Monday, June 10, 2019

Memangkas Ideologi Anak


Saat kita kanak-kanak dulu sekitar usia 2 sampai 4 tahun, kita tentunya belum mengetahui betul benda-benda disekitar kita. Mulai dari fungsinya, tujuannya, dan  berbahaya atau tidak kah untuk diri kita ataupun untuk orang lain. Kita sering kali dikata oleh orang tua atau guru dari dulu mungkin hingga sekarang “Jangan nak, nggak boleh nak” bahkan ada juga dengan nada yang tinggi seolah-olah mereka memarahi bahwa anaknya bersalah dan hal ini tidak terjadi sekali dua kali, tapi sering sekali. Sebagai ilustrasinya, saat kita kecil dulu di saat kita pergi ke dapur lantas kita mengambil pisau lalu kemudian pisaunya itu kita main-mainkan.  Disinilah saat orang tua menyaksiakan kejadian tersebut, biasanya para orang tua spontan langsung memarahi anaknya tanpa berpikir panjang terlebih dahulu. Justru hal inilah yang nantinya akan membatasi ruang gerak si anak. Ia tidak akan bebas berpikir, berimajinasi untuk melakukan sesuatu hal terutama hal yang positif. Ia akan kaku dan terkekang bilamana ia mau melakukan sesuatu hal. Kendatipun disaat kita sekolah atau kuliah, ketika kita mempunyai mimpi yang besar kadangkala ada guru atau dosen yang memangkas ideologi kita terutama mereka melihat dari sudut pandang kekurangan background kita. Umpamanya seorang siswa atau mahasiswa yang ingin bersekolah atau kuliah di luar negeri trus dikata oleh gurunya “Terlalu tinggi keinginanmu, nak. kamu kan belum bisa bahasa asing, malahan nilai mu dibawah rata-rata”. Sudahlah bisa hilang nanti mimpi besar itu jika ideologi kita di pangkas seperti itu.
Untuk menjadi pendidik yang baik, entah sebagai orang tua ataupun guru hendaklah mengarahkan, membimbing anak didiknya dengan cara yang baik dan cerdas. Karena ada pendidik yang mendidik anak didiknya dengan cara yang baik tapi tidak cerdas. Katakanlah seperti contoh di atas tujuannya baik tapi salah dalam penerapannya. Baik itu dari pola bahasa yang mesti di olah apalagi jika dengan cara mendidik anak dengan memukul fisiknya. Menurut saya tidak dibenarkan meskipun tujuannya baik memukul fisik anak terkecuali dalam agama Islam diperbolehkan memukul fisik si anak jika ia sudah beranjak 10 tahun apabila ia ngeyel tidak melakukan solat dan ibadah wajib yang lainnya maka diperbolehkan memukulnya, tapi itu juga harus sesuai dengan ketentuan dan batasan-batasan tertentu. Bahkan menurut saya sendiri, dibalik kontekstual hal tersebut. Memboikot keinginan si anak pun menurut saya bagian daripada mendidik anak agar melakukan dan melatih dirinya untuk menunaikan kewajibannya. Agar kelak ketika si anak beranjak dewasa, ia akan terbiasa.

No comments:

Post a Comment

Keluarga Bahagia Rezeki Lancar

  Siapa yang tidak menginginkan keluarganya bahagia, pasti semua orang di dunia ini menginginkan dan mendamba-dambakan momen itu. Sebab dida...