-kanakan. Tapi,,, entahlah. Niatku ingin membahagiakan malah membuat ibu sedih. Seperti biasa ibu tidakkan pernah mengatakan apa-apa.
Suatu hari ku beranikan diri untuk bertanya kepada ibu,
“Bu, Maafkan aku yaah?. Kalau telah menyakiti perasaan ibu. Apa siih yang bikin ibu sedih?”.
Ku tatap sudut-sudut mata ibu. Ada genangan air mata disana. Terbata-bata ibu berkata. Tiba-tiba ibu merasa...
“Kalian tidak membutuhkan ibu, karna kalian sudah dewasa. Sudah bisa menghidupi diri sendiri. Ibu tidak boleh lagi menyiapkan sarapan untuk kalian?, Ibu tidak boleh lagi mengajak kalian makan di restoran?. Karna semua sudah bisa kalian lakukan sendiri”.
Yaa Allah,,, ternyata buat seorang ibu, bersusah payah melayani putra-putrinya adalah sebuah kebahagiaan. Suatu hal yang tidak pernah  ku sadari sebelumnya. Niat membahagiakan bisa jadi malah membuat orang tua menjadi sedih karna kita tidak berusaha untuk saling membuka diri. Melihat arti kebahagiaan dari sudut pandang masing-masing.
Diam-diam, aku bermuhasabah.
“Apa yang telah aku persembahkan untuk ibu dalam usiaku sekarang? Adakah ibu bahagia dan bangga pada putra-putrinya?” ketika itu ku tanya pada ibu.
Ibu lalu menjawab, “Banyak sekali nak, kebahagiaan yang telah kalian berikan pada ibu. Kalian tumbuh sehat dan lucu ketika bayi adalah suatu kebahagiaan untuk ibu. Kalian berprestasi di sekolah adalah kebanggaan untuk ibu. Kalian berprestasi dalam pekerjaan adalah kebanggaan untuk ibu. Setelah dewasa, kalian berperilaku sebagaimana seharusnya seorang hamba, itu kebahagiaan untuk ibu. Setiap kali binar mata kalian mengisyaratkan kebahagiaan, disitulah kebahagiaan seorang ibu, kebahagiaan orang tua”.
Lagi-lagi aku hanya bisa berucap, “Ampunkan aku Ya Allah. Kalau selama ini, sedikit sekali ketulusan yang ku berikan kepada ibu. Masih banyak alasan ketika ibu menginginkan sesuatu. Betapa sabarnya ibuku melalui liku-liku kehidupan. Sebagaimana seorang wanita karir, seharusnya banyak alasan yang bisa dilontarkan ibuku untuk cuti, dari pekerjaan rumah menyerahkan tugas itu kepada pembantu, tapi tidak!. Ibuku seorang yang idealis, menata keluarga, merawat dan mendidik anak-anak adalah hak preogratif seorang ibu yang takkan bisa dilimpahkan kepada siapapun”.
Kongkorongook.... (Terdengar suara ayam jago di halaman belakang rumah)
Pukul 3 dini hari ibu bangun dan membangunkan kami untuk tahajud. Menunggu subuh, ibu ke dapur menyiapkan sarapan. Sementar aku dan adik-adik sering tertidur lagi. Maafkan kami bu. 18 jam sehari sebagai pekerja seakan tak pernah membuat ibu lelah. Sanggupkah aku Ya Allah seperti ibuku!.
“Asholaaatu khoiruminannauum” (terdengar dikumandangkannya adzan subuh di mesjid yang tidak cukup jauh dari rumah)
“Nak, bangun nak, sudah adzan subuuh. Tuuh sarapannya sudah ibu siapkan di meja”.
Kali ini aku segera lompat, ku buka pintu kamar, dan ku rangkul ibu sangat mungkin, ku ciumi pipinya yang mulai keriput, ku tatap matanya lekat-lekat dan ku ucapkan,
“Terimakasih ibu, aku beruntung sekali memiliki ibu yang baik hati. Izinkan aku untuk membahagiakanmu”.
Ku lihat binar itu memancarkan kebahagiaan. “Cintaku ingin memilikimu. Ibu, aku sangat membutuhkanmu. Maafkan aku, yang belum bisa menjabarkan arti kebahagiaan untuk dirimu”.

Sahabat, tidak selamanya kata sayang harus diungkapkan dengan kalimat, “Aku, sayang padamu”. Namun begitu, Rasulullah saw menyuruh kita untuk menyampaikan rasa cinta yang kita punya kepada orang yang kita cintai karna Allah. Ayo kita mulai dari orang terdekat yang sangat mencintai kita. Ibu dan ayah, walau mereka tak pernah meminta dan mungkin telah tiada. Percayalah, kata-kata itu akan membuat mereka sangat berarti dan bahagia.
Wallahu a’lam.
Ya Allah... Cintai ibuku, beri aku kesempatan untuk bisa membahagiaan ibuku. Dan jika saatnya nanti ibuku kau panggil Ya Allah... panggillah dalam keadaan khusnul khatimah. Ampunilah segala dosa-dosanya dan sayangilah ia. Sebagaimana ia menyayangi aku, selagi aku masih kecil. titip ibuku Ya Allah...


Bandung, 25 Oktober 2019
Hamdan za

No comments:

Post a Comment

Keluarga Bahagia Rezeki Lancar

  Siapa yang tidak menginginkan keluarganya bahagia, pasti semua orang di dunia ini menginginkan dan mendamba-dambakan momen itu. Sebab dida...