Saat
kita kanak-kanak dulu sekitar usia 2 sampai 4 tahun, kita tentunya belum
mengetahui betul benda-benda disekitar kita. Mulai dari fungsinya, tujuannya,
dan berbahaya atau tidak kah untuk diri
kita ataupun untuk orang lain. Kita sering kali dikata oleh orang tua atau guru
dari dulu mungkin hingga sekarang “Jangan nak, nggak boleh nak” bahkan ada juga
dengan nada yang tinggi seolah-olah mereka memarahi bahwa anaknya bersalah dan
hal ini tidak terjadi sekali dua kali, tapi sering sekali. Sebagai
ilustrasinya, saat kita kecil dulu di saat kita pergi ke dapur lantas kita
mengambil pisau lalu kemudian pisaunya itu kita main-mainkan. Disinilah saat orang tua menyaksiakan kejadian
tersebut, biasanya para orang tua spontan langsung memarahi anaknya tanpa
berpikir panjang terlebih dahulu. Justru hal inilah yang nantinya akan membatasi
ruang gerak si anak. Ia tidak akan bebas berpikir, berimajinasi untuk melakukan
sesuatu hal terutama hal yang positif. Ia akan kaku dan terkekang bilamana ia
mau melakukan sesuatu hal. Kendatipun disaat kita sekolah atau kuliah, ketika
kita mempunyai mimpi yang besar kadangkala ada guru atau dosen yang memangkas
ideologi kita terutama mereka melihat dari sudut pandang kekurangan background
kita. Umpamanya seorang siswa atau mahasiswa yang ingin bersekolah atau kuliah
di luar negeri trus dikata oleh gurunya “Terlalu tinggi keinginanmu, nak. kamu
kan belum bisa bahasa asing, malahan nilai mu dibawah rata-rata”. Sudahlah bisa
hilang nanti mimpi besar itu jika ideologi kita di pangkas seperti itu.
Untuk
menjadi pendidik yang baik, entah sebagai orang tua ataupun guru hendaklah
mengarahkan, membimbing anak didiknya dengan cara yang baik dan cerdas. Karena
ada pendidik yang mendidik anak didiknya dengan cara yang baik tapi tidak
cerdas. Katakanlah seperti contoh di atas tujuannya baik tapi salah dalam penerapannya.
Baik itu dari pola bahasa yang mesti di olah apalagi jika dengan cara mendidik
anak dengan memukul fisiknya. Menurut saya tidak dibenarkan meskipun tujuannya
baik memukul fisik anak terkecuali dalam agama Islam diperbolehkan memukul
fisik si anak jika ia sudah beranjak 10 tahun apabila ia ngeyel tidak melakukan
solat dan ibadah wajib yang lainnya maka diperbolehkan memukulnya, tapi itu
juga harus sesuai dengan ketentuan dan batasan-batasan tertentu. Bahkan menurut
saya sendiri, dibalik kontekstual hal tersebut. Memboikot keinginan si anak pun
menurut saya bagian daripada mendidik anak agar melakukan dan melatih dirinya
untuk menunaikan kewajibannya. Agar kelak ketika si anak beranjak dewasa, ia
akan terbiasa.
No comments:
Post a Comment