LAPORAN
INDIVIDUAL
KKN
SISDAMAS TAHUN 2019
METODE
SMART TAHFIDZ
(Pengenalan
Metode Smart Tahfidz
Pada Madrasah Diniyah Takmiliyah di Desa Paseh
Kaler)
Oleh :
Hamdan za
NIM. 1161030055
PUSAT
PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT
LEMBAGA
PENELITIAN DAN PENGABADIAN KEPADA MASYARAKAT
UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Analisis
Permasalahan
Dalam menumbuhkan tingkat kesadaran
individu disuatu komunitas masyarakat demi terealisasinya nilai-nilai dan
norma-norma yang berlaku tentu hal ini tidaklah mudah karena harus melalui
beberapa proses. Apalagi orang yang baru muncul ditengah-tengah masyarakat
dalam menilai dan membangun tingkat kesadaran dimasyarakat tersebut.
Setiap permasalahan yang dihadapi
pada setiap wilayah tentu berbeda-beda. Adapun permasalah yang dihadapi di Desa
Paseh Kaler ini banyak sekali. Minimnya tenaga pengajar di setiap instansi
pendidikan formal ataupun non formal seperti : Madrasah Diniyah; Madrasah
Tsanawiyah; Mesjid dan Surau; Metode pengajaran yang tidak profesional; Akses
jalan dari perumahan penduduk ke sekolah SMP dan SMA cukup jauh hingga akhirnya
banyak yang tidak melanjutkan pendidikannya terutama sekolah menengan keatas
dan sebagainya.
B.
Indentifikasi
Masalah
Permasalahan yang penulis hadapi
salah satunya adalah persoalan minimnya tingkat kesadaran masyarakat baik dari
kalangan anak-anak usia SD, SMP dan SMA ataupun orang dewasa dalam mengaji
Al-Qu’ran. Hal ini salah satunya ternyata disebabkan kurangnya tenaga pengajar
yang ada di desa tersebut.
C.
Tujuan
dan Manfaat
Smart Tahfidz memiliki
tujuan untuk:
- Mempermudah kita dalam menghafal
nama-nama surat, setiap ayat & nomornya, judul/tema surat dan halaman,
dengan cara menghubungkan dan mengasosiasikan antara kata kunci dengan
suatu rumus tertentu.
- Mengefektifkan apa yang kita hafal
dari short-term memory (memori jangka pendek) menjadi long-term
memory (memori jangka panjang) dengan berbagai prinsip memori dan
teknik-teknik yang terdapat didalamnya.
- Mempermudah dalam mengingat kembali
hafalan yang sudah lama sehingga dapat diungkap kembali, melalui
penggunaan kata cantol atau peg words.
Hafalan yang disimpan dalam short-term memory (memori jangka pendek)
akan mudah hilang dalam ingatan atau terlupakan, dikarenakan dalam mengingat
hanya menggunakan otak kiri saja yang salah satu fungsinya menjalankan memori
jangka pendek sebagaimana diungkapkan oleh Roger Sperry dalam Mr. SGM
(2008:5) yang menyatakan bahwa “kita memiliki sebuah otak yang terbagi ke
dalam dua bagian fisiologis otak kiri dan kanan, yang masing-masing berkaitan
dengan fungsi-fungsi mental yang berbeda.‟
Menghafal dengan melibatkan otak kanan akan menjadikan ingatan masuk ke
dalam memori jangka panjang, cara mengingat dengan menggunakan teknik-teknik
mnemonik inilah yang merupakan cara mengingat dengan melibatkan otak kanan
sehingga informasi akan tersimpan lebih lama dan mudah untuk dipanggil kembali
karena tersimpan dalam memori jangka panjang (long term-memory).
Adapun
manfaat penggunaan teknik Smart Tahfidz, karena memudahkan mengingat, tentunya
juga akan memudahkan dalam proses menghafal. Hambatan menghafal akan berkurang.
Ini akan membangkitkan motivasi kita untuk lebih semangat dalam menghafal,
sehingga akhirnya dapat mencapai hasil menghafal yang optimal. Jadi, capaian
akhir penggunaan teknik Smart Tahfidz dalam menghafal adalah hasil yang optimal
dengan cara yang cepat dan mudah.
Ketika menggunakan Smart Tahfidz dalam menghafal, akan disadari bahwa
proses ingatan akan terasa lebih mudah. Imajinasi, perasaan, informasi dan
pengalaman yang telah dialami sebelumnya memiliki peranan yang sangat penting
dalam penerapan Smart Tahfidz ini.
Melalui imajinasi dan pemberian makna tertentu baik berupa emosi,
visualisasi yang semakin tidak wajar pada informasi baru yang ingin diingat
akan semakin mempermudah seseorang dalam menghafal hafalan yang baru tersebut.
D.
Metode
Pengabdian
Dalam pengabdian di masyarakat di
Desa Paseh Kaler ini, penulis menggunakan metode smart tahfidz. Dalam metode
ini, kepada para perserta didik dituntut dengan menggunakan jari-jari tangan
pada saat proses menghafalkan ayat-ayat al-Qur’an.
E.
Kerangka
Pemecahan Masalah
Setiap murid-murid di Madrasah
Diniyah tersebut rata-rata mereka mempunyai bakat dan semangat yang tinggi
untuk menghafal al-Qur’an. Namun mereka tidak tahu bagaimana cara tercepat
untuk mempermudah mereka menghafal. Oleh karena itu, penulis memperkenalkan
metode jari.
Metode ini menggunakan metode jari
yang merujuk pada praktik langsung untuk anak-anak usia dini yang menggunakan
ruas-ruas jari sebagai patokan untuk menghafalnya berdasarkan daya tangkap dan
pola pikir anak terkecuali keusia yang lebih rentan.
BAB II
GAMBARAN UMUM MASYARAKAT SASARAN
A.
Monografi
Desa
Desa Paseh Kaler merupakan sebuah desa yang berada di wilayah Kecamatan
Paseh Kabupaten Sumedang. Lokasinya berada di ujung barat daya wilayah
Kecamatan Paseh dan berbatasan langsung dengan Kecamatan Conggeang dan
Kecamatan Cimalaka. Jika dilihat dari pusat Kecamatan Paseh, posisinya berada
di sebelah utara dengan jarak sekitar satu kilometer.
Berdasarkan catatan, pada awalnya Desa Paseh Kaler merupakan bagian dari wilayah
Desa Paseh bersatu dengan wilayah Desa Paseh Kidul. Desa Paseh ini sudah ada
sebelum dibentuknya Kecamatan Paseh sekarang. Pada waktu itu Kecamatan Paseh
masih menjadi bagian dari wilayah Kecamatan Conggeang. Setelah dilakukan
pemekaran wilayah Kecamatan Conggeang dan terbentuknya Kecamatan Paseh,
desa-desa yang jumlahnya empat buah desa dimekarkan menjadi delapan wilayah
desa. Ini termasuk wilayah Desa Paseh, sekitar tahun 1982 Desa Paseh dimekarkan
menjadi dua wilayah desa yaitu Desa Paseh Kaler dan Desa Paseh Kidul.
Sebagaimana namanya, kedua wilayah berada di bagian utara dan bagian selatan,
dan yang menjadi pembatasnya adalah jalur jalan yang menghubungkan Sumedang
dengan Cirebon.
Berdasarkan data Kecamatan Paseh dalam Angka tahun 2014 yang dikeluarkan
oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sumedang, pada tahun 2013 Desa Paseh
Kaler memiliki status sebagai pedesaan dengan klasifikasi sebagai desa
swakarsa. Secara topografis, wilayah Desa Paseh Kaler berada di kawasan dengan
bentang permukaan tanah berupa campuran dataran, lereng dan perbukitan.
Ketinggian wilayah dimana kantor desa berada pada 510 meter di atas permukaan
laut. Secara geografis, wilayah Desa Paseh Kaler dikelilingi oleh
wilayah-wilayah sebagai berikut:
Desa Jambu Kecamatan Conggeang di sebelah utara,
Desa Bongkok di sebelah barat, Desa Paseh Kidul dan
Desa Legok Kaler di sebelah selatan, serta
Desa Cibeureum Wetan Kecamatan Cimalaka di sebelah baratnya.
Secara administratif, wilayah Desa Paseh Kaler terbagi ke dalam 12 wilayah
Rukun Warga (RW) dan terbagi lagi ke dalam 33 wilayah Rukun Tetangga (RT).
Untuk luas wilayahnya, sebagaimana disajikan oleh sumber data yang sama,
pada tahun 2013 Desa Paseh Kaler memiliki cakupan wilayah seluas 300 hektar.
Wilayah Desa Paseh Kaler tersebut terbagi ke dalam beberapa jenis tata guna
lahan, yaitu sebagai lahan pertanian, lahan pemukiman dan lahan lainnya. Lahan
pertanian yang tercatat berupa lahan pesawahan yang mencakup wilayah seluas
30,7 hektar. Kemudian lahan pemukiman (rumah dan pekarangan) memiliki luasan
sebesar 115,8 hektar. Dan sisanya seluas 153,5 hektar dipergunakan untuk tata
guna lainnya.
Jika dilihat menggunakan Google Maps, wilayah Desa Paseh Kaler memanjang
dari dekat pusat Kecamatan Paseh ke ujung barat laut wilayah kecamatan yang
berada di kawasan kaki Gunung Tampomas bagian tenggara. Untuk topografi wilayah
Desa Paseh Kaler secara umum berada di wilayah yang cukup landai di bagian
tengah dan tenggara. Di bagian barat laut merupakan kawasan perbukitan di kaki
Gunung Tampomas. Dan terkait tata guna lahannya, wilayah Desa Paseh Kaler
memiliki tata guna lahan yang bervariasi. Bagian tenggara merupakan kawasan
yang didominasi oleh kawasan pemukiman. Di kawasan ini terdapat juga kawasan
pesawahan di ujung timurnya dan kawasan pertanian. Di bagian tengah didominasi
oleh kawasan galian pasir di kaki Gunung Tampomas yang bercampur dengan lahan
pertanian. Di ujung barat laut merupakan kawasan kehutanan.
Untuk jumlah penduduknya, sebagaimana disajikan oleh sumber data yang
sama, pada tahun 2013 Desa Paseh Kaler dihuni penduduk sebanyak 5.203 orang.
Dengan komposisi sebanyak 2.608 orang berjenis kelamin laki-laki ditambah
sebanyak 2.595 orang berjenis kelamin perempuan. Jumlah kepala keluarganya
sebanyak 1.665 KK. Dan kepadatan penduduk Desa Paseh Kaler, untuk setiap
kilometer persegi luas wilayahnya dihuni penduduk rata-rata sebanyak 1.734
orang.
Dan untuk mata pencaharian penduduk Desa Paseh Kaler, sebagian besar
penduduknya bekerja di sektor pertanian. Namun sektor ini tidak terlalu dominan
jika dibandingkan dengan gabungan sektor lainnya selain sektor pertanian.
Selain sektor pertanian, banyak juga penduduk Desa Paseh Kaler yang memiliki
mata pencaharian di sektor industri, perdagangan dan konstruksi. Sebagian kecil
lainnya bekerja di sektor transportasi dan jasa.
Sektor pertanian di Desa Paseh Kaler didominasi oleh lahan perkebunan.
Hanya sedikit saja yang berupa lahan pesawahannya. Lahan pesawahan di Desa
Paseh Kaler sebagian besar sudah menggunakan sistem pengairan teknis. Sehingga
produktivitas lahan pesawahannya sangat baik dalam menghasilkan poduk utama
berupa padi. Selain menghasilkan padi, dihasilkan juga jenis tanaman palawija
seperti ubi kayu. Kemudian lahan perkebunannya menghasilkan berbagai jenis
buah-buahan seperti alpukat, belimbing, dukuh, durian, jambu biji, pepaya,
pisang, rambutan, salak, mangga, jeruk, nangka, sawo, dan sirsak.
Sektor industrinya, yang digeluti masyarakat Desa Paseh Kaler merupakan
industri skala kecil. Jenis industrinya adalah dalam hal pengolahan makanan,
kayu dan tekstil serta genteng/batu bata.
Untuk seni budayanya, di Desa Paseh Kaler masih terdapat kesenian Sunda
yang masih terpelihara. Salah satunya adalah Seni Calung. Kemudian potensi
wisata di Desa Paseh Kaler, yang memungkinkan untuk lebih dikembangkan lagi
adalah Wisata Mata Air Cipaingeun yang merupakan sumber mata air bagi penduduk
di Desa Paseh Kaler di Dusun Parumasan serta sumber irigasi bagi lahan
pesawahan di sekitarnya.
B.
Kondisi
Komunitas Sasaran
Semangat belajar dan menghafal pada
murid-murid Madrasah Diniyah tersebut
sabfatlah tinggi. Namun karena keterbatasan para pengajar yang ada di sana
serta tidak adanya metode khusus yang digunakan oleh para pengajar membuat
murid-murid kesulitan dalam menghafal. Setiap sore mereka mengaji berdatangan
dari setiap dusun ke Madrsah Diniyahh tersebut, namun mereka tidak patah
semangat.
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN PENGABDIAN
A.
Tahapan
Pengabdian kepada Masyarakat
KKN Sisdamas dilaksanakan selama 30
hari terhitung sejak kedatangan ke lokasi KKN. Berdasarkan perhitungan waktu
tersebut, peserta KKN dan DPL memastikan bahwa tahapan KKN Sisdamas dapat
dilaksanakan menggunakan alokasi waku yang tersedia. Secara terjadwal tahapan
KKN Sisdamas terdiri atas :
1.
Soswal,
RW, dan Refso (Sosialisasi Awal, Rembug Warga dan Refleksi Sosial) dilaksanakan
pada minggu ke I;
2.
Peso
(Pemetaan Sosial) dilaksanakan pada minggu ke II;
3.
Orgamas
(Pengorganisasian Masyarakat) dilaksanakan pada minggu ke II;
4.
Cantif
(Perencanaan Partisipatif) dilaksanakan pada akhir minggu ke II dan atau pada
awal minggu ke III;
5.
Sipro
(Sinergi Program) dilaksanakan oleh peserta KKN pada minggu ke III;
6.
Pepro
(Pelaksanaan Program) dilaksanakan pada minggu ke III;
7.
Monev
(Monitoring Evaluasi) dilaksanakan pada minggu ke IV.
sekalian
melaksanakan penutupan KKN;
Setiap tahapan
siklus tersebut, DPL hadir di lokasi KKN. Sekalipun jadwal tahapan KKN Sisdamas
telah ditentukan waktunya, namun dalam pelaksanaannya sangat fleksibel dengan
memperhatikan kondisi dan kesiapan warga di lokasi KKN.
Adapun yang
berkaitan dengan tahapan pengabdian individu secara umum dintaranya yaitu :
a. Hamdani, jurusan Ilmu Al-Qur’an Tafsir
melakukan pengabdian Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) Nurul Washilah dan
mengajar di pengajian anak-anak di Rw 05 dan Rw 08.
b. Alif
Taruna Anugrah Ramdhani, jurusan Ilmu Al-Qur’an Tafsir melakukan pengabdian
dengan mengajar di Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) Nurul Washilah.
c. Asri
Nurjihan Alawiyyah, jurusan Pendidikan Agama Islam melakukan pengabdian
dengan mengajar di MTs Al-Amanah dan di pengajian
anak-anak pengajian anak-anak di Rw 05 dan Rw 08.
e. Dinda
Sonia Puspitasari, jurusan Pendidikan Agama Islam melakukan
pengabdian dengan mengajar MTs Al-Amanah dan pengajian anak-anak di Rw 05 dan
Rw 08.
f. Fitri
Amalia, jurusan Sosiologi melakukan pengabdian mengajar pengajian anak-anak di
Rw 05 dan Rw 08 dan penyuluhan kepada organisasi masyarakat (karang taruna).
g. Asri
Nurjihan Alawiyyah, jurusan Pendidikan Agama Islam melakukan pengabdian dengan
mengajar di MTs Al-Amanah dan di pengajian anak-anak pengajian anak-anak di Rw
05 dan Rw 08.
h. Imam
Saepudin Hidayat, jurusan Sosiologi
melakukan pengabdian dengan sosialisasi
pentingnya pendidikan kepada pemuda paseh pengajian anak-anak di Rw 05 dan Rw
08.
i.
M. Rizki Miftah
Fauzan, jurusan Pendidikan
Agama Islam melakukan pengabdian
dengan mengajar di MTs Al-Amanah dan di pengajian anak-anak di Rw 05 dan Rw 08.
j.
Moch. Gumilar
Sukasah, jurusan Agroteknologi
melakukan pengabdian dengan melakukan
penyuluhan mengenai ramah lingkungan dengan program urban farming kepada
Kelompok Wanita Tani (KWT) Rw 05 Dusun Paseh.
k. Naufal
Ariq Fadlurrahman, jurusan Hubungan
Masyarakat melakukan
pengabdian dengan membangun karakter anak di Paseh dan
mengajar pengajian anak-anak di Rw 05 dan Rw 08.
l.
Siti Mulyati,
jurusan Administrasi Publik melakukan pengabdian dengan membantu kegiatan
administrasi di desa seperti pengrekapan surat, pendampingan proses
digitalisasi desa, dan input profil desa paseh kaler dan mengajar pengajian
anak-anak di Rw 05 dan Rw 08.
m. Siti
samhah, jurusan Matematika melakukan pengabdian dengan mengajar di Mts
Al-Amanah dan mengajar pengajian anak-anak di Rw 05 dan Rw 08.
n. Whita
Kaustavia, jurusan Admninistrasi Publik melakukan pengabdian dengan membantu
kegiatan administrasi di desa dan mengajar pengajian anak-anak di Rw 05 dan Rw
08.
Adapun yang
berkaitan dengan tahapan pengabdian secara khusus atau individu. Penulis
dibantu oleh salah satu rekan satu jurusan dengan penulis. Ia bernama Alif
Taruna Anugrah Ramdhani, jurusan Ilmu Al-Qur’an Tafsir.
B.
Hasil
Pengabdian kepada Masyarakat
Kurangnya tenaga pengajar yang
menguasai ranah tahfidz al-Qur’an di Desa Paseh Kaler ini membuat penulis
tergugah untuk mengangkat sebuah tema smart tahfidz karena sesuai dengan
backgroundnya yaitu program pendidikan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir. Alhamdulillah
dengan adanya kehadiran penulis di tengah-tengah mereka membuat mereka
bertambah semangat dalam menghafal Al-Qur’an. Tidak hanya dikalangan anak-anak,
baik para tenaga pengajar disana maupun para orang tua murid pun ikut senang
dan mensuport segala kebutuhan penulis dalam penelitiannya.
Penulis mengajar di Madrasah Diniyah
Takmiliyah ini setiap hari dari pukul 14.00 WIB s.d pukul 16.00 WIB kecuali
pada hari sabtu dan ahad libur. Di Madrasah ini terdiri dari 6 kelas, yaitu
kelas 1 s.d kelas 6 SD. Jumlah murid-murid disana tidak lebih dari 150 orang.
Banyaknya murid-murid disana membbuat penulis keteteran, oleh karena itu
penulis di dampingi oleh beberapa rekan penulis. Dalam metode smart tahfidz
ini, yang difokuskan oleh penulis adalah mengggunakan garis-garis pada
jari-jari tangan kanan khususnya. Ibu jari sebagai penunjuk, sisa keempat jari
tersebutlah yang dipakai untuk menghitung. Dalam hal ini setiap satu kali
putaran angkanya mencapai 12. Jika 2 kali putaran berarti 24 dan seterusnya.
Hal inilah yang dapat mempercepat hafalan.
hal yang ada korelasinya dengan
hafalan diantaranya adalah sebagai berikut :
1.
Keutamaan
dan keistimewaan para penghafal Al-Qur’an
بَلْ
هُوَ آَيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَمَا يَجْحَدُ
بِآَيَاتِنَا إِلَّا الظَّالِمُونَ
Bahkan,
Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata, yang ada di dalam dada orang-orang
yang diberi ilmu..(QS. al-Ankabut: 49).
Al-Qur’an
ialah pedoman bagi setiap estapeta hidup manusia, sejak alam kandungan hingga
kembal menghadap Allah swt. Mengamalkannya adalah kemestian sedangkan abai akan
peunjuknya hanya akan mengantar pada keterbelakangan.
Berikut ini keutamaan orang yang
menghafal al-Qur’an
a) Hati
Tidak Akan Pernah Merasa Kosong
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas secara marfu:
“Orang yang tidak mempunyai hafalan Al Quran sedikitpun adalah seperti rumah
kumuh yang mau runtuh”. (Hadits diriwayatkan oleh Tirmizi dari Ibnu
Abbas (2914), ia berkata hadits ini hasan sahih).
b) Memperoleh
penghormatan dari Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wasallam.
Dari Abi Hurairah Radiyallahu ‘anhu. ia berkata: Rasulullah
Shallallahu ‘alayhi wasallam mengutus satu utusan yang terdiri dari beberapa
orang. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wasallam mengecek kemampuan
membaca dan hafalan Al Qur’an mereka: setiap laki-laki dari mereka ditanyakan
sejauh mana hafalan Al-Qur’an-nya. Kemudian seseorang yang paling muda ditanya
oleh Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wasallam :”Berapa banyak Al Quran yang
telah engkau hafal, hai Fulan?” ia menjawab: aku telah menghafal surah ini dan
surah ini, serta surah Al-Baqarah. Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wasallam
kembali bertanya: “Apakah engkau hafal surah Al-Baqarah?” Ia menjawab: Betul.
Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda:”Pergilah, dan engkau menjadi
ketua rombongan itu!”. Salah seorang dari kalangan mereka yang terhormat
berkata: Demi Allah, aku tidak mempelajari dan menghafal surah Al-Baqarah
semata karena takut aku tidak dapat menjalankan isinya. Mendengar komentar itu,
Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda: “Pelajarilah Al Qur’an dan
bacalah, karena perumpamaan orang mempelajari Al Quran dan membacanya,
adalah seperti tempat bekal perjalanan yang diisi dengan minyak misik, wanginya
menyebar ke mana-mana. Sementara orang yang mempelajarinya kemudian dia tidur
-dan dalam dirinya terdapat hafalan Al Qur’an- adalah seperti tempat bekal
perjalanan yang disambungkan dengan minyak misik” (Hadits
diriwayatkan oleh Tirmizi dan ia menilainya hadits hasan (2879), dan lafazh itu
darinya. Serta oleh Ibnu Majah secara ringkas (217), Ibnu Khuzaimah (1509),
Ibnu Hibban dalam sahihnya (Al Ihsaam 2126), dan dalam sanadnya ada ‘Atha,
Maula, Abi Ahmad, yang tidak dinilai terpecaya kecuali Ibnu Hibban).
c) Mengenakan
Mahkota Kehormatan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda, يَجِىءُ
الْقُرْآنُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيَقُولُ يَا رَبِّ حَلِّهِ فَيُلْبَسُ تَاجَ
الْكَرَامَةِ ثُمَّ يَقُولُ يَا رَبِّ زِدْهُ فَيُلْبَسُ حُلَّةَ الْكَرَامَةِ
ثُمَّ يَقُولُ يَا رَبِّ ارْضَ عَنْهُ فَيَرْضَى عَنْهُ فَيُقَالُ لَهُ اقْرَأْ
وَارْقَ وَتُزَادُ بِكُلِّ آيَةٍ حَسَنَةً
Al-Quran
akan datang pada hari kiamat, lalu dia berkata, “Ya Allah, berikan dia
perhiasan.” Lalu Allah berikan seorang hafidz al-Quran mahkota kemuliaan.
Al-Quran meminta lagi, “Ya Allah, tambahkan untuknya.” Lalu dia diberi pakaian
perhiasan kemuliaan. Kemudian dia minta lagi, “Ya Allah, ridhai dia.” Allah-pun
meridhainya. Lalu dikatakan kepada hafidz quran, “Bacalah dan naiklah, akan
ditambahkan untukmu pahala dari setiap ayat yang kamu baca. (HR. Turmudzi 3164 dan beliau menilai Hasan shahih). Al-Quran
akan datang pada hari kiamat, lalu dia berkata, “Ya Allah, berikan dia
perhiasan.” Lalu Allah berikan seorang hafidz al-Quran mahkota kemuliaan.
Al-Quran meminta lagi, “Ya Allah, tambahkan untuknya.” Lalu dia diberi pakaian
perhiasan kemuliaan. Kemudian dia minta lagi, “Ya Allah, ridhai dia.” Allah-pun
meridhainya. Lalu dikatakan kepada hafidz quran, “Bacalah dan naiklah, akan
ditambahkan untukmu pahala dari setiap ayat yang kamu baca. (HR.
Turmudzi 3164 dan beliau menilai Hasan shahih).
d) Kebahagiaan
Bagi Kedua Orang Tua
Sabda rasulullah
s.a.w.:“Daripada Buraidah Al Aslami ra, ia berkata bahawasanya ia mendengar
Rasulullah s..a.w bersabda: “Pada hari kiamat nanti, Al Quran akan menemui
penghafalnya ketika penghafal itu keluar dari kuburnya. Al Quran akan berwujud
seseorang dan ia bertanya kepada penghafalnya: “Apakah anda mengenalku?”.
Penghafal tadi menjawab; “saya tidak mengenal kamu.” Al Quran berkata;
“saya adalah kawanmu, Al Quran yang membuatmu kehausan di tengah hari yang
panas dan membuatmu tidak tidur pada malam hari. Sesungguhnya setiap pedagang
akan mendapat keuntungan di belakang dagangannya dan kamu pada hari ini di
belakang semua dagangan.
Maka penghafal Al Quran
tadi di beri kekuasaan di tangan kanannya dan diberi kekekalan ditangan
kirinya, serta di atas kepalanya dipasang mahkota perkasa. Sedang kedua orang
tuanya diberi dua pakaian baru lagi bagus yang harganya tidak dapat dibayar
oleh penghuni dunia keseluruhannya.
Kedua orang tua itu lalu bertanya: “kenapa kami di beri dengan pakaian
begini?”. Kemudian di jawab, “kerana anakmu hafal Al Quran.” Kemudian kepada
penghafal Al Quran tadi di perintahkan, “bacalah dan naiklah ketingkat-tingkat
syurga dan kamar-kamarnya.” Maka ia pun terus naik selagi ia tetap membaca,
baik bacaan itu cepat atau perlahan (tartil)
e) Mendapatkan
Tempat Yang Tinggi di Surga
Sabda rasulullah
Shallallahu ‘alayhi wasallam:
“Dari Sisyah Radhiyallahu ‘anhu ia berkata, bahawasanya Rasulullah
Shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda; jumlah tingkatan-tingkatan surga sama
dengan jumlah ayat-ayat Al Qur’an. Maka tingkatan surga yang di masuki oleh
penghafal Al Qur’an adalah tingkatan yang paling atas, dimana tidak ada
tingkatan lagi sesudah itu.
f) Penghafal
Al Qur’an adalah keluarga Allah ‘Azza wa Jalla
“Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga di
antara manusia, para sahabat bertanya, “Siapakah mereka ya Rasulullah?” Rasul
menjawab, “Para ahli Al Qur’an. Merekalah keluarga Allah dan
pilihan-pilihan-Nya.” (HR. Ahmad)
g) Hatinya
terbebas dari siksa
Sabda Rasulullah
Shallallahu ‘alayhi wasallam
” Dari Abdullah Bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu Dari Nabi
Shallallahu ‘alayhi wasallam Baginda bersabda: ” bacalah Al Qur’an kerana Allah
tidak akan menyiksa hati orang yang hafal Al Qur’an. Sesungguhanya Al Qur’an
ini adalah hidangan Allah, siapa yang memasukkunya ia akan aman. Dan
barangsiapa yang mencintai Al Qur’an maka hendaklah ia bergembira.”
h)
Mendapatkan Kehormatan Dari Sesama Manusia
“Yang menjadi imam
suatu kaum adalah yang paling banyak hafalannya.” (HR. Muslim)
Dari Abu Hurairah ia berkata, “Telah mengutus Rasulullah SAW sebuah
delegasi yang banyak jumlahnya, kemudian Rasul mengetes hafalan mereka,
kemudian satu per satu disuruh membaca apa yang sudah dihafal, maka sampailah
pada Shahabi yang paling muda usianya, beliau bertanya, “Surat apa yang kau
hafal? Ia menjawab,”Aku hafal surat ini.. surat ini.. dan surat Al Baqarah.”
Benarkah kamu hafal surat Al Baqarah?” Tanya Nabi lagi. Shahabi menjawab,
“Benar.” Nabi bersabda, “Berangkatlah kamu dan kamulah pemimpin delegasi.”
(HR. At-Turmudzi dan An-Nasa’i)
“Adalah nabi mengumpulkan di antara dua orang syuhada Uhud kemudian
beliau bersabda, “Manakah di antara keduanya yang lebih banyak hafal Al Qur’an,
ketika ditunjuk kepada salah satunya, maka beliau mendahulukan pemakamannya di
liang lahat.” (HR. Bukhari)
i)
Mendapat syafaat dari Alquran
“Penghafal
Quran akan datang pada hari kiamat dan AlQuran berkata: “Wahai
Tuhanku, bebaskanlah dia. Kemudian orang itu dipakaikan mahkota karamah
(kehormatan). AlQuran kembali meminta: Wahai Tuhanku, ridhailaih dia, maka
Allah meridhainya. Dan diperintahkan kepada orang itu, bacalah dan teruslah
naiki (derajat-derajat surga). Dan Allah menambahkan dari setiap ayat yang
dibacanya tambahan nikmat dan kebaikan.” (HR Tirmidzi).
j)
Disayang oleh Rasulullah
Sabda Rasulullah Shallallahu
‘alayhi wasallam:
“Dari Jabir Bin Abdullah Radhiyallahu ‘anhu Bahawa Nabi
Shallallahu ‘alayhi wasallam menyatukan dua orang dari orang-orang yang
gugur dalam perang uhud dalam satu liang lahad. Kemudian nabi Shallallahu
‘alayhi wasallam bertanya, “dari mereka berdua siapakah paling banyak hafal Al
Qur’an?” apabila ada orang yang dapat menunjukkan kepada salah satunya, maka
Nabi Shallallahu ‘alayhi wasallam memasukkan mayat itu terlebih dahulu ke liang
lahad.”
k)
Mendapat syafaat dari Alquran
“Penghafal
Quran akan datang pada hari kiamat dan AlQuran berkata: “Wahai Tuhanku,
bebaskanlah dia. Kemudian orang itu dipakaikan mahkota karamah (kehormatan).
AlQuran kembali meminta: Wahai Tuhanku, ridhailaih dia, maka Allah meridhainya.
Dan diperintahkan kepada orang itu, bacalah dan teruslah naiki (derajat-derajat
surga). Dan Allah menambahkan dari setiap ayat yang dibacanya tambahan nikmat
dan kebaikan.” (HR Tirmidzi).
l)
Termasuk sebaik-baik manusia
“Sebaik-baik
orang di antara kalian adalah orang yang mempelajari Al-Quran dan
mengajarkannya” (HR. Bukhari)
m)
Orang lain boleh iri padanya
“Tidak
boleh seseorang berkeinginan kecuali dalam dua perkara, menginginkan seseorang
yang diajarkan oleh Allah kepadanya Al Qur’an kemudian ia membacanya sepanjang
malam dan siang, sehingga tetangganya mendengar bacaannya, kemudian ia berkata,
’Andaikan aku diberi sebagaimana si fulan diberi, sehingga aku dapat berbuat
sebagaimana si fulan berbuat” (HR. Bukhari)
2
Hukum
bagi orang yang lupa terhadap hafalan Al-Qur’an
1. Fatwa Secara Umum
Kalau
kita perhatikan fatwa para ulama, memang benar kebanyakan berfatwa atas
haramnya melupakan hafalan ayat Al-Quran. Bahkan ada yang sampai mengatakan
dosa besar. Berikut ini ada beberapa fatwa mereka, saya urutkan berdasarkan
angka tahun wafatnya :
a. Ibnu Taimiyah
Ibnu Taimiyah (w. 728 H) di dalam Majmu’ Fatawa menyebutkan bahwa orang
yang melupakan Al-Quran itu termasuk berdosa.
b. Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani (w. 852 H) di dalam kitabnya Fathul Bari,
menyebutkan pandangan beliau terhadap orang yang belajar Al-Quran lalu
melupakannya. Tidaklah seseorang belajar Al-Quran kemudian melupakannya kecuali
dia telah menciptakan sendiri dosanya. Sesuai firman Allah SWT,”Musibah yang
menimpamu dari maksiat adalah yang kamu lakukan sendiri”. Dan melupakan
Al-Quran termasuk musibah yang paling besar.
Fatwa Ibnu Hajar ini menjawab salah satu pertanyaan Anda, yaitu kalau orang
lupa kok dihukum bersalah, padahal lupa itu sifat manusia, maka menurut beliau
kasus itu sama saja dengan orang yang sedang dapat musibah. Memang tidak 100%
kesalahan dia, tetapi tetap saja dianggap bersalah.
Perumpamaannya di zaman sekarang misalnya ada sepeda motor menabrak mobil
kita dari belakang. Jelas bukan salah kita, tetapi namanya saja musibah, selain
mobil rusak, biasanya kita pun ditilang juga, karena tetap dianggap telah
melakukan pelanggaran oleh polisi. Kita sebenarnya tidak salah, tapi kita kena
musibah dan dipersalahkan.
c. Zakaria Al-Ashari
Zakaria Al-Ashari (w. 926 H) di dalam kitabnya Asna
Al-Mathalib menyebutkan bahwa melupakan Al-Quran itu bukan hanya sekedar
berdosa saja, melainkan berdosa besar. Malahan menurut beliau meskipun hanya
sebagian saja yang terlupa, juga sudah termasuk dosa besar. Melupakan Al-Quran
termasuk dosa besar, termasuk melupakan sebagainnya sudah termasuk juga. Dasarnya menurut beliau adalah dua hadits berikut :
Aku diperlihatkan dosa-dosa umatku, ternyata yang
paling besar adalah dosa orang yang telah diberikan Al-Quran, baik satu surat
atau satu ayat, lalu dia melupakannya. (HR. Abu Daud).
Orang yang membaca Al-Quran kemudian melupakannya,
nanti dia akan bertemu Allah dalam keadaan terpotong/kusta. (HR. Abu Daud).
d. Fatwa Secara Kritis
Kalau di atas kita dapati fatwa secara umum tentang
haramnya melupakan hafalan Al-Quran, maka pada bagian ini kita akan kaji secara
lebih kritis lagi, yaitu apakah hanya semata-mata lupa karena faktor manusiawi
lantas kita bisa dikategorikan telah melakukan dosa besar?
Dalam hal ini para ulama melihat secara lebih seimbang, adil dan juga
memperhatikan faktor manusiawi. Sebab ada banyak keadaan yang sulit juga untuk
dipungkiri, antara lain :
a.
Lupa Adalah Sifat Dasar Manusia
Allah SWT memang menciptakan manusia yang tidak bisa luput dari salah satu
sifat dasarnya, yaitu lupa. Meskipun ada juga lupa yang disebabkan karena
perbuatan syetan, namun bukan berarti manusia tidak bisa lupa.Dalam
kenyataannya, semua penghafal Al-Quran pasti tidak bisa terlepas dari masalah
lupa. Tentu saja ketika hal itu terjadi, tidak bisa disamakan kasusnya dengan
perbuatan bosa besar lainnya seperti zina, mencuri, membunuh nyawa manusia dan
seterusnya. Kalau memang demikian, maka semua penghafal Al-Quran itu jatuh
semua ke dalam lembah dosa-dosa besar secara keseluruhannya.
Padahal Allah SWT telah berfirman tentang kelemahan sifat manusia ini dan
memberikan keringanan di dalam banyak ayat : Allah tidak membebani seseorang
melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan)
yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.
(QS. Al-Baqarah : 286) Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu
dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan
barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah
orang-orang yang beruntung. (QS. At-Taghabun : 16)
b. Nabi SAW Pernah Lupa Ayat Al-Quran
Nabi SAW sebagai manusia pun juga tidak luput dari sifat lupa, karena lupa
adalah salah satu fitrah manusia. Setidaknya ada dua kejadian yang bisa
dijadikan dasar bahwa lupa adalah manusiawi.
Kejadian Pertama : Rasulullah SAW mengimami shalat dan pernah terlupa untuk
meneruskan bacaan suatu ayat. Setelah shalat usai, seorang shahabat yaitu Ubay
bin Ka’ab radhiyallahuanhu mengingatkan ayat yang beliau SAW terlupa tadi. Maka
Rasulullah SAW pun menjawab : Mengapa tadi tidak mau ingatkan? Kejadian Kedua :
Ada seseorang yang membaca suatu ayat dari Al-Quran dan Rasulullah SAW
mendengarnya. Beliau bersabda : Semoga Allah merahmati si fulan. Dia telah
mengingatkan Aku atas suatu ayat yang Aku terlupa.
Dua kejadian ini jelas sekali memberikan gambaran kepada kita, bahwa meski
beliau SAW seorang nabi, namun tetap saja beliau adalah manusia biasa yang bisa
lupa, termasuk lupa atas suatu ayat Al-Quran pada keadaan tertentu. Maka kita perlu bedakan dua jenis
lupa. Ada lupa yang haram yaitu sengaja melupakan dan melalaikan. Tapi ada juga
lupa yang bersifat tabi’i, manusiawi, serta merupakan sifat asli manusia dan
tidak bisa dihindari darinya.
Dalam hal ini menarik kalau kita perhatikan fatwa dari Lajnah Daimah
Kerajaan Saudi Arabia terkait masalah ini.
Lajnah Daimah Kerajaan Saudi Arabia, yang diwakili oleh Syeikh Abdul Aziz
bin Baz, Abdurrazzaq Afifi, Abdullah bin Ghadyah dan Abdullah bin Qu’ud telah
mengeluarkan fatwa dalam masalah ini.
Tidak pantas bagi penghafal Al-Quran melalaikan bacaannya. Dia harus
merutinkan setiap hari agar terus hafal dan terlindung dari lupa. Namun bagi
yang pernah hafal ayat tertentu lalu terlupa karena kesibukan atau lalai, maka
dia tidak berdosa. Sedangkan ancaman buat orang yang lupa, haditsnya tidak
shahih.
e. Fatwa Al-Utsaimin
Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin di dalam Kitabul Ilmi menjelaskan
bahwa lupa itu ada dua macam, yang satu tidak berdosa dan yang satu lagi
berdosa. Dan lupa yang berdosa apabila melupakan Al-Quran dengan cara secara
sengaja menolak Al-Quran.
Hal itu beliau jelaskan ketika para mahasiswa semester akhir mengadukan
masalah hafalan Al-Quran mereka pada di semester-semester awal banyak yang sudah
terlupa. Maka beliau menjawab bahwa lupa itu ada dua macam.
Lupa
yang pertama adalah lupa terkait tabiat dasar manusia. Lupa yang kedua memang
sengaja menolak Al-Quran dan tidak memperhatikannya. Lupa jenis pertama itu
tidak berdosa dna tidak dihukum. Dan itu adalah lupa yang terkait dengan sifat
manusia. Tidak Mau Menghafal Al-Quran Karena Takut Dosa Melupakan. Salah satu
dampak negatif yang muncul apabila kita kurang cerdas memahami fatwa ini adalah
adanya orang yang berpikir terbalik. Dari pada menghafal Al-Quran lalu terkena
resiko berdosa lantaran bisa saja lupa, maka mendingan tidak usah menghafal
saja sekalian, biar tidak ada resiko lupa dan tidak ada ancaman dosa.
C.
Faktor
Pendukung dan Penghambat
Diantara faktor-faktor pendukung yang dapat membantu
merealisasikan tujuan menghafal Al Quran adalah:
1. Faktor kesehatan
Kesehatan merupakan salah satu faktor yang sangat penting bagi
orang yang akan menghafalkan al-Qur’an. Jika tubuh sehat maka peroses
menghafalkan akan menjadi lebih mudah dan cepat tanpa adanya penghambat, dan
batas waktu menghafal menjadi relatif cepat. Namun, bila tubuh tidak sehat maka
akan sangat menghambat ketika menjalani proses menghafal. Misalnya, saat sedang
semangat-semangatnya menghafal, secara tiba-tiba anda jauh sakit. Akibatnya
proses untuk menghafalkan al-Qur’an pun akan terganggu.
Oleh karena itu, sangat disarankan agar selalu menjaga kesehatan,
sehingga ketika menghafal tidak ada kendala karena keluhan dan rasa sakit yang
diderita. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menjaga pola makan, menjaga
jadwal waktu tidur, mengecek kesehatan secara rutin, dan lain sebagainya.
2. Faktor psikologis
Kesehatan yang diperlukan oleh orang yang menghafalkan al-Qur’an
tidak hanya dari segi kesehatan lahiriah, tetapi dari segi psikologinya. Sebab,
jika secara psikologis terganggu, maka akan sangat menghambat proses menghafal.
Sebab, orang yang menghafalkan al-Qur’an sangat membutuhkan ketenangan jiwa,
baik dari segi pikiran maupun hati. Namun, bila banyak sesuatu yang dipikirkan
atau dirisaukan, proses menghafal pun akan menjadi tidak tenang. Akibatnya,
banyak ayat yang sulit untuk hafal. Oleh karena itu, jika mengalami gangguan
psikologi, sebaiknya perbanyak berdzikir, melakukan kegiatan yang positif, atau
berkonsultasi kepada psikiater.
3. Faktor kecerdasan
Kecerdasan merupakan salah sau faktor pendukung dalam menjalani
proses menghafalkan al-Qur’an. Setiap individu mempunyai kecerdasan yang
berbeda-beda. Sehingga, cukup mempengaruhi terhadap proses hafalan yang
dijalani.
Meskipun demikian,
bukan berarti kurangnya kecerdasan menjadi alasan untuk tidak bersemangat dalam
proses menghafalkan al-Qur’an. Sebagaimana diuraikan sebelumnya, hal yang
paling penting ialah kerajianan dan istiqomah dalam menjalani hafalan.
4. Faktor motivasi
Orang yang menghafalkan al-Qur’an, pasti sangat membutuhkan
motivasi dari orang-orang terdekat, kedua orang tua, keluarga, dan sanak
kerabat. Dengan adanya motivasi, ia akan lebih bersemangat dalam menghafalkan
al-Qur’an. Tentunya, hasilnya akan berbeda jika motivasi yang didapatkan
kurang. Kurangnya motivasi dari orang-orang terdekat atau dari keluarga akan
menjadi salah satu faktor penghambat bagi sang penghafal iu sendiri.
5. Faktor usia
Usia bisa menjadi salah satu faktor penghambat bagi orang yang
hendak menghafalkan al-Qur’an. Jika usia sang penghafal sudah memasuki dewasa
atau berumur, maka akan banyak kesulitan yang akan menjadi penghambat. Selain
itu, otak orang dewasa juga tidak sejernih otak orang yang masih muda, dan
sudah memikirkan hal-hal lain.
Sebenarnya, kurang tepat
bagi yang sudah berusia dewasa untuk memulai menghafalkan al-Qur’an. Walaupun
pada dasarnya mencari ilmu tidak kenal dengan waktu dan usia, serta mencari
ilmu sampai akhir hayat. Akan tetapi, di usia dewasa akan banyak hal yang masih
dipikirkan, selain menghafalkan al-Qur’an. Oleh karena itu, jika hendak
menghafalkan al-Qur’an, sebaiknya pada usia-usia yang amsih produktif supaya
tidak mengalami berbagai kesulitan.
Adapun Faktor-faktor penghambat dalam proses menghafal al-qur’an
adalah sebagai berikut :
1. Tidak menguasai makhorijul huruf
Salah satu faktor kesulitan dalam menghafal al-Qur’an
ialah karena bacaan yang tidak bagus, baik dari segi makhrojul khuruf,
kelancaran membacanya, ataupun tajwidnya. Untuk menguasai al-Qur’an dengan baik
dan benar, maka harus menguasai makhrojul huruf dan memahami tajwid dengan
baik. Walaupun pada dasarnya menghafalkan al-Qur’an tidak pernah lepas dari
kendala dan beberapa problem yang menyulitkan, maka ia akan mengalami banyak
kesulitan.selain itu, orang yang tidak menguasai makhorijul huruf dan memahami
ilmu tajwid, kesulitan dalam menghafal akan benar-benar terasa, dan masa
menghafal juga akan semakin lama. Tanpa menguasai keduanya, bacaan al-Qur’annya
pun kaku, tidak lancar, dan banyak yang salah. Padahal, orang yang hendak
menghafal al-Qur’an bacaannya terlebih dahulu harus lancar dan benar, sehingga
memudahkan dalam menjalani proses menghafal al-Qur’an.
2. Berganti-ganti mushaf
Berganti-ganti dalam menggunakan al-Qur’an juga akan
menyulitkan proses menghafal dan mentakrir al-Qur’an, serta dapat melemahkan
hafalan. Sebab, setiap al-Qur’an atau mushaf mempunyai posisi ayat dan bentuk
tulisan yang berbeda-beda. Tulisan ayat-ayat al-Qur’an ada yang simple
(praktis) dan ada yang tidak. Hal ini bisa menyebabkan kesulitan untuk membayangkan
posisi ayat. Akibatnya, dapat timbul keragu-raguan pada saat melanjutkan ayat
yang berada di awal halaman selanjutnya setelah selesai membaca ayat yang
berbeda di akhir halaman.
Oleh karena itu, disarankan untuk menggunakan hanya
satu al-Qur’an, sehingga tidak menyulitkan saat menghafal, terutama dalam
mengulang-ulang al-Qur’an. Apabila menggunakan satu al-Qur’an, maka akan paham
letak ayat, halaman sebelum dan sesudahnya, serta bekas coretan-coretan dari
pensi atau stabilo untuk mengingat dan menandai ayat yang sebelumnya paling
sulit dihafalkan.
3. Tidak banyak berdoa
Berdoa merupakan senjata bagi umat Islam. Sebagai umat
Islam, kita harus yakin bahwa tidak ada yang sia-sia dari usaha berdoa,
sekaligus yakin bahwa Allah akan selalu mengabulkan doa, atau diganti dengan
yang lebih baik dari permintaan semula. Bagi para penghafal al-Qur’an apabila
tidak berdoa kepada Allah, maka ketika sedang menghadapi kesulitan dalam
menghafal, Allahtidak akan membantunya. Sebab, ia tidak meminta kepada-Nya.
memperbanyak doa dan menyampaikan semua keluh kesah dan permintaan supaya
dijauhkan dari kesulitan dalam meghafal al-Qur’an merupakan salah satu sarana
yang sangat tepat supaya mudah dalam menghafalkan al-Qur’an.
Dengan berdoa, maka akan terasa selalu dekat dengan
Allah swt. Sesungguuhnya, seseorang yang sedang dalam kesulitan hanya
kepada-Nya-lah tempat meminta. Dan, hanya Dia-lah yang akan mengabulkan
permintaan. Akan tetapi, jika jarang berdoa, bahkan tidak melakukannya sama
sekali, maka ketika dalam kesulian, Allah tidak akan membantu. Sebab, tidak
berdoa dan meminta kepada-Nya agar dimudahkan dalam menghafal al-Qur’an.
Adapun waktu yang tepat dalam berdoa, antara pada waktu
sahur, usai shalat, dan sepuluh akhir bulan Ramadhan. Dan, lebih utama ketika
sendirian dalam keheningan malam, saat hujan, dalam perjalanan, selesai adzan,
ketika berbuka puasa, dan lain-lain. Selain itu, ada beberapa tempat yang dapat
mempercepat terkabulnya doa, misalnya di Makkah dan Madinah, dekat Hajar Aswad,
Ka’bah, Raudhah, masjid dan lain-lain.
4. Tidak memuroja’ah
Seorang penghafal al-Qur’an harus memiliki jadwal
khusus untuk mengulangi hafalan. Jadi ia harus memiliki wirid harian untuk
muraja’ah hafalan yang sudah dihafal, baik di dalam shalat ataupun diluar shalat. Sebab, diantara salah satu
penyebab hafalan al-Qur’an cepat hilang ialah karena tidak memiliki jadwal
khusus muraja’ah.
Rasulullah saw telah
memberikan peringatan kepada orang yang hafal al-Qur’an untuk selalu menjaga
hafalan. Sebab, al-Qur’an akan lebih mudah lepas dibandingkan dengan seekor
unta yang terikat kuat. Hal ini sesuai dengan sabda berikut :
تعاهدوا القران فوالذي نفسي بيده لهو اشد تفصيا من قلوب
الجال من الابل من عقلها
“Jagalah al-Qur’an demi yang jiwaku berada di
tangan-Nya. Al-Qur’an itu lebih cepat lepas dari
hati penghafalnya daripada lepasnya seekor unta dari ikatannya” (H.R Bukhari)
Dengan pandai mengatur waktu,
penghafal al-Qur’an akan terbantu dalam memelihara
hafalannya. Dengan mengatur waktu, ia akan selalu mengulang-ulang hafalan yang
senantiasa berkelanjutan. Oleh karena itu, biasakan waktu untuk tidakk
melewatkan waktu tanpa melakukakan hal-hal yang bermanfaat.
Dengan
demikian, ketidakkonsistenan dalam mengulang hafalan juga akan mempercepat
hilangnya hafalan. Mengulang dengan semaunya tanpa memenuhi target, bias
berdampak tidak baik. Akibatnya, ia akan cenderung malas untuk mengulang. Hal
inilah yang dapat menyebabkan hilangnya
hafalan.
5. Malas melakukan sema’an
Salah satu metode agar hafalan tidak mudah lupa adalah dengan
melakukan sema’an denagn sesama teman, senior, atau kepada guru dari ayat-ayat
yang telah hafal. Namun, jika malas atau tidak mengikuti sema’an, maka hal
tersebut akan menyebabkan hafalan mudah hilang.
Selain itu, jika tidak suka melakukan sema’an, ketika
ada kesalah ayat, hal itu tidak akan terdeteksi. Sebab, tidak ada teman yang
mendengarkan hafalan. Oleh karena itu, perbanyaklah melakuakan sema’an. Sebab,
dengan banyak mengikuti sema’an, sama halnya mengulang hafalan yang terdahulu
atau yang baru.
6. Tidak sungguh-sungguh
Penghafal al-Qur’an akan merasa kesulitan dalam
menjalani proses menghafalnya jika tidak kerja keras dan sungguh-sungguh.
Sbenarnya, terkadang kesulitan tersebut disebabkan karena safat malas serta
ketidaktekunan dalam menghafal.
Apabila ingin menjadi
seorang hafidz, maka harus bekerja keras dan sungguh-sungguh dalam menghafal
al-Qur’an, layaknya orang yang siap mencapai sebuah kesuksesan. Aktivitas
menghafal al-Qur’an ini lebih bernilai ibadah disisi Allah daripada
ujuan-tujuan yang lain. Dengan menghafal al-Qur’an, berarti telah melestraikan
terjaganya keaslian al-Qur’an dari penyimpangan dan dari orang-orang yang tidak
bertanggungjawab. Sebab, sesungguhnya, orang yang bekerja keras dan
bersungguh-sungguh menghafal adalah manusia pilihan Allah swt.
Jika tidak bekerja
keras dan sungguh-sungguh dalam menghafal al-Qur’an, berarti niat hanya
setengah hati. Oleh karena itu, harus berusaha untuk menghadirkan mood atau
melawan kemalasan, baik pada pagi, siang dan malam. Hal ini sesuai dengan sabda
Rasulullah saw berikut :
“Dan, karuniakanlah kami agar dapa membacanya pada awal malam dan
pada ujung siang”
7. Tidak menghindari dan menjauhi perbuatan dosa
Tidak menghindari dan menjauhi perbuatan dosa akan
membuat kesulitan dalam menghafal al-Qur’an. Hal tersebut sama dengan ketika
tidak menghindari perbuatan yang dilarang, sehingga yang mengakibatkan hafalan
al-Qur’an mudah lupa atau hilang. Melakukan maksiat melalu mata menjadikan mata
kotor dan ternoda, melihat wanita yang bukan muhrimnya yang memakai pakaian
terbuka juga merupakan musibah. Hal ini akan membuat kesulitan untuk menghafal
al-Qur’an. Oleh karena itu, hindarilah perbuatan maksiat supaya mata bersih dan
tidak mengalami kesulitan dalam menghafal.
Begitu juga jika
melakukan maksiat melalui telinga, dengan dibiarkan mendengarkan sesuatu yang
bermaksiat, yang mengakibatkan kesulitan menghafal al-Qur’an. Hal ini akan
mengakibatkan pikiran tidak konstrasi karena mendengarkan sesuatu yang berbau
maksiat atau menganggu dalam proses
menghafal.
Sama halnya
apabila melakukan maksiat hati. Hal ini akan sangat menghabat dan menyulitkan
dalam menghafal ayat-ayat al-Qur’an. Diantara penyakit hati yang dapat
menggangu proses menghafal al-Qur’an ialah dengki, hasud, berprasangka buruk
terhadap orang lain, serta merasa takjub dan heran terhadap kehebatan dirinya.
Inilah penyakit yang membuat hati \menjadi kotor dan keruh. Olehh karena itu,
bagi para penghafal al-Qur’an sebaiknya membuang jauh-jauh penyakit-penyakit
tersebut agar bisa menghafalkan lebih mudah.
Hal tersebut
sesuai dengan yang telah dijelaskan oleh Imam Ibnu Munadi dalam satu
kesempatan. Ia berkata : “Sesungguhnya, menghafal memiliki beberapa sebab (yang
membantu). Diantaranya, menjauhkan diri dari hal-hal yang tercela. Hal itu
dapat terwujud apabila seseorang mencegah dirinya dari keburukan., menghadap
kepada Allah swt dengan ridha, memasang telinganya, dan pikirannya bersih dari
ar-rain (sesuatu yang menutupi hati dari keburukan)”.
BAB IV
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Secara umum kegiatan Kuliah Kerja
Nyata Berbasis Pemberdayaan Mayarakat (KKN SISDAMAS) 2019 UIN Sunan Gunung
Djati Bandung di Desa Paseh Kaler Kecamatan Paseh Kabupaten Sumedang berjalan
lancar dan sesuai dengan rencana pelaksanaan. Adapun hambatan dalam pelaksanaan
KKN SISDAMAS bisa dijadikan bahan pembelajaran dan evaluasi pada kegiatan KKN
berikutnya. Dari kegiatan memperkenalkan metode Smart Tahfidz kepada anak-anak
di desa Paseh Kaler mereka menanggapi dan merespon dengan positif program
tersebut. Masyarakat juga turut memberikan masukan dan saran dalam kegiatan KKN
di Desa Paseh Kaler. Dari kegiatan memperkenalkan Metode Smart Tahfidz kepada
anak-anak di desa Paseh Kaler dilakukan dengan menggunakan jari-jari tangan.
Hal ini sesuai dengan harapan masyarakat agar anak-anak dapat menghafal Al-Qur’an
dengan cepat dan menanamkan nilai-nilai kecintaan terhadap Al- Qur’an sejak dini salah satunya dengan
menghafalkannya dengan metode yang asing bagi mereka tetapi enak saat dipakai
dan lebih mengefisienkan waktu serta menambah daya ingat pada hafalan.
B.
Rekomendasi
1.
Rekomendasi
untuk Masyarakat Sasaran
Semoga setelah diberikannya pembekalan pengenalan metode Smart
Tahfidz kepada anak-anak di desa Paseh Kaler ini bisa memberikan kesadaran
terhadap kecintaannya kepada Al-Qur’an.
2.
Rekomendasi
untuk Peserta KKN Berikutnya
Untuk peserta KKN berikutnya diharapkan untuk dapat mempersiapkan
diri baik moral ataupun moril agar dapat melaksanakan kegiatan KKN sesuai
rencana. Mempersiapkan segalanya secara matang sehingga dapat mengurangi
hambatan yang akan terjadi saat di lapangan ketika berlangsung kegiatan KKN.
3.
Rekomendasi untuk Pusat Pengabdian Kepada
Masyarakat LP2M UIN Sunan Gunung Djati Bandung Sebaiknya KKN dilaksanakan
dengan persiapan yang cukup matang dan jeda waktu yang cukup antara pembekalan
dan pemberangkatan. Hal ini akan memberikan kesempatan kepada para peserta KKN
untuk lebih mempersiapkan diri dengan segala hal yang diperlukan. Sebaiknya
LP2M mengadakan training bagaimana menjalin komunikasi efektif dengan berbagai
pihak. Bagaimana mengelola jaringan dengan masyarakat, pengusaha, birokrat,
politis, dan seterusnya.
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
Lampiran
1 deskripsi kegiatan
No
|
Tanggal
|
Waktu
|
Tempat
|
Kegiatan
|
1
|
22/08/2019
|
Pkl. 14.00-16.00 WIB
|
MDT Takmiliyah
|
Ta’aruf
|
2
|
23/08/2019
|
Pkl. 14.00-16.00 WIB
|
MDT Takmiliyah
|
Pengenalan Metode Smart Tahfidz
|
3
|
26/08/2019
|
Pkl. 14.00-16.00 WIB
|
MDT Takmiliyah
|
Praktik Smart Tahfidz
|
4
|
27/08/2019
|
Pkl. 14.00-16.00 WIB
|
MDT Takmiliyah
|
Belajar Sifat huruf
|
5
|
28/08/2019
|
Pkl. 14.00-16.00 WIB
|
MDT Takmiliyah
|
Belajar Tahsin
|
6
|
29/08/2019
|
Pkl. 14.00-16.00 WIB
|
MDT Takmiliyah
|
Kisah Inspiratif Hufadz
|
7
|
30/08/2019
|
Pkl. 14.00-16.00 WIB
|
MDT Takmiliyah
|
Perlombaan Hafalan
|
Laporan
2 dokumentasi kegiatan
1.
Ta’aruf
2.
Pengenalan Smart Tahfidz
3.
Motivasi Hufadz Al-Quran
4.
Storan Hafalan
5.
Perlombaan Tahfidz dan Perpisahan
6.
Peta
Desa Paseh Kaler Kec. Paseh Kab. Sumedang