“Hayya
a’alasholaah....” (terdengar
dikumandangkannya adzan subuh di mesjid yang tidak cukup jauh dari rumah)
“Nak,
ayo bangun, sudah adzan subuh. Kamu tidak akan sholat?. Nanti setelah solat,
sarapan pagi yaah?. Tuuh, sarapanmu, sudah ibu siapkan di meja”.
Tradisi ini sudah berlangsung sejak kecil sejak pertama kali aku
bisa mengingat. Kini usiaku sudah 20 tahun dan aku jadi seorang karyawan di
sebuah perusahaan swasta. Tapi kebiasan ibu tak pernah berubah.
Suatu hari aku pernah berkata kepada ibu, “Ibuku sayang,, tidak
usah repot-repot bu..., Aku dan adik-adik kan sudah dewasa...”, Pinta ku pada
ibu pada suatu pagi. Wajah tua itu langsung berubah. Begitu juga pada saat ibu
mengajak makan siang di sebuah lestoran. Buru-buru aku keluarkan uang dan ku
bayar semuanya. Ingin ku balas jasa ibu selama ini dengan hasil keringatku.
Raut sedih itu tidak bisa disembunyikan.
Kenapa ibuku mudah sekali sedih sahabat?.
Aku hanya bisa mereka-reka mungkin sekarang rasanya aku mengalami
kesulitan memahami ibu karna dari sebuah artikel yang ku baca. Orang yang
lanjut usia bisa sangat sensitif dan cenderung untuk bersifat kekanak-kanakan.
Tapi,,, entahlah. Niatku ingin membahagiakan malah membuat ibu sedih. Seperti
biasa ibu tidakkan pernah mengatakan apa-apa.
Suatu hari ku beranikan diri untuk bertanya kepada ibu,
“Bu, Maafkan aku yaah?. Kalau telah menyakiti perasaan ibu. Apa siih
yang bikin ibu sedih?”.
Ku tatap sudut-sudut mata ibu. Ada genangan air mata disana. Terbata-bata
ibu berkata. Tiba-tiba ibu merasa...
“Kalian tidak membutuhkan ibu, karna kalian sudah dewasa. Sudah
bisa menghidupi diri sendiri. Ibu tidak boleh lagi menyiapkan sarapan untuk
kalian?, Ibu tidak boleh lagi mengajak kalian makan di restoran?. Karna semua
sudah bisa kalian lakukan sendiri”.
Yaa Allah,,, ternyata buat seorang ibu, bersusah payah melayani
putra-putrinya adalah sebuah kebahagiaan. Suatu hal yang tidak pernah ku sadari sebelumnya. Niat membahagiakan bisa
jadi malah membuat orang tua menjadi sedih karna kita tidak berusaha untuk saling
membuka diri. Melihat arti kebahagiaan dari sudut pandang masing-masing.
Diam-diam, aku bermuhasabah.
“Apa yang telah aku persembahkan untuk ibu dalam usiaku sekarang?
Adakah ibu bahagia dan bangga pada putra-putrinya?” ketika itu ku tanya pada
ibu.
Ibu lalu menjawab, “Banyak sekali nak, kebahagiaan yang telah
kalian berikan pada ibu. Kalian tumbuh sehat dan lucu ketika bayi adalah suatu
kebahagiaan untuk ibu. Kalian berprestasi di sekolah adalah kebanggaan untuk
ibu. Kalian berprestasi dalam pekerjaan adalah kebanggaan untuk ibu. Setelah
dewasa, kalian berperilaku sebagaimana seharusnya seorang hamba, itu
kebahagiaan untuk ibu. Setiap kali binar mata kalian mengisyaratkan
kebahagiaan, disitulah kebahagiaan seorang ibu, kebahagiaan orang tua”.
Lagi-lagi aku hanya bisa berucap, “Ampunkan aku Ya Allah. Kalau
selama ini, sedikit sekali ketulusan yang ku berikan kepada ibu. Masih banyak
alasan ketika ibu menginginkan sesuatu. Betapa sabarnya ibuku melalui liku-liku
kehidupan. Sebagaimana seorang wanita karir, seharusnya banyak alasan yang bisa
dilontarkan ibuku untuk cuti, dari pekerjaan rumah menyerahkan tugas itu kepada
pembantu, tapi tidak!. Ibuku seorang yang idealis, menata keluarga, merawat dan
mendidik anak-anak adalah hak preogratif seorang ibu yang takkan bisa
dilimpahkan kepada siapapun”.
Kongkorongook....
(Terdengar suara ayam jago di halaman belakang rumah)
Pukul 3 dini hari ibu bangun dan membangunkan kami untuk tahajud.
Menunggu subuh, ibu ke dapur menyiapkan sarapan. Sementar aku dan adik-adik
sering tertidur lagi. Maafkan kami bu. 18 jam sehari sebagai pekerja seakan tak
pernah membuat ibu lelah. Sanggupkah aku Ya Allah seperti ibuku!.
“Asholaaatu
khoiruminannauum” (terdengar
dikumandangkannya adzan subuh di mesjid yang tidak cukup jauh dari rumah)
“Nak,
bangun nak, sudah adzan subuuh. Tuuh sarapannya sudah ibu siapkan di meja”.
Kali ini aku segera lompat, ku buka pintu kamar, dan ku rangkul ibu
sangat mungkin, ku ciumi pipinya yang mulai keriput, ku tatap matanya
lekat-lekat dan ku ucapkan,
“Terimakasih ibu, aku beruntung sekali memiliki ibu yang baik hati.
Izinkan aku untuk membahagiakanmu”.
Ku lihat binar itu memancarkan kebahagiaan. “Cintaku ingin
memilikimu. Ibu, aku sangat membutuhkanmu. Maafkan aku, yang belum bisa menjabarkan
arti kebahagiaan untuk dirimu”.
Sahabat, tidak selamanya kata sayang harus diungkapkan dengan
kalimat, “Aku, sayang padamu”. Namun begitu, Rasulullah saw menyuruh
kita untuk menyampaikan rasa cinta yang kita punya kepada orang yang kita
cintai karna Allah. Ayo kita mulai dari orang terdekat yang sangat mencintai
kita. Ibu dan ayah, walau mereka tak pernah meminta dan mungkin telah tiada.
Percayalah, kata-kata itu akan membuat mereka sangat berarti dan bahagia.
Wallahu a’lam.
Ya Allah... Cintai ibuku, beri aku kesempatan untuk bisa
membahagiaan ibuku. Dan jika saatnya nanti ibuku kau panggil Ya Allah...
panggillah dalam keadaan khusnul khatimah. Ampunilah segala dosa-dosanya dan
sayangilah ia. Sebagaimana ia menyayangi aku, selagi aku masih kecil. titip
ibuku Ya Allah...
Bandung, 25 Oktober 2019
Hamdan za
No comments:
Post a Comment